Karya Seni dari Citarum hingga Muara Gembong

3 hours ago 2

Apa hubungan jamur dengan mangrove? Seniman Syaiful Aulia Garibaldi, 41, dengan dengan karyanya dalam pameran tunggal berjudul “Lesap” , mencoba menghubungkannya dalam narasi visual. Ia menghadirkan beberapa karya di Galeri ROH di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, 23 Mei- 28 Juni 2026.

Memasuki area galeri terlihat puluhan anak muda yang tengah mengantre untuk mengunjungi pameran pada Sabtu, 27 Juni 2026. Saat mengantre, lamat-lamat, tercium bau yang mengingatkan kita pada sampah busuk. Sama seperti ketika kita berada di belakang truk sampah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bau itu makin memenuhi Indera penciuman kita ketika memasuki ruang pamer. Dinding-dinding di ruang pamer depan, penuh dengan warna-warna lumut, kuning kehijauan. Sebuah instalasi berbentuk seperti bonggol tulang yang bersambung, menjulang sekitar dua meteran. Di salah satu titiknya tumbuh sepotong jamur yang mengeras. Dua instlasi jamur lainya yang serupa diletakkan di dua titik berbeda.

Di ruang bersekat sebuah instalasi susunan kerang dengan ranting-ranting berdiri di tengah ruangan. Lantai ditutup ‘pasir’ remahan kerang yang diambil dari Muara Gembong, Bekasi Utara.

Bau yang cukup menyengat akhirnya menuntun pada sebuah karya di ruang pamer belakang. Empat lembaran besar membentuk kubus menggantung berjudul Polrio. Empat lembar itu berbeda warna, berwarna kecoklatan dan coklat yang lebih gelap. Lembaran-lembaran ini dikepung visual ‘lumut’ di sekelilingnya. Ruang belakang terlihat gelap,  lembab dan berbau, seperti ruang yang lama dan basah, mulai ‘membusuk’.

Suasana ini justru menarik puluhan anak-anak muda yang rata-rata berpakaian dan berdandan cantik demi berfoto atau membuat video di depan karya berbau itu. Beberapa orang ketika sudah keluar seperti merasakan dan mencium aroma dari karya menempel di bajunya.

 “ Ini bajuku apa ya, kok masih bau,” ujar seorang gadis berkerudung. Salah satu temannya kemudian mengangsurkan sebotol parfum untuk mengusir bau.

Pilihan Editor:

Karya Syaiful Aulia Garibaldi berjudul "Polrio" yang dipamerkan di Roh, kawasan Menteng, Jakarta, 27 Juni 2026. Tempo/Dian Yuliastuti

Menangkap kerusakan Hulu Hingga Hilir

Di pameran ini, seniman lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia ini menyajikan kerusakan lingkungan dari hulu hingga hilir.  Seniman yang pernah menjadi Seniman Pilihan Tempo pada 2016 dan Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) pada 2013 ini menyoroti jaringan ikat yang menghubungkan komunitas hulu Derah Aliran Sungai (DAS) Sungai Citarum di Bandung dengan garis pantai mangrove yang bermuara di Muara Gembong, Bekasi Utara.

Pameran ini menampilkan karya-karya berskala besar dari material yang diambil langsung dari lokasi tersebut, termasuk biofilm alga yang dibudidayakan dari air sungai, patung berbahan dasar cangkang, dan struktur kayu apung.

Dari hulu ia menampilkan karya dari material yang kental dengan polutan dan di hilir dengan kerang. Mewakili dampak sampah, polusi yang menghancurkan ekosistem pantai termasuk tanaman mangrove. Syaiful memang tidak menghadirkan mangrove secara masif. Ia hanya mewakilkan mangrove yang perlahan musnah dengan potongan ranting-ranting yang patah sisa abrasi. Ia merangkainya menjadi karya berjudul Antara Muara.

Ia tinggal di Bandung dan menggabungkan berbagai material dari Bandung sampai ke Bekasi."Kita tahu, Muara Gembong itu muara Sungai Citarum, Muara Gembong kini makin terendam, tenggelam," ujarnya.

Karya Syaiful Aulia Garibaldi berjudul "Polrio" yang dipamerkan di Roh, kawasan Menteng, Jakarta, 27 Juni 2026. Tempo/Dian Yuliastuti

 Polutan dan Jamur

Syaiful yang akrab dipanggil dengan nama Tepu, memang dikenal sebagai seniman yang memfokuskan karya berbasis sains, mikrorganisme. Ia beberapa kali mengeksplorasi jamur atau mikrorganisme untuk material karyanya. Hal ini membawanya menjelajah ke berbagai negara untuk pameran maupun residensi.

Demikian pula pada pameran kali ini. Karya berdimensi besar yang menggantung menjadi salah daya tarik visual dan Indera penciuman. Proses kreatif membentuk empat lembaran berbahan utama rumput laut dan algae ini cukup panjang.

Ia membuat dua lembaran campuran alga dengan air Sungai Citarum dan dua lembar lain dengan air pompa di belakang studionya di Bandung.

Ia mengolah mencampurkan ekstrak alga dengan dua jenis air tersebut secara berbeda. Ia memasak dua material tadi kemudian menuangkannya di loyang besar. Untuk mengeringkannya butuh waktu yang cukup lama.

 “Sekitar dua-tiga minggu untuk proses menumbuhkan jamur  dan pengeringannya. Saya tambahkan dengan ragi untuk mempercepat tumbuhnya jamur,” ujar Syaiful kepada Tempo, Sabtu, 27 Februari 2026.

Yang unik dari empat lembaran biofilm ini berbeda warna. Ekstrak alga yang dicampur dengan air Sungai Citarum terlihat lebih gelap dengan totolan warna yang lebih rapat, sementara bahan yang dicampur dengan air pompa masih berwarna agak terang.

Dengan ragi yang ditambahkan terlihat pola perkembangan mikroorganisme yang lebih masif, tak terkendali. Warna yang muncul seperti menghadirkan polutan yang terkandung di dalamnya.

Setelah lembaran dikeringkan sampai mengeras seperti plastik, kemudian diberi pelapis untuk mencegah kemungkinan tumbuhnya jamur lebih besar. Hal ini juga untuk menyesuaikan dengan pemasangan instalasi karya di area bukaan di bawah atap kaca galeri, yang mendapatkan cahaya dan panas matahari.

Menurut Syaiful, isunya tak hanya kerusakan sungai, tapi juga banjir di beberapa tempat termasuk Bandung. Sementara jamur merupakan makhluk yang biasa tumbuh setelah terjadi lesap atau setelah sesuatu itu terendam. "Dia sebagai makhluk dekomposer di ekosistem, sangat mempresentasikan situasi kini."

Pilihan Editor:

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |