Bulan Syawal Apakah Baik untuk Menikah? Simak Penjelasan Ulama

9 hours ago 4
  • Apakah bulan Syawal baik untuk menikah?
  • Mengapa ada mitos bahwa Syawal tidak baik untuk menikah?
  • Apakah pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah RA di bulan Syawal memiliki makna khusus?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Tak dipungkiri, masih banyak keluarga muslim dan bahkan calon pengantin yang bertanya-tanya, apakah bulan Syawal apakah baik untuk menikah? Pertanyaan ini wajar mengingat berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat, yang berakar dari zaman jahiliyah.

Kepercayaan tradisional ini meyakini bahwa pernikahan yang dilangsungkan pada bulan ini berpotensi memicu ketidakharmonisan atau nasib buruk bagi pasangan, sehingga kerap menimbulkan keraguan. Mitos dan takhayul ini masih berkembang di tengah masyarakat sehingga membuat banyak keluarga ragu.

Padahal, secara faktual, anggapan tersebut tak memiliki dasar yang valid. Justru, catatan sejarah menunjukkan bahwa pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Aisyah RA di bulan ini dilakukan untuk menepis mitos kesialan di era Jahiliyah.

Merujuk Dirayah: Jurnal Ilmu Hadis: Analisis Hadis Tematik Tanggal dan Cantik dan Waktu Baik dalam Melaksanakan Pernikahan, Ebook 30 Inspirasi Ibadah Syawal, Qur'an Pro Academy dan Buku Amalan setelah Ramadhan, karya Sukamto, berikut ini adalah penjelasan lengkap untuk menjawab keraguan tersebut.

Bulan Syawal Waktu Baik Pernikahan

Para ulama meyakini, bulan Syawal adalah waktu yang baik untuk melaksanakan pernikahan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah RA pada bulan tersebut. Meskipun para ulama berbeda pendapat apakah pernikahan di bulan Syawal termasuk sunnah atau sekadar pembatalan keyakinan Jahiliyah, yang jelas tidak ada larangan sama sekali untuk menikah di bulan ini.

Perlu dipahami, sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki keyakinan tertentu terkait bulan Syawal. Mereka menganggap bulan ini sebagai bulan yang tidak baik untuk melaksanakan pernikahan. Keyakinan ini didasarkan pada pemaknaan nama “Syawal” yang berasal dari akar kata syala yang berarti musnah, hilang, atau lenyap. Mereka meyakini bahwa bulan Syawal adalah bulan yang melenyapkan harta dan kenikmatan.

Selain itu, di bulan ini pula tha’in (penyakit menular) sering terjadi di zaman dahulu, sehingga semakin memperkuat kebencian mereka terhadap bulan Syawal. Keyakinan semacam ini termasuk dalam kategori tathayyur (menganggap sial sesuatu) yang dilarang keras dalam Islam.

Umat Islam tidak boleh meyakini adanya hari atau bulan sial. Keyakinan semacam ini adalah warisan Jahiliyah yang telah dibatalkan oleh Rasulullah SAW melalui pernikahan beliau dengan Aisyah RA. Menikah di bulan Syawal justru menjadi bentuk syiar Islam dan pengamalan sunnah.

Hadis Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah di Bulan Syawal

Untuk membantah keyakinan keliru tersebut, Rasulullah SAW justru mencontohkan pernikahan beliau dengan Aisyah RA pada bulan Syawal. Hal ini diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis, di antaranya Shahih Muslim dan Sunan At-Tirmidzi.

1. Riwayat Shahih Muslim

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ – وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ – قَالاَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟ قَالَتْ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ

“Dari Aisyah, beliau berkata: Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, dan mengumpuliku (membina rumah tangga) di bulan Syawal. Maka istri-istri Rasulullah SAW mana yang lebih beruntung di sisi beliau daripadaku? Aisyah berkata: Aku suka menikahkan perempuan-perempuan (keluargaku) di bulan Syawal.” (HR. Muslim).

2. Riwayat Sunan At-Tirmidzi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ. وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ يُدْخِلَ بِنِسَائِهَا فِي شَوَّالٍ

“Dari Aisyah, beliau berkata: Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, dan membina rumah tangga denganku di bulan Syawal. Aisyah berkata: Aku suka menikahkan perempuan-perempuan (keluargaku) di bulan Syawal.” (HR. Tirmidzi)

Selain Imam Muslim dan At-Tirmidzi, hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i dengan lafaz yang sedikit berbeda, seperti penggunaan kata tuhibbu (suka) dalam Musnad Ahmad.

Pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah RA di Bulan Syawal

Pernikahan Aisyah RA dengan Rasulullah SAW menjadi salah satu episode penting dalam sejarah Islam. Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq dinikahi Rasulullah SAW ketika usianya masih relatif muda.

Pernikahan ini berlangsung pada bulan Syawal, dan setelah beberapa waktu, Rasulullah SAW kemudian membangun rumah tangga (mengumpuli) dengan Aisyah juga pada bulan Syawal.

Aisyah RA dengan bangga menyebutkan bahwa pernikahannya di bulan Syawal menjadi bukti bahwa bulan ini bukanlah bulan sial atau terlarang. Beliau bahkan menekankan keutamaan ini dengan menyatakan bahwa tidak ada istri Rasulullah yang lebih beruntung darinya. Pernyataan ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi menjadi dalil bahwa menikah di bulan Syawal adalah sesuatu yang baik dan penuh keberkahan.

Dalam riwayat yang ada, Aisyah RA juga menyebutkan bahwa beliau gemar menikahkan keluarganya (perempuan-perempuan yang berada di bawah perwaliannya) pada bulan Syawal. Hal ini menunjukkan bahwa beliau mengamalkan apa yang beliau yakini, dan menjadikan bulan Syawal sebagai waktu yang istimewa untuk pernikahan.

Pandangan Ulama tentang Menikah di Bulan Syawal

Para ulama memiliki pandangan yang beragam dalam menyikapi hadis pernikahan di bulan Syawal. Secara garis besar, terdapat dua pendapat utama.

1. Pendapat yang Menyatakan Sunnah

Imam Nawawi dan As-Syaukani berpendapat bahwa hadis ini memberikan isyarat bahwa menikah di bulan Syawal hukumnya sunnah. Argumentasi mereka didasarkan pada keyakinan bahwa tidak mungkin Rasulullah SAW melaksanakan pernikahan kecuali beliau mengetahui kekhususan dan keberkahan bulan tersebut. Dengan demikian, menikah di bulan Syawal dianjurkan karena memiliki keutamaan tersendiri.

Pendapat ini juga diperkuat oleh praktik Aisyah RA yang gemar menikahkan keluarganya di bulan Syawal. Sebagai istri Rasulullah yang paling dicintai dan memiliki pemahaman agama yang mendalam, tindakan Aisyah RA menjadi dalil tambahan bahwa bulan Syawal adalah waktu yang baik untuk pernikahan.

2. Pendapat yang Menyatakan Bukan Kesunnahan

  • Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk mensunnahkan menikah di bulan Syawal. Argumentasi mereka adalah sebagai berikut:
  • Hukum syar’i membutuhkan dalil yang jelas untuk menetapkan suatu hukum. Hadis tentang pernikahan Aisyah di bulan Syawal tidak secara eksplisit menyatakan perintah atau anjuran untuk menikah di bulan tersebut. Hadis ini lebih bertujuan untuk membantah keyakinan Jahiliyah yang menganggap Syawal sebagai bulan sial.
  • Rasulullah SAW menikahi istri-istri beliau yang lain di waktu yang berbeda-beda. Jika pernikahan di bulan Syawal dianggap sunnah, maka seharusnya waktu-waktu pernikahan beliau dengan istri-istri yang lain juga disunnahkan. Hal ini tentu tidak mungkin karena akan menimbulkan banyak waktu yang dianggap sunnah untuk menikah.

Imam Al-Buwaithi dalam Mursyid Dzawi Al-Hujjah wa Al-Hajah ila Sunan Ibn Majah menyatakan bahwa mensunnahkan menikah di bulan Syawal berdasarkan hadis di atas tidak bisa diterima, mengingat tujuan hadis tersebut adalah untuk membatalkan keyakinan Jahiliyah, bukan menunjukkan kesunnahan waktu menikah.

Hikmah Pernikahan di Bulan Syawal

1. Membantah Keyakinan Keliru tentang Hari Sial

Salah satu pesan utama dari hadis pernikahan Aisyah RA adalah pembatalan keyakinan Jahiliyah yang menganggap bulan Syawal sebagai bulan sial. Islam mengajarkan bahwa semua hari, bulan, dan waktu adalah ciptaan Allah, dan tidak ada satu pun yang membawa sial. Keyakinan bahwa sesuatu membawa sial adalah perbuatan syirik kecil yang harus dijauhi.

2. Menjadikan Bulan Syawal sebagai Momentum Berkah

Bulan Syawal adalah bulan yang penuh keberkahan. Di bulan ini, umat Islam merayakan Idul Fitri setelah sebulan berpuasa. Pernikahan di bulan Syawal menjadi simbol bahwa kebaikan tidak berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut ke bulan-bulan berikutnya.

3. Mengikuti Jejak Rasulullah dan Para Sahabat

Menikah di bulan Syawal berarti mengikuti jejak Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah RA pada bulan tersebut. Hal ini menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah dan keinginan untuk meneladani sunnah beliau.

4. Memberikan Makna Positif pada Waktu

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir positif (husnudzan) terhadap segala sesuatu, termasuk waktu. Tidak ada waktu yang membawa kesialan, yang ada hanyalah ketentuan Allah yang terbaik bagi hamba-Nya.

People also Ask:

Apakah Syawal bagus untuk menikah?

Ya, bulan Syawal sangat baik untuk menikah dan dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal, menjadikannya sunnah untuk meneladani beliau, sekaligus mematahkan mitos jahiliyah yang menganggap bulan ini sial. Pernikahan di bulan Syawal juga melambangkan kemenangan, kebahagiaan, dan berkah setelah Ramadan.

Kenapa bulan Syawal banyak yang menikah?

Selain itu, ada alasan lain mengapa pernikahan di bulan Syawal begitu istimewa, yaitu karena bulan ini adalah Idul Fitri yang juga merupakan hari berkumpulnya umat Islam. Pernikahan adalah salah satu kegiatan yang baik untuk membangun persahabatan.

Bulan apa yang tidak cocok untuk pernikahan?

Chaturmas (Periode Empat Bulan) – Masa ibadah keagamaan di mana pernikahan tidak dianjurkan. Shraadha (Pitru Paksha) – Periode untuk menghormati leluhur, yang dianggap tidak menguntungkan untuk awal yang baru. Adhik Maas (Bulan Lunar Tambahan) – Bulan tambahan ini terjadi setiap 2-3 tahun sekali dan tidak ideal untuk pernikahan.

Rasulullah menikah di bulan Syawal.?

Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah RA pada bulan Syawal, sehingga menjadi contoh bagi umat Muslim. Pernikahan ini menunjukkan bahwa Syawal bukanlah bulan yang harus dihindari untuk melangsungkan pernikahan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |