Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mengakibatkan "bencana" pangan global. Hal ini menurut FAO karena pengiriman input pertanian penting tetap terblokir di jalur air utama tersebut akibat perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.
Harga pangan belum naik karena stok yang ada mampu menyerap guncangan tersebut, kata kepala ekonom badan PBB tersebut, Maximo Torero, dalam sebuah wawancara pada Senin, bersama dengan David Laborde, direktur divisi ekonomi agribisnis FAO seperti dilansir Aljazeera.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Namun, jika lalu lintas melalui selat tersebut tidak kembali normal, guncangan pada pasar energi dan pupuk akan berdampak pada kenaikan harga komoditas dan harga ritel di akhir tahun ini dan hingga tahun 2027, Laborde menambahkan.
Ekspor 20 hingga 45 persen input agribisnis utama bergantung pada jalur laut melalui Selat Hormuz, menurut FAO.
“Kita sedang mengalami krisis input; kita tidak ingin menjadikannya bencana,” kata Laborde. “Perbedaannya bergantung pada tindakan yang kita ambil.”
“Saat ini, kita tidak mengalami krisis pangan karena kita memiliki ketersediaan pangan,” tambah Torero, seraya mencatat bahwa kenaikan harga gas dan minyak belum berdampak pada kenaikan biaya roti dan gandum, misalnya, berkat pasokan yang melimpah dari musim panen yang baik.
“Tapi ini adalah situasi saat ini,” kata ekonom tersebut.
Pupuk
Hampir setengah dari urea yang diperdagangkan di dunia – pupuk yang paling banyak digunakan – dan sejumlah besar pupuk lainnya diekspor dari negara-negara Teluk melalui Selat Hormuz. Akibatnya, pertanian global sangat rentan terhadap gangguan apa pun di sana.
Gangguan baru-baru ini terhadap pasokan gas dan pengiriman telah memaksa pabrik pupuk, yang menggunakan gas alam untuk memproduksi pupuk, di Teluk dan sekitarnya untuk tutup atau mengurangi produksinya.
Jika lalu lintas terus terhenti di titik kemacetan, petani akan terpaksa berproduksi dengan pupuk yang lebih sedikit atau meningkatkan biaya produk mereka, kata Torero.
“Inilah mengapa sangat penting agar gencatan senjata terus berlanjut dan sangat penting agar bukan hanya gencatan senjata, tetapi juga agar kapal-kapal mulai bergerak,” katanya. “Waktu terus berjalan.”
Torero menambahkan bahwa negara-negara miskin paling rentan. Sebab, mundurnya kalender penanaman berarti penundaan akses ke input utama dapat dengan cepat menyebabkan penurunan produksi, inflasi yang lebih tinggi, dan pertumbuhan global yang lebih lambat.
Iran telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas melalui selat tersebut sebagai respons terhadap serangan dari Amerika Serikat dan Israel, yang melancarkan perang terhadap Teheran pada 28 Februari. Serangan tanpa alasan jelas ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan lebih dari 1.400 warga Iran lain.
Langkah ini telah memicu krisis energi global, yang terkadang menyebabkan harga minyak dan gas melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat sebelum perang.
Selama akhir pekan, perwakilan Iran dan AS mengadakan negosiasi maraton selama 21 jam untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen, tetapi gagal mencapai terobosan.
Lantas, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk memberlakukan blokade angkatan laut di selat tersebut. Ia mengatakan angkatan laut akan memburu dan mencegat kapal-kapal di perairan internasional yang telah membayar Iran biaya untuk melintasi selat tersebut.
Kemudian, militer AS mengatakan akan memblokir semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, termasuk yang berada di Teluk Persia dan Teluk Oman.




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448205/original/085550400_1766022443-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-18T084617.730.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5154231/original/041919200_1741337635-20250307-Tadarus-ANG_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450038/original/011940800_1766126206-Gemini_Generated_Image_n0zy6on0zy6on0zy.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360668/original/038739700_1611729329-abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4199341/original/055639700_1666344669-bacaan-doa-untuk-orang-meninggal-latin-dan-artinya.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2559362/original/076937200_1546315450-20190101-Kembang-Api-Ancol-5.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/755908/original/073849700_1414158415-x6.jpg)
