POS Pengamatan Gunung Dukono melaporkan gunung api yang berlokasi di Halmahera Utara, Maluku Utara itu kembali erupsi sebanyak tiga kali sejak pukul 07.55 WIT sampai 12.48 WIT, Rabu, 13 Mei 2026.
Dalam letusan pertama yang terjadi pada pukul 07.55 WIT, Gunung Dukono melontarkan abu vulkanik setinggi 2,2 kilometer dari atas puncak kawah. Kepulan abu yang membumbung di langit mengarah ke sektor barat laut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Letusan kembali terjadi pada pukul 11.57 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 2.000 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah barat dan barat laut.
Erupsi tak kunjung mereda dan kembali terjadi pada pukul 12.48 WIT dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1,5 kilometer di atas puncak. Vibrasi yang dihasilkan letusan beramplitudo maksimum 12 milimeter dengan durasi 48.12 detik.
"Erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat," kata salah satu petugas Pos Pengamatan Gunung Dukono, Bambang Sugiono, dalam laporannya untuk Badan Geologi tak lama setelah kejadian.
Gunung Dukono masih berstatus Level II atau Waspada. Kepala Badan Geologi Lana Saria mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang dan Warirang, termasuk mendaki maupun mendirikan tenda di sekitar puncak gunung.
Imbauan itu disampaikan menyusul aktivitas erupsi yang masih terjadi secara berkala dengan lontaran abu vulkanik yang dapat menyebar ke berbagai arah, bergantung pada kecepatan dan pola angin. Kondisi tersebut membuat wilayah terdampak abu tidak bisa diprediksi secara pasti dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
“Masyarakat di sekitar gunung diharapkan tetap siaga dan menyiapkan masker atau penutup hidung serta mulut untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan pernapasan,” ujar Lana.
Gunung Dukono dikenal sebagai gunung api bertipe stratovolcano dengan karakter erupsi eksplosif sekaligus efusif. Aktivitas vulkaniknya tidak hanya memuntahkan abu dan material pijar, tetapi juga dapat mengalirkan lava melalui rekahan tubuh gunung.
Badan Geologi mencatat gunung yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Kota Tobelo itu termasuk salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Tingginya intensitas erupsi dipengaruhi dinamika tektonik di Pulau Halmahera yang berada di zona pertemuan lempeng aktif.
Aktivitas tersebut berkaitan dengan proses subduksi ganda Lempeng Laut Maluku yang bergerak ke arah timur di bawah Lempeng Pasifik. Pergerakan ini membentuk busur vulkanik Halmahera yang melahirkan sejumlah gunung api aktif di kawasan tersebut.
Selain Gunung Dukono, beberapa gunung api lain yang juga berada dalam pengaruh aktivitas tektonik itu adalah Gunung Gamkonora, Gunung Gamalama, Gunung Ibu, serta Gunung Kei Besi yang sama-sama memiliki potensi erupsi tinggi.






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)



