Daftar Amalan Ringan sebelum Haji untuk Ibu Rumah Tangga, agar Khusyuk dan Mabrur

9 hours ago 12
  • Amalan apa agar cepat naik haji?
  • Bagaimana cara mempersiapkan diri untuk ibadah haji sebagai seorang wanita?
  • Apa saja yang harus dilakukan sebelum berangkat haji?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Panggilan menunaikan ibadah haji merupakan dambaan terbesar setiap muslimah. Namun, padatnya kesibukan domestik sering kali memicu kekhawatiran terkait kesiapan batin. Oleh karena itu, merumuskan daftar amalan ringan sebelum haji untuk ibu rumah tangga sangatlah penting.

Kesiapan spiritual yang matang akan bermuara pada ketenangan saat berpisah dengan keluarga menuju Baitullah. Bagi para istri dan ibu, proses penyucian ini bermula dari mencari rida suami dan merapikan urusan pengasuhan rumah.

Konsep ini sangat selaras dengan sabda Rasulullah SAW, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya" (HR. Tirmidzi). Melalui ikhtiar batin ini, pelaksanaan haji akan terasa jauh lebih khusyuk, tenang, dan bermakna.

Merangkum Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama (Kemenag), Ebook Doa dan Dzikir Manasik Haji, serta Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah: Fikih Berdasar Sirah dan Makna Spiritualnya karya Imam Ghazali Said, berikut ini adalah daftar amalan ringan sebelum haji untuk ibu rumah tangga agar ibadah di Tanah Suci kelak berjalan lancar dan khusyuk.

1. Meminta Rida Suami dan Menyelesaikan Hak Keluarga

Bagi seorang istri, kelancaran ibadah sangat bergantung pada rida suami. Sebelum berangkat, amalan paling mendasar adalah menyelesaikan urusan Hablum Minannas (hubungan antarmanusia) di lingkungan terdekat, yakni keluarga.

Dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah (Kemenag), ditekankan kewajiban calon jemaah untuk meminta maaf dan menyelesaikan hak adami sebelum safar. Bagi ibu rumah tangga, ini berarti memastikan izin dan kerelaan penuh dari suami, serta memastikan kebutuhan dasar anak-anak yang ditinggalkan telah tertangani (menyiapkan wali asuh yang amanah).

Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya." (HR. Tirmidzi). Rida suami menjadi pembuka pintu kemudahan selama di Tanah Suci.

2. Membiasakan Zikir dan Talbiyah Sembari Mengurus Rumah

Kesibukan menyapu, memasak, atau mengasuh anak tidak menghalangi lisan untuk terus berzikir. Ini adalah amalan ringan yang dampaknya luar biasa untuk melembutkan hati sebelum melihat Kaabah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin (yang nilai filosofisnya banyak dikutip dalam panduan Kemenag) menyatakan bahwa zikir yang terus-menerus akan mengikat hati hamba dengan Sang Pencipta. Menggemakan Talbiyah sebelum masa ihram tiba berguna sebagai afirmasi kesiapan ruhani.

Firman Allah SWT: "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

3. Mengkaji Fikih Kewanitaan Terkait Haji (Haid dan Istihadhah)

Ibu rumah tangga dapat memanfaatkan waktu luang di rumah untuk membaca dan memperdalam ilmu manasik, khususnya bab yang sangat krusial bagi perempuan.

Dalam Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah, Imam Ghazali Said menyoroti pentingnya tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) berdasarkan sirah. Mengetahui hukum-hukum manasik saat haid—seperti larangan tawaf namun diperbolehkannya wukuf, sa'i, dan melontar jumrah—adalah wajib agar jemaah perempuan tidak panik jika siklus bulanannya datang saat di Makkah.

 Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah RA yang sedang menangis karena haid saat haji: "Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka’bah sampai engkau suci." (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Bersedekah Harian sebagai Penolak Bala

Tidak harus dalam jumlah besar, membiasakan sedekah harian—misalnya melalui kaleng sedekah subuh di rumah—adalah amalan ringan yang sangat dianjurkan.

Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah menyebutkan anjuran memperbanyak sedekah sebelum berangkat. Sedekah dari seorang ibu rumah tangga, meski diambil dari sebagian uang belanja yang diikhlaskan, berfungsi sebagai penolak bala dan pelindung gaib bagi keluarga yang ditinggalkan maupun bagi dirinya selama perjalanan.

"Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, karena sedekah itu dapat menolak bala dan penyakit." (HR. Abu Dawud).

5. Memanjatkan Doa Titipan Anak dan Keluarga

Kekhawatiran terbesar ibu rumah tangga saat berhaji adalah nasib anak-anak di rumah. Islam mengajarkan amalan ringan berupa doa penitipan yang melepaskan beban psikologis tersebut.

Ebook Doa dan Dzikir Manasik Haji (Kemenag) memberikan panduan doa khusus bagi musafir untuk mendoakan keluarga yang ditinggalkan. Mendoakan dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Penjaga (Al-Hafizh) akan menghadirkan kekhusyukan, sehingga ibu tidak terus-menerus memikirkan rumah saat sedang tawaf atau wukuf.

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW: "Astaudi'ullaha diinakum wa amaanatakum wa khowaatiima a'maalikum" (Aku titipkan kepada Allah agama kalian, amanah kalian, dan akhir dari amal kalian) (HR. Tirmidzi).

6. Menjaga Lisan (Menghindari Ghibah) dalam Pergaulan Bertetangga

Ibu rumah tangga umumnya memiliki interaksi sosial yang intens dengan tetangga atau komunitas majelis taklim di sekitar rumah. Menjaga lisan adalah "amalan menahan diri" yang sangat penting sebelum berhaji.

Ulama menegaskan bahwa haji mabrur mensyaratkan jemaah bersih dari perbuatan rafats, fusuq, dan jidal. Latihan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain (ghibah) harus dimulai dari lingkungan bertetangga jauh sebelum keberangkatan, agar lisan terbiasa bersih saat berada di Tanah Suci.

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

7. Melaksanakan Shalat Sunnah Safar Sebelum Keluar Rumah

Saat detik-detik keberangkatan tiba, setelah memastikan urusan rumah tangga rapi, amalan pamungkas di dalam rumah adalah mendirikan shalat.

Berdasarkan Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kemenag, sebelum melangkah melewati pintu rumah, disunnahkan melaksanakan shalat sunnah safar dua rakaat. Ini adalah bentuk tawakkal paripurna seorang hamba, menyerahkan rumah, harta, dan keluarganya sepenuhnya ke dalam genggaman Allah.

"Tidak ada sesuatu yang lebih utama yang ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya selain shalat dua rakaat di sisi mereka ketika hendak bepergian." (HR. Al-Muqaddasi).

8. Memperbanyak Puasa Sunnah (Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh)

Ibadah haji kelak akan menuntut pengendalian diri yang luar biasa dari larangan-larangan ihram (seperti tidak boleh marah, berdebat, atau berkata kasar). Latihan terbaik untuk menundukkan ego dan hawa nafsu sebelum berangkat adalah dengan berpuasa.

Dalam literatur tasawuf seperti Ihya 'Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali—yang menjadi salah satu rujukan pembentukan karakter jemaah haji Kemenag—dijelaskan bahwa puasa berfungsi mempersempit jalan setan dalam aliran darah manusia. Bagi ibu rumah tangga, melaksanakan puasa sunnah di sela rutinitas akan melatih kesabaran ekstra, sebuah bekal mental yang sangat dibutuhkan saat berdesakan di Makkah.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi: "Setiap amal anak Adam dilipatgandakan... kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya..." (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Melatih Ketahanan Fisik dengan Niat Ibadah (Olahraga Ringan)

Haji adalah ibadah badaniyah (ibadah fisik). Berjalan kaki dari dapur ke ruang tamu, atau berbelanja ke pasar, dapat diubah menjadi amalan berpahala jika disertai niat untuk mempersiapkan fisik demi kelancaran Tawaf dan Sa'i.

Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kemenag sangat menekankan aspek istitha'ah (kemampuan) fisik. Ulama mazhab Syafi'i dalam berbagai kitab fikih menegaskan bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Ketika seorang ibu merutinkan jalan pagi di sekitar rumah dengan niat agar kuat menjalankan rukun haji, maka setiap langkahnya dicatat sebagai ibadah persiapan safar.

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan." (HR. Muslim).

10. Merapikan Catatan Keuangan dan "Utang Dapur"

Meskipun suami mungkin sebagai pencari nafkah utama, ibu rumah tangga biasanya menjadi pengelola keuangan harian. Memastikan tidak ada tanggungan finansial yang tertinggal adalah wajib.

Panduan manasik Kemenag mewajibkan jemaah bebas dari utang yang telah jatuh tempo sebelum berangkat. Dalam ranah domestik, ibu rumah tangga disunnahkan mencatat dan menyelesaikan utang-utang kecil (misalnya utang di warung sayur, arisan bulanan, atau cicilan barang tangga) agar perjalanan haji tidak terbebani hak orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, "Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai utang itu dilunasi." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

11. Mengkhatamkan Al-Quran di Rumah Sebelum Keberangkatan

Menciptakan atmosfer spiritual di dalam rumah sebelum ditinggalkan berbulan-bulan sangat dianjurkan agar rumah senantiasa diliputi rahmat.

Ebook Doa dan Dzikir Manasik Haji menyarankan jemaah untuk memperbanyak tilawah. Mengkhatamkan Al-Quran di sela-sela waktu menunggu anak pulang sekolah atau setelah shalat fardhu akan menjadikan rumah sebagai benteng spiritual. Ulama meyakini rumah yang sering dibacakan Al-Quran akan dijaga oleh malaikat selama penghuninya safar.

"Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat (pertolongan) kepada pembacanya." (HR. Muslim).

12. Mendidik Anak Berlatih Kemandirian dan Zikir Harian

Bagi ibu yang meninggalkan anak-anak, mengajari mereka mandiri sebelum keberangkatan adalah amalan jariyah (mengalir).

Dalam Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah, Imam Ghazali Said secara tersirat menekankan pentingnya meninggalkan keluarga dalam keadaan bertakwa. Mengajak anak ikut serta menghafal doa safar, atau membiasakan mereka shalat tepat waktu sebelum ibu berangkat, merupakan bentuk estafet keimanan. Hal ini akan membuahkan ketenangan batin bagi sang ibu saat wukuf di Arafah.

"Apabila manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).

People Also Ask:

Amalan apa agar cepat naik haji?

Amalan Agar Cepat Naik Haji dan ke Tanah SuciMendirikan Shalat Tahajud dan Dhuha. Waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu di mana doa-doa diijabah oleh Allah SWT. ...Memperbanyak Sedekah dan Berbagi. ...3. Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain) ...Membuka Tabungan Haji dan Merencanakan Keuangan.

Bagaimana cara mempersiapkan diri untuk ibadah haji sebagai seorang wanita?

Seperti Umrah, persiapan Haji dimulai dengan Ihram. Masuki keadaan suci Ihram dengan melakukan ghusl atau membersihkan tubuh secara menyeluruh tanpa menggunakan produk beraroma. Kenakan abaya atau pakaian sopan dan jilbab, kemudian terakhir, buatlah niat (niyyah) untuk melaksanakan Haji sebelum melewati Miqat di Makkah.

Apa saja yang harus dilakukan sebelum berangkat haji?

Langkah-Langkah Persiapan HajiPersiapan Finansial.Persiapan Spiritual.Persiapan Logistik.Menghindari Masalah Keuangan.Menjaga Fokus pada Ibadah.Meningkatkan Kesiapan Fisik dan Mental.Memastikan Kenyamanan dan Keselamatan.Menghormati Nilai Ibadah.

Amalan setara ibadah haji?

7 Amalan Berpahala Seperti HajiShalat Berjamaah di Masjid. ...Duduk di Masjid Setelah Shalat Subuh hingga Matahari Terbit. ...Niat yang Tulus untuk Berhaji. ...Berbakti kepada Orang Tua. ...Menunaikan Umrah di Bulan Ramadan. ...Membantu Orang dalam Kesulitan. ...Berdzikir Sepanjang Hari.

Doa agar bisa ke Mekkah setiap tahun?

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesempatan untuk mengunjungi rumah-Mu yang agung dan Rasul-Mu yang mulia, pada tahun ini dan setiap tahun, dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Wahai Dzat Yang Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |