Begini Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi 1 Suro

3 hours ago 6

AKTIVITAS vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali meningkat tepat pada peringatan 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Selasa 16 Juni 2026. Gunung api berketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut dilaporkan telah memuntahkan awan panas guguran sebanyak dua kali dalam sehari.

Peristiwa awan panas pertama terjadi pada pukul 08.55 WIB dengan catatan amplitudo maksimal 21 milimeter serta durasi hampir lima menit atau tepatnya selama 274 detik. Awan panas ini meluncur sejauh 2.000 meter menuju ke hulu Kali Sat atau Kali Putih.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sementara itu, awan panas guguran kedua menyusul terjadi pada malam pukul 19.10 WIB. Jarak luncurnya sama, yaitu 2000 meter, ke arah barat menuju hulu Kali Sat atau Kali Putih, yang terekam memiliki amplitudo maksimum 49,86 milimeter dengan durasi 145,5 detik.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menjelaskan peningkatan aktivitas tersebut menunjukkan pasokan material vulkanik yang masih aktif dari dalam tubuh gunung. "Suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," kata dia sambil menambahkan status Gunung Merapi saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga.

Selain awan panas, guguran lava pijar juga teramati keluar dari kubah lava sebanyak sembilan kali ke arah barat daya, meliputi kawasan Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Bebeng, dengan jarak luncur terjauh mencapai 1.900 meter. Terkait sebaran wilayah bahaya, Agus  merinci sektor-sektor sungai yang berpotensi terdampak langsung oleh material guguran maupun awan panas. 

Sektor selatan hingga barat daya menjadi area dengan jangkauan ancaman terdalam yang harus dikosongkan dari segala bentuk aktivitas manusia. "Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer." 

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer. Sedangkan untuk lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

Ancaman bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin juga masih menjadi perhatian utama. Penyebabnya, curah hujan tinggi yang sempat mengguyur kawasan lereng beberapa hari sebelumnya. Seperti pada Sabtu, 13 Juni 2026, ketika kawasan Lereng Selatan di Stasiun Labuhan sempat diguyur hujan sepanjang sore hingga malam.

Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu dan adanya akumulasi air hujan di hulu, Agus mengingatkan warga agar selalu peka terhadap perubahan situasi di lingkungan sekitar, terutama bagi mereka yang beraktivitas di dekat alur sungai. "Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya," kata dia.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |