HAMPIR 40 persen stok ikan dunia saat ini telah mengalami eksploitasi berlebih. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor perikanan global dalam menjaga ketersediaan sumber daya laut untuk masa depan.
Perwakilan Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia, Irwan Sakman, mengatakan data terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan praktik overfishing atau penangkapan ikan berlebihan masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem laut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Ini menjadi pengingat bahwa sumber daya laut bukan sesuatu yang tidak terbatas. Perlu ada upaya bersama agar stok ikan tetap tersedia untuk generasi mendatang,” kata Irwan dalam konferensi pers peringatan World Ocean Day, Molecular Gastronomy Experience, di IKEA Alam Sutera, Tangerang Selatan, Selasa, 9 Juni 2026
Menurut Irwan, persoalan keberlanjutan laut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, nelayan, atau pelaku industri perikanan. Konsumen juga memiliki peran penting melalui pilihan makanan yang mereka konsumsi setiap hari.
“Produk seafood yang berkelanjutan bukan hanya soal kualitas, tetapi juga memastikan proses penangkapannya tidak merusak lingkungan dan stok ikan tetap terjaga,” ujarnya.
Meski isu keberlanjutan laut semakin banyak dibicarakan, MSC menilai kesadaran masyarakat Indonesia terhadap seafood berkelanjutan masih relatif rendah. Irwan mengatakan sebagian besar konsumen masih melihat seafood sebagai produk pangan biasa, tanpa mempertimbangkan bagaimana ikan tersebut ditangkap maupun dikelola sebelum sampai ke meja makan.
Padahal, menurut dia, keberlanjutan perikanan tidak hanya berkaitan dengan kelestarian lingkungan, tetapi juga menyangkut masa depan nelayan serta ketahanan pangan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
“Perlu ada perubahan cara pandang bahwa ketika kita memilih seafood, kita juga ikut menentukan masa depan sumber daya laut,” kata Irwan.
Karena itu, edukasi mengenai pentingnya memilih produk perikanan yang berasal dari praktik yang bertanggung jawab perlu terus dilakukan. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen, upaya menjaga kesehatan laut dan ketersediaan stok ikan di masa depan diharapkan dapat berjalan seiring dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
dari kiri: Ahmad Alhamid, (Sustainability Business Partner IKEA Indonesi) - Hirmen Syofyanto, (Program Director Marine Stewardship Council Indonesia) - Andrian Ishak (chef) - Ariane Vinsontia, (Food Commercial Manager IKEA Indonesia)/memperingati World Ocean Day, Molecular Gastronomy Experience, di Tangerang Selatan, Selasa, 9 Juni 2026. Tempo/Ghaeiza Kay Rasuffi
Mengenalkan Isu Laut Melalui Meja Makan
Pesan mengenai keberlanjutan laut disampaikan melalui pengalaman kuliner yang memadukan sains dan gastronomi. Adrian menjelaskan bahwa pendekatan molecular gastronomy pada dasarnya memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memahami proses memasak dan menciptakan pengalaman baru dalam menikmati makanan.
“Kalau saya lebih suka menyebutnya molecular cooking. Jadi pendekatannya menggunakan sains untuk memahami berbagai metode memasak,” ujarnya.
Seperti yang dilakukan Chef Adrian Ishak, yang menghadirkan interpretasi baru terhadap sejumlah hidangan tradisional Indonesia dengan menggunakan salmon sebagai bahan utama. Menu pembuka berupa naniura, hidangan khas Batak yang umumnya menggunakan ikan tuna. Dalam kreasi tersebut, Adrian mengganti bahan utamanya dengan salmon sehingga menghasilkan tekstur yang lebih lembut tanpa menghilangkan karakter rasa asam dan rempah yang menjadi ciri khas naniura.
Pengalaman kuliner kemudian berlanjut dengan sajian tekwan yang menggunakan bola-bola ikan berbahan dasar salmon. Hidangan khas Palembang tersebut disajikan dalam kuah hangat yang ringan dan menjadi salah satu menu yang memperlihatkan fleksibilitas salmon dalam berbagai olahan Nusantara.
Hidangan berikutnya berupa gado-gado dengan sentuhan yang tak biasa. Adrian menghadirkan salmon bacem yang dipadukan dengan saus kacang khas gado-gado. Sajian tersebut kemudian ditata menyerupai tanaman dalam pot bunga.
Salah satu menu yang paling menarik perhatian adalah sajian penutup berupa matcha meringue yang dihidangkan menggunakan teknik liquid nitrogen atau nitrogen cair. Asap dingin yang muncul saat penyajian menciptakan sensasi tersendiri sekaligus memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip sains dapat diterapkan dalam dunia kuliner modern. Rangkaian pengalaman kuliner tersebut kemudian ditutup dengan es doger yang tetap mempertahankan cita rasa khas Indonesia meski disajikan dengan pendekatan yang lebih modern.
GHAEIZA KAY RASUFFI

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5263253/original/068977400_1750812433-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__10_.jpg)














