Bagai Bintang Jatuh, Hujan Meteor Lyrid Capai Puncak Rabu

3 hours ago 3

FENOMENA hujan meteor Lyrid akan mencapai puncaknya pada Rabu, 22 April 2026, dengan kondisi langit yang relatif gelap tanpa gangguan cahaya bulan. Fenomena ini menjadi salah satu peristiwa langit paling dinanti pada musim semi.

Sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat, Lyrid menawarkan kesempatan bagi pengamat untuk menyaksikan “bintang jatuh”—dan kemungkinan “bola api terang”—di langit malam yang gelap.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Fenomena ini berlangsung sejak 14 hingga 30 April, namun intensitas tertingginya diperkirakan terjadi pada 22 April. Pada periode puncak tersebut, jumlah meteor yang terlihat diperkirakan mencapai sekitar 10 hingga 20 per jam, sehingga membuka peluang pengamatan baik sebelum fajar maupun setelah matahari terbenam.

Kondisi terbaik diperkirakan terjadi pada dini hari, terutama sekitar pukul 05.00 pagi, saat titik radian di rasi Lyra berada lebih tinggi di langit. Posisi bulan juga mendukung pengamatan, karena fase bulan sabit membuatnya terbenam sebelum matahari terbit dan tidak banyak mengganggu visibilitas.

Meski tidak seintens hujan meteor Perseid pada Agustus atau Geminid pada Desember, Lyrid dikenal menghasilkan meteor cepat dan terang yang kerap meninggalkan jejak cahaya. Dalam beberapa kasus, fenomena ini juga dapat mengalami lonjakan aktivitas.

“Hingga 100 meteor Lyrid per jam pernah dilaporkan pada tahun 1803, 1922, 1945, dan 1982,” menurut NASA, meski lonjakan seperti ini jarang terjadi dan sulit diprediksi.

Menurut laporan Live Science, hujan meteor ini berasal dari sisa debu dan puing komet C/1861 G1 (Thatcher) yang mengorbit Matahari setiap 415,5 tahun. Ketika Bumi melintasi jalur puing tersebut, partikel-partikel akan terbakar di atmosfer dan tampak sebagai “bintang jatuh” di langit malam.

Untuk mendapatkan peluang terbaik, pengamatan disarankan dilakukan di lokasi yang minim polusi cahaya dengan kondisi cuaca cerah. Pengamat juga perlu memberi waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan, karena meteor dapat muncul secara acak di berbagai bagian langit.

Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang, meski diperlukan peralatan tambahan bagi yang ingin mengabadikannya melalui fotografi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |