BRIN Temukan 5 Jenis Logam Berat di Sedimen Teluk Jakarta

2 hours ago 5

PENELITIAN terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan lima jenis logam berat mencemari sedimen laut Teluk Jakarta. Kelimanya adalah seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd). Secara umum, konsentrasi logam tersebut ditemukan lebih tinggi di wilayah pesisir yang berdekatan dengan daratan, kawasan padat penduduk, serta area industri. 

Peneliti di Pusat Riset Oseanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani, mengatakan timnya menganalisis menggunakan beberapa indeks lingkungan seperti Enrichment Factor (EF), Geoaccumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Pollution Load Index (PLI). Hasilnya diketahui bahwa seng (Zn) merupakan salah satu logam pencemar yang dominan di Teluk Jakarta. Selain itu, kadar beberapa logam seperti Pb dan Cu di sejumlah lokasi juga telah melebihi ambang batas menurut standar internasional. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, terutama bagi organisme dasar perairan (bentik) yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen,” ucap Idha melalui keterangan tertulis, Ahad, 11 April 2026.

Idha menerangkan bahwa perairan Teluk Jakarta mengalami tekanan lingkungan yang signifikan akibat aktivitas antropogenik. Teluk Jakarta memang merupakan salah satu kawasan pesisir terpenting di Indonesia, baik dari sisi ekonomi, transportasi, perikanan, maupun pemukiman. "Pesatnya urbanisasi dan industrialisasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah memberikan tekanan besar terhadap kualitas lingkungannya,” katanya.

Menurut dia, salah satu indikator tekanan tersebut adalah pencemaran logam berat pada sedimen dasar laut. Sedimen berperan sebagai penyimpan berbagai polutan yang masuk ke perairan. Logam berat yang terbawa dari sungai berasal dari  limbah domestik, limbah industri, dan aktivitas pelabuhan. Seluruhnya cenderung mengendap dan terakumulasi di dasar perairan. "Karena sifatnya yang sulit terurai, sedimen tercemar dapat menjadi sumber pencemaran jangka panjang dan sewaktu-waktu melepaskan kembali logam berat ke kolom air."

Lestari, kolega Idha di pusat riset yang sama, menilai tingkat risiko kandungan logam berat itu menggunakan metode Risk Assessment Code (RAC). Metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar logam berada dalam bentuk yang mudah terlepas ke lingkungan dan berpotensi masuk ke rantai makanan.

Hasilnya menunjukkan bahwa Zn di hampir seluruh stasiun pengamatan memiliki potensi tinggi terserap oleh organisme laut dan masuk ke rantai makanan. Sedangkan Cu dan Pb berada dalam bentuk yang lebih stabil dalam sedimen, sehingga risikonya relatif lebih rendah. 

“Logam berat yang terserap dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, terutama kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya," tuturnya. "Jika organisme tersebut dikonsumsi manusia secara terus-menerus, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang.”

Peneliti di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Rachma Puspitasari, menunjukkan adanya potensi risiko non-karsinogenik bagi manusia, terutama akibat akumulasi kadmium (Cd) dalam jaringan kerang hijau. “Karena itu, pencemaran logam berat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut,” katanya.

Menurut Rachma, penanganan pencemaran Teluk Jakarta memerlukan langkah terpadu dari hulu hingga hilir. Dia merujuk kepada pengendalian limbah industri, peningkatan sistem pengolahan air limbah domestik, pengawasan kualitas sungai yang bermuara ke teluk, pemantauan rutin cemaran pada sedimen dan biota laut, edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan pesisir serta pengaturan konsumsi hasil laut.

"Dengan upaya berkelanjutan, kualitas lingkungan Teluk Jakarta diharapkan dapat membaik sehingga tetap mendukung ekosistem laut yang sehat dan sumber pangan yang aman bagi masyarakat," katanya menambahkan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |