Cerita Unik Dosen UMS di Balik Demam Kicau Mania

2 hours ago 2

FENOMENA viralnya lagu "Kicau Mania" belakangan membawa inspirasi ilmiah bagi Dedi Gunawan, dosen Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Lagu dangdut hip-hop soal burung kicau itu kerap dijadikan suara latar untuk video dance maupun konten "jedag-jedug" di TikTok, Instagram, hingga YouTube.

Menurut Dedi, irama yang dipopulerkan Ndarboy Genk bersama Banditoz Yaow 86 itu bukan sekadar hiburan bagi para pecinta burung. Di balik koplo yang ringan, tersimpan gambaran soal besarnya kultur dunia pencinta burung kicau di Indonesia, mencakup hobi, komunitas lomba, penangkaran, hingga nilai ekonomi yang terus bergerak. “Lagu itu menggambarkan realitas di lapangan. Komunitas burung di Indonesia besar sekali,” kata Dedi kepada Tempo pada Jumat, 8 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebagai peneliti bidang informatika, Dedi menyebut burung bukan sekadar peliharaan. Dari hasil pengamatan terhadap perilaku burung cuckoo atau kukuk, dia mengaku berhasil melahirkan penelitian internasional bereputasi Scopus Q1, yang menyangkut perlindungan privasi data.

Penelitian berjudul “COMATS: a cuckoo-mimicking data anonymization scheme for preserving sensitive preferences in transaction data” itu terinspirasi dari cara burung cuckoo berkembang biak dengan menitipkan telurnya di sarang burung lain. “Strategi cuckoo itu unik. Mereka menyamarkan telurnya agar diterima induk lain. Konsep itu saya adaptasi dalam anonimisasi data,” ujar dia,

Melalui metode COMATS, kata Dedi, data sensitif diubah menggunakan pola tertentu untuk melindungi identitas pengguna tanpa menghilangkan nilai penting dari data tersebut. Pendekatan biomimikri atau cara meniru strategi alam masih sangat terbuka untuk dikembangkan dalam bidang informatika.

Dedi sendiri mulai tertarik memelihara burung sejak masa pandemi Covid-19, di tengah pembatasan aktivitas. Kegiatan mengajar daring yang monoton membuatnya mencari hiburan baru di rumah.

Dari yang awalnya hanya memelihara seekor kenari untuk mengusir jenuh, Dedi mulai memelihara berbagai jenis burung hingga akhirnya menaruh perhatian besar pada murai batu, jenis burung yang populer di kalangan kicau mania karena kemampuan meniru suara. Kini, selain mengajar dan meneliti, Dedi juga membudidayakan murai batu. Rutinitas merawat burung dilakukan setiap pagi sebelum berangkat ke kampus.

Menurut Dedi, dunia pencinta burung memberikan banyak peluang riset berbasis teknologi. Analisis pola suara, pengenalan frekuensi bunyi, hingga klasifikasi satwa dengan akal imitasi (AI) dapat dikembangkan menjadi penelitian informatika yang aplikatif. “Suara burung bisa dianalisis secara digital, bahkan bisa dibuat sistem identifikasi otomatis,” tuturnya.

Perawatan burung lomba juga sembarangan. Untuk menjaga suara burung, Dedi bercerita, harus diberi pakan tambahan berbahan empon-empon, seperti kunyit dan jahe, yang dikonsumsi melalui jangkrik. Ia menyebut kesehatan menjadi faktor utama agar burung mampu tampil optimal saat dilombakan.

Fenomena Kicau Mania, dia meneruskan, juga menunjukkan sebuah hobi bisa mendatangkan nilai ekonomi besar. Harga burung pemenang lomba, sebagai contoh, bisa melonjak beberapa kali lipat hingga ratusan juta rupiah. Dari kandang burung di rumahnya,

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |