PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan hingga kini belum ada kesepakatan gencatan senjata dengan Libanon, meskipun Amerika Serikat terus mengupayakan penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah.
Menurut laporan Anadolu yang mengutip lembaga penyiaran resmi Israel KAN pada Jumat, 5 Juni 2026, Netanyahu menyampaikan pernyataan tersebut saat membuka rapat Kabinet Keamanan Israel. Ia mengatakan pembahasan mengenai gencatan senjata masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan yang dapat dianggap final. “Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Libanon belum sepenuhnya dirumuskan dan belum lengkap,” kata Netanyahu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia menegaskan bahwa dari sudut pandang Israel, belum ada kesepakatan yang berlaku saat ini. Menurut dia, Hizbullah masih menolak syarat-syarat yang diajukan dalam perundingan. “Hizbullah menentangnya, dan karena itu, dari perspektif Israel, saat ini tidak ada kesepakatan,” ujar Netanyahu.
Masih Menunggu Persetujuan AS
Netanyahu mengatakan komunikasi dengan Amerika Serikat tetap diperlukan untuk melanjutkan pembahasan. Ia menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai mitra strategis Israel sehingga dialog dengan pihak-pihak terkait harus terus berjalan.
Pernyataan Netanyahu disampaikan sehari setelah Libanon, Israel, dan Amerika Serikat mengumumkan hasil pembicaraan di Washington. Dalam pernyataan bersama yang diumumkan pada Kamis, Beirut dan Tel Aviv disebut menyepakati penerapan gencatan senjata yang didasarkan pada penghentian penuh serangan Hizbullah serta penarikan seluruh anggotanya dari wilayah selatan Sungai Litani.
Presiden Libanon Joseph Aoun mengatakan Amerika Serikat akan menentukan waktu dan mekanisme pelaksanaan gencatan senjata tersebut. Menurut dia, penerapan kesepakatan dapat dimulai dalam waktu 24 jam setelah memperoleh persetujuan.
Namun, pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak hasil negosiasi langsung antara Libanon dan Israel. Penolakan itu membuat kesepakatan yang diumumkan sebelumnya belum dapat diterapkan.
Israel Siap Memperluas Perang
Dilansir TRT World, di tengah ketidakpastian proses diplomatik, Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir mengatakan pemerintah harus menentukan arah kebijakan pada fase berikutnya. Menurut dia, militer Israel siap memperluas operasi jika keputusan politik mengarah ke langkah tersebut.
“Angkatan bersenjata juga siap memperluas pertempuran jika hal itu diputuskan,” kata Zamir. Meski demikian, ia menilai gencatan senjata tetap lebih baik apabila dapat dicapai dengan syarat yang dapat diterima Israel. “Jika gencatan senjata dapat dicapai dengan syarat yang dapat kami terima, lebih baik itu terjadi hari ini daripada satu bulan lagi dengan kondisi yang sama,” ujarnya.
Menurut sumber Israel dan Amerika Serikat, syarat yang diajukan Israel mencakup demiliterisasi wilayah Libanon Selatan hingga Sungai Litani, mempertahankan zona keamanan yang saat ini dikuasai pasukan Israel, serta menjamin kebebasan bertindak terhadap apa yang disebut sebagai ancaman langsung.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel meningkatkan operasi militernya di Libanon dengan alasan Hizbullah melanggar gencatan senjata yang diumumkan pada 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli. Di sisi lain, Hizbullah terus melancarkan serangan roket dan pesawat nirawak terhadap pasukan Israel di Libanon Selatan serta wilayah utara Israel.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)

















