7 Ayat Al-Qur'an tentang Pentingnya Menjaga Silaturahmi, Simak Penjelasan Ulama

1 month ago 53

Liputan6.com, Jakarta - Ayat al-qur'an tentang pentingnya menjaga silaturahmi menjadi dasar bahwa sambung kasih sayang bukan sekadar tradisi sosial, tetapi perintah ilahi yang mendasar. Manusia berasal dari satu jiwa yang sama, sehingga memutus silaturahmi berarti mengingkari kesatuan asal-usul kemanusiaan itu sendiri.

Wahbah Az-Zuhaily, sebagaimana dikutip Jurnal Silaturahmi Online dalam Perspektif Al-Qur’an: Telaah Penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, oleh Arienda Ainun Nadlifah, dkk, mengungkapkan, menjaga hubungan adalah pengakuan terhadap ikatan universal yang diperintahkan Allah, menjadikannya bagian integral dari keimanan dan tanggung jawab sosial setiap muslim.

Az-Zuhaili menawarkan perspektif progresif bahwa nilai silaturahmi bersifat universal, sementara caranya dapat beradaptasi dengan zaman. Persaudaraan seiman melampaui ikatan darah, membuka pintu bagi bentuk-bentuk hubungan yang lebih inklusif, termasuk melalui media silaturahmi era modern, platform digital.

Berikut ini adalah ayat-ayat Al-Qur'an tentang pentingnya menjaga silaturahmi, serta penjelasannya dalam perspektif tafsir al-Munir.

1. QS. ar-Ra’d [13]: 25

الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

Artinya: "Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan, memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah yang mendapat laknat dan tempat yang buruk (Jahanam)."

Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan termasuk dalam kategori memutus hubungan kekerabatan (silaturahmi). Ayat ini menekankan bahwa memutus silaturahmi adalah dosa besar yang sejajar dengan berbuat kerusakan di bumi. Orang yang melakukan hal ini terancam laknat Allah dan tempat kembali yang buruk.

Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahwa memutus silaturahmi termasuk perbuatan yang menghancurkan tatanan sosial dan agama. Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa ayat ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang meremehkan ikatan kekeluargaan.

2. QS. Muhammad [47]: 22

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Artinya: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?"

Az-Zuhaili mengutip pendapat Abu Hayyan bahwa ayat ini mengkritik orang-orang munafik yang jika diberi kekuasaan, mereka akan cenderung berbuat kerusakan dan memutus tali silaturahmi. Memutus hubungan keluarga dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap ajaran Islam dan kembali kepada kejahiliyahan.

Dalam Tafsir Ibn ‘Athiyyah, ditegaskan bahwa memutus silaturahmi adalah ciri orang yang jauh dari rahmat Allah. Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil juga menyebutkan bahwa ayat ini adalah teguran bagi mereka yang lalai menjaga hubungan sosial.

3. QS. al-Hujurat [49]: 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."

Az-Zuhaili menafsirkan bahwa persaudaraan seiman lebih kuat daripada hubungan nasab. Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk mendamaikan saudara seiman yang berselisih. Menjaga silaturahmi adalah wujud ketakwaan dan akan mendatangkan rahmat Allah.

Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menyatakan bahwa persaudaraan iman tidak terputus oleh perbedaan nasab. Imam al-Ghazali juga menekankan bahwa mendamaikan perselisihan adalah bagian dari akhlak mulia dalam Islam.

4. QS. asy-Syura [42]: 23

ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

Artinya: "Itulah (karunia) yang Allah beritahukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas seruanku ini, kecuali kasih sayang kepada kerabat.'"

Az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan pentingnya al-mawaddah fi al-qurba (kasih sayang dalam kekeluargaan) sebagai bentuk ibadah. Kasih sayang kepada kerabat adalah bagian dari keimanan dan amal saleh.

Ibnu Abbas dalam Tafsir ath-Thabari menafsirkan "al-qurba" sebagai kerabat Nabi dan umat Islam secara umum. Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menekankan bahwa kasih sayang dalam keluarga adalah fondasi masyarakat Islam.

5. QS. an-Nahl [16]: 90

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Penjelasan Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menyebutkan bahwa ayat ini adalah salah satu ayat paling komprehensif dalam Islam. Memberi kepada kerabat (إيتاء ذي القربى) adalah perintah langsung dari Allah sebagai bentuk keadilan dan ihsan. Ini adalah landasan silaturahmi yang nyata.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ayat ini mencakup semua kebaikan dan keburukan. Dalam Tafsir al-Jalalayn, disebutkan bahwa memberi kepada kerabat adalah wajib jika mereka membutuhkan.

6. QS. an-Nisa’ [4]: 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan darinya Dia menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Az-Zuhaili menekankan bahwa manusia berasal dari satu keturunan, sehingga menjaga hubungan kekeluargaan adalah kewajiban universal. Memutus silaturahmi berarti mengingkari asal-usul kemanusiaan yang sama.

Dalam Tafsir al-Maraghi, dijelaskan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah. Imam asy-Syafi’i juga menegaskan bahwa silaturahmi adalah kewajiban agama.

7. QS. an-Nisa’ [4]: 36

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."

Az-Zuhaili menghubungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya (QS. an-Nisa’: 1) sebagai pedoman lengkap tentang takwa dan hubungan sosial. Berbuat baik kepada kerabat (ذي القربى) adalah manifestasi langsung dari keimanan dan akhlak Islam.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa berbuat baik kepada kerabat adalah kewajiban yang diperintahkan setelah beribadah kepada Allah. Imam Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin juga memasukkan silaturahmi sebagai bagian dari akhlak mulia.

People also Ask:

Berdasarkan ketujuh ayat tersebut, az-Zuhaili mengembangkan beberapa tema utama sekaligus perspektif Al-Qur'an tentang silaturahmi.

1. Silaturahmi sebagai Ibadah Sosial

Bagi az-Zuhaili, menjaga hubungan bukan sekadar tradisi atau kebiasaan, tetapi bentuk ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Setiap interaksi sosial yang baik adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

2. Integrasi antara Dimensi Spiritual dan Sosial

Az-Zuhaili menolak dikotomi antara urusan spiritual dan sosial. Silaturahmi adalah titik temu di mana hubungan dengan Allah terwujud dalam hubungan dengan sesama.

3. Fleksibilitas dalam Metode, Keteguhan dalam Prinsip

Meskipun az-Zuhaili hidup sebelum era digital, penafsirannya memberikan ruang untuk adaptasi metode silaturahmi sesuai perkembangan zaman, selama prinsip dasarnya tetap terjaga.

4. Silaturahmi sebagai Fondasi Masyarakat Harmonis

Bagi az-Zuhaili, masyarakat yang menjaga silaturahmi adalah masyarakat yang kuat secara spiritual dan sosial. Silaturahmi adalah investasi sosial yang menghasilkan keberkahan kolektif.

5. Pencegahan Konflik melalui Silaturahmi

Az-Zuhaili melihat silaturahmi sebagai mekanisme preventif terhadap konflik sosial. Hubungan yang baik menciptakan modal sosial yang melindungi masyarakat dari perpecahan.

People also Ask:

Quran surat apa yang menjelaskan tentang silaturahmi?

Pada surat An-Nisa ayat 36 disebutkan tentang pentingnya bersilaturahmi. Bahkan, perintah tersebut berdampingan dengan perintah untuk bersujud kepada Allah SWT. Amalan silaturahmi ini merupakan agenda utama dalam kegiatan Idulfitri.

Apa dalilnya silaturahmi?

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 1: "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."

3 Berkah Silaturahmi?

Inilah Pesan Penting di Balik Berkah dan Manfaat SilaturahmiTiga berkah utama silaturahmi adalah melapangkan rezeki, memperpanjang umur, dan menjadi jalan menuju surga, selain manfaat lain seperti menumbuhkan kasih sayang, menghapus dosa, memperkuat persaudaraan, serta membawa rahmat dan keberkahan dunia akhirat. Silaturahmi adalah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat hubungan sosial.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan umatnya untuk bersilaturahmi. Apa saja manfaat bersilaturahmi?

Wajib Tahu! Inilah Manfaat Silaturahmi Bagi Kita - Umroh.comNabi Muhammad SAW memerintahkan silaturahmi karena manfaatnya luar biasa, yaitu memperpanjang umur, melapangkan rezeki, mendapat rahmat Allah, menjauhkan dari neraka, menjadi pribadi mulia (dicintai Allah), mempererat kerukunan, serta menghapus dosa, bahkan menjanjikan jalan menuju surga bagi yang melaksanakannya. Ini adalah ibadah penting yang memperkuat hubungan sosial dan spiritual, serta membawa keberkahan dunia akhirat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |