Bea Cukai Antisipasi Virus Hanta dari Barang Impor

7 hours ago 2

DIREKTORAT Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan berkoordinasi dengan Karantina Kesehatan dan Badan Karantina Indonesia (Barantin) untuk mencegah potensi penyebaran virus Hanta di Indonesia. Kerja sama itu dilakukan guna mendeteksi indikasi virus rodensial pada barang impor yang masuk ke wilayah Indonesia.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto, mengatakan pihaknya telah menjalin koordinasi dengan Karantina Kesehatan dan Barantin. “Saya koordinasikan dengan teman-teman Karantina Kesehatan dan Barantin,” kata Nirwala saat dikonfirmasi pada Kamis, 7 Mei 2026.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengonfirmasi tiga orang meninggal dunia di atas kapal pesiar yang melintasi Samudra Atlantik setelah terpapar hantavirus. WHO menyebut wabah tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap infeksi langka yang berpotensi parah di laut.

Virus Hanta merupakan penyakit yang umumnya menular ke manusia melalui hewan pengerat. Wabah itu terjadi di kapal MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, menuju Tanjung Verde. “Hingga saat ini, satu kasus infeksi hantavirus telah terkonfirmasi melalui laboratorium dan terdapat lima kasus tambahan yang masih dicurigai,” kata WHO seperti dikutip France24.

WHO menyatakan enam orang terdampak virus Hanta. Tiga orang meninggal, sedangkan satu orang lainnya masih menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan.

Penumpang pertama yang menunjukkan gejala virus tersebut merupakan pria berusia 70 tahun. Ia meninggal di atas kapal dan jenazahnya kini berada di Pulau Saint Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan.

Istrinya yang berusia 69 tahun juga jatuh sakit di atas kapal. Petugas kemudian mengevakuasinya ke Afrika Selatan, namun ia meninggal di sebuah rumah sakit di Johannesburg. Hingga kini, otoritas Afrika Selatan belum mengonfirmasi kewarganegaraan para korban. Sementara itu, kasus ketiga menimpa warga Inggris berusia 69 tahun yang juga dievakuasi ke Johannesburg untuk menjalani perawatan intensif.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan melalui unggahan di X bahwa lembaganya bekerja sama dengan operator kapal dan negara-negara anggota yang terdampak. “WHO memfasilitasi evakuasi medis terhadap dua penumpang yang menunjukkan gejala, melakukan penilaian risiko secara menyeluruh, dan mendukung orang-orang yang terdampak di atas kapal,” ujar Tedros.

Ia menegaskan, tindakan cepat dan terkoordinasi sangat penting untuk menekan risiko serta melindungi kesehatan masyarakat.

Sita Planasari turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |