PLN Garap Proyek Listrik EBT 22,57 GW hingga Mei 2026

5 hours ago 1

PT PLN (Persero) mencatat kemajuan dalam pelaksanaan proyek pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) yang menjadi tulang punggung transisi energi nasional. Hingga Mei 2026, perseroan mengeksekusi proyek pembangkit EBT berkapasitas 22,57 gigawatt (GW).

Jumah itu setara 43 persen dari target bauran EBT yang ditetapkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan porsi EBT dalam RUPTL terbaru mencapai 76 persen atau setara 52,8 GW dari total tambahan kapasitas pembangkit yang direncanakan hingga 2034.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Hingga Mei 2026, PLN tengah mengeksekusi proyek listrik berbasis EBT sebesar 22,57 GW," kata Darmawan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut Darmawan, dalam satu tahun sejak RUPTL 2025-2034 diterbitkan, PLN telah menjalankan implementasi program Beyond the Greenest RUPTL dengan target pengembangan pembangkit EBT dan sistem penyimpanan energi (storage) mencapai 52,6 GW hingga 2034.

Dari total kapasitas tersebut, sebanyak 16,53 GW masih berada dalam tahap pengadaan, 5,26 GW telah memasuki tahap konstruksi, dan 0,78 GW atau 780 megawatt (MW) sudah mencapai commercial operation date (COD) atau mulai beroperasi.

Selain proyek yang telah memasuki tahap eksekusi, PLN juga mencatat proyek pembangkit EBT berkapasitas 30,24 GW telah masuk tahap studi dan kajian kelayakan. Darmawan mengatakan seluruh perkembangan proyek tersebut terus dipantau pemerintah melalui mekanisme pelaporan yang ketat untuk memastikan target transisi energi berjalan sesuai rencana.

Selain menjalankan program dalam RUPTL, PLN juga melaksanakan berbagai penugasan tambahan dari pemerintah seperti program listrik desa dan pengembangan kapasitas pembangkit baru berbasis energi bersih.

Dalam waktu dekat, kata Darmawan, pemerintah akan meluncurkan tahap pertama program quick wins energi terbarukan yang mencakup pembangunan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) berkapasitas 39 gigawatt hour (GWh) dan pembangkit energi terbarukan berkapasitas 17 gigawatt peak (GWp).

Menurut Darmawan, program tersebut bisa membantu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini digunakan untuk pembangkit listrik, sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi domestik dan energi terbarukan.

"Melalui program ini, penggunaan energi impor dapat digantikan oleh energi domestik, sekaligus mendorong peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan," ujarnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |