Pembredelan Media Dulu dan Kini, Apa Bedanya?

3 hours ago 4

DIREKTUR Utama Tempo Media Group, Arif Zulkifli alias Azul, menilai tekanan terhadap media massa saat ini tidak jauh berbeda dengan era Orde Baru. Perbedaannya hanya pada cara, tetapi tujuannya sama: membatasi kebebasan pers.

Menurut dia, jika pada masa Orde Baru tekanan dilakukan secara terbuka melalui pembredelan atau pencabutan izin terbit, kini bentuknya lebih terselubung, seperti serangan digital dan doxing terhadap jurnalis maupun media.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Seperti doxing terhadap wartawan dan media. Sampai hari ini kami masih berjuang melawannya,” ujar Azul dalam diskusi “Ngopi Media Talks: Beredel, Dulu dan Kini” di Studio TV Tempo, Jakarta Selatan, Senin, 22 Juni 2026.

Mantan Pemimpin Redaksi Tempo periode 2013–2019 itu juga menyoroti tekanan yang datang melalui pemilik media. Menurut dia, tekanan semacam ini berpotensi mengganggu independensi ruang redaksi.

“Independensi bisa terpengaruh dengan berbagai ancaman, misalnya bisnis lain diganggu,” kata dia.

Pemimpin Redaksi Tempo saat ini, Setri Yasra, menambahkan bahwa bentuk pembredelan modern kerap muncul dalam wujud serangan digital yang sulit dilacak pelakunya.

Ia mencontohkan pengalaman Tempo yang beberapa kali melaporkan serangan terhadap situs mereka ke kepolisian, namun hingga kini belum ada pengungkapan pelaku.

“Serangan digital terhadap Tempo terjadi hampir setiap hari. Bahkan tiga jam lalu situs kami terkena serangan DDoS,” ujar Setri.

Menurut dia, intensitas serangan meningkat dalam lima tahun terakhir. Ia menilai ada upaya sistematis untuk menimbulkan rasa takut di ruang redaksi.

Selain serangan digital, tekanan juga datang melalui jalur hukum. Setri menyebut Tempo pernah digugat ke pengadilan oleh pihak yang tidak menerima putusan Dewan Pers terkait sengketa pemberitaan. Namun, gugatan tersebut akhirnya ditolak pengadilan.

Meski demikian, Setri menegaskan redaksi Tempo tidak akan gentar. Ia memastikan kerja jurnalistik tetap berpegang pada verifikasi dan fakta di lapangan, tanpa memandang siapa pun pihak yang terlibat.

“Siapa pun, entah presiden, politikus, atau pihak lain, akan kami beritakan berdasarkan fakta,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemberitaan Tempo tidak berpihak pada kepentingan tertentu.

“Kami bekerja secara profesional dan tanpa tendensi,” kata Setri.

Diskusi “Media Talks: Beredel, Dulu dan Kini” digelar untuk memperingati perlawanan terhadap pembredelan Majalah Tempo, Editor, dan Detik oleh pemerintah pada 21 Juni 1994.

Selain Azul dan Setri, acara ini juga menghadirkan mantan Pemimpin Redaksi Tempo Bambang Harymurti, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, Direktur Eksekutif SAFEnet Nenden Sekar Arum, serta Co-founder Malaka Project Cania Citta.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |