Review The Devil Wears Prada 2: Saat Media Fashion Berubah

5 hours ago 3

LEBIH dari dua dekade setelah The Devil Wears Prada menjadi fenomena global, sekuelnya kini hadir di layar lebar. The Devil Wears Prada 2 yang resmi tayang sejak Rabu, 29 April 2026 membawa kembali dunia fashion yang glamor sekaligus penuh tekanan. Namun kali ini dengan konteks yang jauh lebih kompleks dan relatable yakni perubahan industri media di era digital.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Jika sekuel pertama terasa tajam, glamor, dan penuh tekanan personal, The Devil Wears Prada 2 justru bergerak ke arah yang lebih reflektif, mature bahkan sedikit getir. Film ini bukan hanya reuni karakter ikonik, tetapi juga refleksi tentang bagaimana kekuasaan, selera, dan relevansi kini tidak lagi berada di tangan editorial, melainkan di bawah kendali sistem yang lebih besar.

Film ini tidak lagi sekadar bercerita tentang kerasnya dunia fashion, tetapi tentang perubahan besar dalam industri media yang kini tidak bisa lagi dikendalikan oleh satu sosok kuat di ruang redaksi. Dulu, keputusan seorang editor adalah segalanya. Sosok seperti Miranda Priestly bukan hanya pemimpin, tapi juga penentu arah tren global.

Namun, dalam sekuelnya posisi itu mulai goyah. Runway Magazine—yang sebelumnya digambarkan sebagai pusat otoritas fashion—kini harus menghadapi tekanan realitas: menurunnya pengaruh media cetak atau kalau di Indonesia kita mengenalnya dengan senjakala, perubahan perilaku audiens, hingga tuntutan industri yang semakin cepat dan digital.

Kekuasaan yang dulu terpusat, kini tersebar. Bukan lagi satu suara yang menentukan, melainkan banyak suara yang saling berebut perhatian. Salah satu lapisan paling relevan dari film ini adalah bagaimana ia menggambarkan ritme industri media saat ini. Tidak ada lagi ruang untuk menunggu. Segalanya harus cepat, relevan, dan seringkali, harus viral.

Dalam kondisi seperti ini, kualitas tidak selalu menjadi prioritas utama. Konten yang dipikirkan matang bisa kalah dari yang sederhana tapi mudah dikonsumsi.

Anne Hathaway, Meryl Streep, dan Stanley Tucci dalam film The Devil Wears Prada 2. Dok. Macall Polay/20th Century Studios

Andy Sachs, Miranda Priestly ,dan Realitas Media Masa Kini

Kembalinya Andrea Sachs (Anne Hathaway) ke Runway Magazine terasa ironis. Setelah sebelumnya meninggalkan dunia fashion demi karier jurnalisme yang lebih “serius”, ia justru harus kembali ke tempat yang dulu ia anggap tidak sejalan dengan idealismenya.

Namun, Runway yang ia temui kini bukan lagi institusi glamor dengan kekuatan absolut. Majalah tersebut menghadapi kenyataan pahit mulai dari anggaran yang menyusut, tekanan digital, dan perubahan perilaku audiens yang tidak lagi setia pada media tradisional.

Ini mencerminkan kondisi nyata industri media saat ini, di mana banyak platform legacy harus beradaptasi atau perlahan kehilangan pengaruh. Namun, kali ini ia datang bukan lagi sebagai asisten yang canggung, melainkan representasi generasi baru yang tumbuh di tengah perubahan industri. Perjalanannya terasa realistis bahwa karier di dunia media hari ini tidak lagi linear. Adaptasi menjadi kunci, dan idealisme sering kali harus berhadapan dengan realitas ekonomi.

Sementara itu, sosok Miranda sebelumnya adalah pusat kekuasaan, di sekuel ini ia justru menghadapi tantangan yang tidak bisa ia kontrol sepenuhnya. Bukan lagi soal keputusan editorial atau selera pribadi, tetapi tentang sistem yang lebih besar algoritma, data, dan perilaku audiens digital, seperti yang menjadi pembuka adegan.

Ia tetap tajam, berkelas, tetapi dunia di sekitarnya sudah berubah, termasuk berhadapan dengan generasi Z. Dan di situlah konflik paling menarik muncul bukan hanya antara manusia, tetapi antara nilai dan sistem. Bagaimana bertahan dan beradaptasi dengan era digital yang terus berubah, negosiasi dengan investor agar bisa mempertahankan DNA media tanpa mengorbankan nilai. 

Glamour yang Tak Lagi Sepenuhnya Berkilau

Secara visual, film ini masih menawarkan dunia fashion yang memikat mulai busana couture, lokasi ikonik, dan estetika yang kuat. Namun di balik itu, ada nuansa yang lebih realistis. Glamour tidak lagi terasa utuh, tetapi seperti lapisan tipis yang menutupi tekanan industri yang semakin kompleks. Film ini tidak menghilangkan keindahan, tetapi menambahkan kesadaran bahwa di baliknya, ada dinamika yang tidak selalu indah.

The Devil Wears Prada 2 tidak berdiri sebagai nostalgia semata. Ia berkembang menjadi refleksi zaman tentang bagaimana industri berubah, bagaimana peran bergeser, dan bagaimana individu harus terus beradaptasi dalam dua dekade.

Tidak ada lagi satu tokoh yang sepenuhnya “mengendalikan permainan”. Yang ada adalah sistem yang terus bergerak, menuntut semua orang untuk ikut berubah. Alur adegan terasa lebih tenang dan dalam dan intens dengan beberapa adegan deep talk pemerannya. Penonton tidak lagi disuguhkan drama yang eksplosif, melainkan konflik yang lebih subtil dan dekat dengan kehidupan nyata.

The Devil Wears Prada 2 mungkin tidak seikonik pendahulunya, tetapi ia berhasil menjadi sekuel yang relevan dengan zamannya. Film yang dibintangi Anne Hathaway, Meryl Streep, dan Emily Blunt ini seolah memberi "pekerjaan rumah" khususnya bagi mereka yang bergelut di industri media, masihkah ada ruang untuk kurasi yang mendalam di tengah tuntutan kecepatan? 

Dan, seperti yang dikatakan Miranda kepada Nigel saat mata mereka saling tatap, "Selama ini selalu tentang apa yang aku mau, Tapi, aku lupa tanya kamu, apakah ini semua yang kamu mau juga?"

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |