BAND rock and roll asal Jakarta, Slank, merilis album penuh studio ke-26 bertajuk Repulik Fufufafa. Bimbim dan kawan-kawan terlebih dahulu melepas dua lagu berjudul “Republik Fufufafa” dan “PPN 12%” beserta video musiknya yang telah diunggah ke akun resmi YouTube mereka.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Perilisan album pada Jumat, 5 Juni 2026 dipilih karena bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Sebanyak 10 lagu dalam album baru yakni "Republik Fufufafa", "Rusak Ancur", "Rakus", Di Dekatmu", dan "My Rinduku". Ada pula lagu "Papa Sid", "PPN 12%", "Bunga Rindu", "Buka Baju", dan "Ku Tak Mungkin".
Dalam album terbarunya, Slank mengeksplorasi tema utama perihal cinta, lingkungan, isu sosial, dan kehidupan anak muda. “Slank masih menyelipkan kritik sosial dalam beberapa lagu, salah satunya 'Jangan Rakus',” kata Bimbim di Markas Potlot, Jakarta Selatan, Jumat, 5 Juni 2026.
Terinspirasi dari Kondisi Negeri
Bimbim Slank menuturkan beberapa nomor dari Republik Fufufafa terinspirasi dari kejadian nyata perihal kondisi negeri yang tertuang dalam berita. “Semua adalah berita yang ada kemudian kami jadikan lagu. Karena kata 'Republik Fufufafa' seksi banget bagi kami makanya dijadikan judul album juga,” tuturnya.
Misalnya dalam lagu “PPN 12%”, Bimbim mengatakan dirinya menyoroti kondisi Indonesia yang dianggap pemerintah kekurangan dana untuk membangun negara. “Sebenarnya judi, narkoba, dan prostitusi itu besar banget perputaran uangnya kalau di berita, dan banyak oknum bermain di sana,” kata dia. Ia mengatakan lagu itu untuk membuka mata masyarakat perihal sisi gelap negara.
Grup band asal Jakarta, Slank, menceritakan proses kreatif di balik penggarapan album terbaru mereka yang bertajuk Republik Fufufafa saat ditemui di Jalan Potlot, Jakarta, 5 Juni 2026. Tempo/Bagus Pribadi
Vokalis Kaka menuturkan narasi dalam lagu-lagu di album Republik Fufufafa bukan sekadar dibuat-buat melainkan cerminan dari persitiwa yang terjadi hari ini. “Kami tak tahu siapa sebenarnya Fufufafa tapi kami punya nada kosong yang harus diisi dengan lirik. Ketika kami baca koran baru bikin lirik dari situ. Kebanyakan lagu di album baru ini seperti begitulah kami buatnya,” ujarnya.
Penggunaan AI pada Video Musik
Band yang beranggotakan Bimbim, Kaka, Ridho, Ivan, dan Abdee itu juga menggunakan Artificial Intelligence (AI) yang digabung dengan video rekaman asli dalam pembuatan video musik “Rusak Ancur”. Lagu itu sendiri merupakan kritik Slank terhadap eksploitasi alam oleh kapital dan negara. “AI adalah teknologi yang kami anggap sesuatu mainan baru. Slank tak takut sama perubahan dan teknologi justru saya berpikir AI ini budak baru bagi kami,” kata Bimbim.
Bimbim mengatakan AI hanya bisa bekerja sesuai dengan kehendak manusia ingin menciptakan bentuk karya seperti apa saja. “Ini istilahnya budak-budak teknologi yang harusnya jangan dimusuhin tapi pergunakan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Upaya Menjangkau Pendengar Gen Z
Bimbim sendiri menyadari usia band yang tak muda lagi harus tetap berhubungan dengan pendengar zaman sekarang. Ia menyaksikan seiring perkembangan zaman, anak-anak muda yang bermain band dan menongkrong di Potlot juga banyak dari kalangan Gen Z dan memahami media sosial. “Makanya kami juga menggunakan algoritma terutama di TikTok untuk menyebarkan musik Slank ke Gen Z bahkan Gen Alpha,” katanya.
Menurut dia, anak muda saat ini sedang menggemari budaya eksplor musik-musik lawas hingga tahun 1990-an. “Misalnya tiba-tiba Poppies Lane Memory ramai di kalangan Gen Z bahkan mereka sing along. Itu terjadi karena semangatnya Gen Z ini,” ujar Bimbim.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)

















