Tabrakan Kereta Bekasi, Masinis dan Petugas PT KAI Diperiksa

5 hours ago 3

KEPOLISIAN Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya memeriksa tujuh saksi atas insiden tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Peristiwa itu menewaskan 16 orang dari gerbong perempuan yang terletak di ujung belakang kereta.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan pemeriksaan itu dilaksanakan di Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api atau Pusdalopska 1 wilayah Manggarai pada Kamis, 30 April 2026. Mereka yang diperiksa yakni pertama, Kepala Pusat Pengendalian; kedua, Pengatur Perjalanan Kereta Api atau PPKA; lalu, ketiga petugas sinyal

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kemudian, keempat masinis KRL; kelima masinis Argo Bromo Anggrek; dan yang ketujuh pengendali. “Pemeriksaan tujuh petugas kereta api itu bertujuan untuk mendalami dugaan kelalaian manusia dalam peristiwa kecelakaan itu,” ujar Budi seperti dikutip dari keterangan tertulis pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Tabrakan antarkereta terjadi di perlintasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 20.57 WIB. Saat itu, KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Insiden bermula ketika sebuah taksi online Green SM mengalami korsleting listrik di tengah perlintasan kereta, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Polri Komisaris Sandhi Wiedyanoe mengatakan peristiwa itu memicu tabrakan awal di jalur. 

“Terjadilah tabrakan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan tersebut,” ujar Sandhi.

Akibat insiden itu, perjalanan KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Nahas, pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang di jalur yang sama. “Kecepatan 110 kilometer per jam,” kata Sandhi.

Badan KA Argo Bromo Anggrek menembus badan KRL hingga membelah gerbong khusus wanita. Puluhan penumpang yang berada di dalam gerbong itu menjadi korban setelah terhimpit badan kereta.

Polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan polisi masih terus mendalami keterangan dari sejumlah saksi lain, termasuk sopir taksi Green SM berinisial RRP. Menurut dia, saat insiden terjadi, sopir baru bekerja selama dua hari. Dia juga baru menerima pelatihan dasar soal pengenalan kendaraan listrik.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |