Gempa Embusan Gunung Anak Krakatau Semakin Meningkat

4 hours ago 2

INTENSITAS gempa embusan Gunung Anak Krakatau semakin meningkat sejak 26 Juni 2026. Peningkatan gempa embusan disertai asap kelabu dari kawah mengarah ke barat – barat laut. Asap kelabu dengan muatan abu vulkanik tipis tersebut terdeteksi satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia.  

Gempa embusan biasa mengindikasikan peningkatan magmatisme di permukaan dari sebuah gunung api. Menurut pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria, kondisi tersebut bisa menjadi gejala peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau menuju erupsi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Jika terjadi erupsi maka potensi ancaman bahaya berasal dari awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat,” kata Lana dalam keterangannya pada Sabtu, 27 Juni 2026. Hingga saat ini peningkatan gempa itu belum sampai mengubah status atau aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih ditetapkan pada Level II atau Waspada.

Sejak 1 Juni, satelit Sentinel memperlihatkan adanya emisi gas sulfur dioksida (SO2) dan anomali panas dari kawah gunung api yang berlokasi di perairan Selat Sunda itu. Sejak 10 Juni, terpantau munculnya titik api di kawah. Bersamaan dengan itu muncul asap dari kawah dengan intensitas cukup tinggi, dan peningkatan jumlah gempa yang berasosiasi dengan gempa dangkal secara signifikan. 

Pada 18 dan 19 Juni, gempa dangkal itu sempat meningkat drastis dengan rata-rata kejadian lebih dari 50 kali per hari. Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa-gempa dalam dan deformasi, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunung Anak Krakatau di bagian permukaan.

Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pengamatan gunung itu dilakukan melalui dua pos pengamatan di Kalianda, Lampung dan Pasauran, Banten.  

Pada 1883 letusan besar Gunung Krakatau menghasilkan tsunami.  Sementara pada 22 Desember 2018 erupsi Anak Krakatau mengakibatkan longsoran pada sebagian tubuh gunung hingga menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda. Setelah peristiwa itu, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. 

Jeda erupsi menurut Lana masih berlangsung hingga saat ini. Namun demikian, Gunung Anak Krakatau terus memperlihatkan aktivitas magmatik berenergi rendah. Masyarakat baik itu pengunjung, wisatawan, atau pendaki dilarang memasuki dan berkegiatan di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |