Sejumlah Calon Manajer Kopdes yang Ikut Latsarmil Idap Asma dan Hipertensi

6 hours ago 4

SEJUMLAH peserta Pendidikan dan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih tercatat memiliki riwayat penyakit asma dan hipertensi. Temuan itu diperoleh setelah satuan pendidikan melakukan pemeriksaan ulang kesehatan peserta menjelang pelatihan.

Komandan Batalyon Latihan SPPI di Brigade Infanteri 1 Marinir Cilandak, Letnan Kolonel Marinir Agus Mutaqin, mengatakan pendataan ulang dilakukan terhadap seluruh peserta yang diterima di satuannya. Dari proses tersebut, pelatih menemukan sejumlah peserta dengan riwayat penyakit tertentu, mulai dari asma, hipertensi, hingga pascapatah tulang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kalau yang kami terima di sini ada asma, hipertensi, pascapatah tulang,” kata Agus saat ditemui Tempo di Brigif 1 Marinir, Jakarta Selatan, Kamis, 25 Juni 2026.

Total 674 calon pengelola koperasi mengikuti Latsarmil di Brigif 1 Marinir. Menurut Agus, seluruh peserta sebelumnya telah dinyatakan lolos seleksi kesehatan yang dilakukan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan. Namun satuannya tetap melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengantisipasi risiko kesehatan selama pelatihan.

Pemeriksaan tersebut dilakukan saat registrasi peserta pada 14-16 Juni 2026. Meski belum berupa medical check up (MCU) menyeluruh, pelatih melakukan pengecekan tekanan darah serta wawancara mengenai riwayat kesehatan masing-masing peserta.

“Kami cek tensinya. Kemudian kami wawancara terkait riwayat sakitnya. Kami minta juga bukti pemeriksaan terakhir atau surat dokter,” ujar Agus.

Dia menguraikan, peserta yang diketahui memiliki riwayat penyakit tertentu kemudian diberi penanda berupa pita putih yang dikenakan di lengan kanan atas. Penanda itu digunakan agar pelatih dapat dengan mudah mengidentifikasi peserta yang membutuhkan perhatian khusus selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, mereka juga dipisahkan dalam kelompok tersendiri dan tidak diwajibkan mengikuti kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik berat. “Data-data yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kami pisahkan sampai tingkat peleton dan kompi. Kegiatan yang berkaitan dengan fisik tidak kami ikutkan,” kata Agus.

Lebih lanjut, Agus menyoroti peristiwa meninggalnya tiga calon manajer yang saat menjalani latihan. Kata dia, berkaca dari insiden tersebut, Brigif 1 Marinir menyiapkan mekanisme penanganan kesehatan berlapis selama pelatihan berlangsung. 

Peserta yang mengalami gangguan kesehatan diwajibkan melapor kepada komandan peleton sebelum diteruskan ke tingkat kompi dan batalyon latihan. Selain itu, ambulans dan tenaga kesehatan juga disiagakan selama 24 jam di lokasi pendidikan. 

Apabila kondisi peserta tidak dapat ditangani oleh fasilitas kesehatan yang tersedia di satuan, peserta akan segera dirujuk ke Rumah Sakit Marinir Cilandak. “Setiap saat ambulans dan tenaga kesehatan siap. Kalau tidak mampu ditangani di sini, langsung kami rujuk ke rumah sakit,” katanya.

Sebelumnya, sorotan terhadap pelaksanaan latihan dasar militer ini menguat setelah tiga calon manajer Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih meninggal saat mengikuti pendidikan dasar militer komponen cadangan. Ketiganya adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Ketiga peserta  tersebut meninggal setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan. Novia yang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia tercatat memiliki riwayat tuberkulosis atau TBC. 

Sementara itu, Anisa meninggal pada 18 Juni 2026 setelah mengalami heat stroke saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun Yonanda dinyatakan wafat akibat cardiac arrest atau henti jantung pada 17 Juni 2026 ketika mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Tak hanya itu, sejumlah ibu hamil juga dikabarkan mengikuti kegiatan latihan militer tersebut. Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Kementerian Koperasi Destry Anna Sari mengatakan pihaknya masih memverifikasi jumlah peserta yang tengah mengandung guna memutuskan langkah ke depan. 

“Terkait informasi mengenai peserta yang sedang hamil, hal tersebut menjadi salah satu aspek yang turut menjadi perhatian dalam proses evaluasi yang sedang dilakukan oleh Panitia Seleksi Nasional,” ujar dia melalui pesan tertulis pada Kamis, 25 Juni 2026.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |