8 Adab Bermedia Sosial Menurut Islam, dari Tabayyun hingga Dialog Santun

1 month ago 45

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan media sosial menghadirkan ruang baru bagi interaksi manusia, namun sekaligus menjadi permasalah serius degradasi akhlak dan etika komunikasi. Maka itu, penting bagi kita untuk memahami adab bermedia sosial menurut Islam agar tak 'kekablasan' memaknai era kebebasan ini.

Dalam perspektif syariat, media sosial yang telah menjadi ruang interaksi baru menuntut adab dan akhlak mulia sebagaimana diajarkan Islam. Setiap ucapan dan tulisan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk berkata benar dan menjaga lisan, sebagaimana firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Q.S. Al-Ahzab: 70). Prinsip ini menegaskan bahwa komunikasi digital harus dilandasi kejujuran, kesantunan, dan niat baik.

Di sisi lain, Islam juga menekankan kewajiban tabayyun atau klarifikasi informasi sebelum menyebarkannya, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Hujurat: 6, agar umat terhindar dari dosa menyebarkan hoaks, fitnah, dan kebencian di ruang digital.

Berikut ini adalah ulasan mengenai adab bermedia sosial, disarikan dari riset Mhd Safuan & Kemas Ridho Aufa dalam jurnal "Adab Komunikasi Dalam Islam: Bijak Dalam Bermedia Sosial" dan Harliza Lahfa Ma'ajidah, dkk. dalam jurnal "Etika Bersosial Media dalam Perspektif Al-Qur'an".

Merujuk kedua jurnal yang mengutip pendapat ulama klasik dan kontemporer, adab bermedia sosial dalam Islam terbagi menjadi beberapa unsur utama berikut:

1. Bahasa yang Baik dan Santun

Perkataan yang baik (qaulan kariman) adalah inti dari komunikasi Islami yang sehat. Bahasa yang sopan tidak hanya mencerminkan akhlak individu, tetapi juga mencegah konflik sosial yang sering muncul akibat komentar kasar atau provokatif.

Dalam tafsir komunikasi ini, ulama tradisional seperti Imam Nawawi di Riyadhus Shalihin menegaskan pentingnya menjaga lisan, karena “setiap anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk lidah”.

Prinsip ini diproyeksikan ke dunia digital sebagai kewajiban menahan diri dari ujaran yang menyakiti atau merendahkan martabat orang lain.

2. Penyebaran Informasi yang Bermanfaat dan Benar

Salah satu komponen adab yang paling penting adalah konten yang mencerdaskan. Media sosial tidak hanya arena ekspresi, tetapi juga sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, dan motivasi yang menguatkan umat.

Bermedia sosial dengan informasi yang mencerdaskan merupakan bagian dari adab komunikasi. Nilai ini sejalan dengan konsep fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), yakni mendorong setiap pengguna Muslim aktif berkontribusi positif dengan konten yang mendidik.

3. Larangan Menyebarkan Hoaks, Fitnah, dan Ujaran Kebencian

Al-Qur’an secara tegas mengecam mereka yang menyebarkan kabar bohong, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian, karena hal tersebut merusak keharmonisan umat dan melanggar nilai moral Islam. 

Seseorang dituntut untuk melakukan validasi informasi sebelum membagikannya kepada orang lain, agar tak ikut menjadi bagian dari penyebaran kebohongan.

Ulama kontemporer seperti M. Z. Al-Ayyubi dalam kajiannya tentang etika media sosial menghubungkan prinsip larangan hoaks dengan kewajiban tabayyun dalam Q.S. Al-Hujurat: 6, yaitu tidak menyebar kabar tanpa pemeriksaan terlebih dahulu.

4. Sikap Santun dalam Perdebatan

Al-Qur’an dalam Q.S. An-Nahl: 125 mengajarkan bahwa komunikasi yang baik harus dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik (mau’izah hasanah), serta diskusi yang santun (mujadalah bil ihsan).

Prinsip ini relevan dalam konteks media sosial yang sering memicu debat panas dan perpecahan. Oleh sebab itu, sejak dini, anak dan remaja Muslim perlu dilatih untuk menghormati perbedaan pendapat secara bijak, menghindari hinaan atau provokasi . Komunikasi yang beradab menciptakan ruang diskusi sehat, bukan permusuhan.

5. Menghindari Riya’ (Pamer Diri)

Salah satu adab fundamental dalam Islam adalah ikhlas dalam setiap amal, termasuk aktivitas digital. Media sosial sangat rentan menjadi sarana riya’, yakni melakukan kebaikan untuk dilihat dan dipuji manusia, bukan karena Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Kitab Riya’, menjelaskan bahwa riya’ adalah penyakit hati yang “merusak amal sebagaimana api membakar kayu bakar.”

Dalam konteks media sosial, amal seperti sedekah, ibadah, atau nasihat agama yang dipublikasikan tanpa kebutuhan dakwah yang jelas dapat berubah dari ibadah menjadi dosa batin. Karena itu, adab bermedia sosial menuntut kontrol niat, apakah konten diunggah untuk maslahat umat atau sekadar pencitraan diri.

6. Menjaga Kehormatan dan Privasi Diri serta Orang Lain

Adab bermedia sosial juga mencakup kewajiban menjaga kehormatan (ḥifẓ al-‘ird) dan privasi, baik milik sendiri maupun orang lain. Islam melarang membuka aib, menyebarkan data pribadi, atau mengumbar hal-hal yang seharusnya ditutupi.

Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa membuka aib orang lain—meskipun benar—tetap haram jika tidak ada maslahat syar’i. Dalam konteks media sosial, menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi, konflik keluarga, atau kesalahan individu termasuk pelanggaran adab Islam, karena bertentangan dengan prinsip satr al-‘aib (menutup aib).

Komponen ini menjadi sangat relevan di era digital, di mana satu unggahan dapat merusak martabat seseorang secara luas dan permanen.

7. Menghindari Konten Sia-sia dan Melalaikan

Islam tidak hanya melarang yang haram, tetapi juga menganjurkan meninggalkan hal yang sia-sia (laghw), yakni aktivitas yang tidak membawa manfaat dunia maupun akhirat. Media sosial sering dipenuhi konten hiburan berlebihan, perdebatan kosong, dan tren yang melalaikan.

Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang beriman adalah mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.” (Q.S. Al-Mu’minun: 3)

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa laghw mencakup segala ucapan dan perbuatan yang “tidak mengandung kebaikan dan tidak mendekatkan diri kepada Allah.”

Dalam perspektif adab bermedia sosial, prinsip ini menuntut selektivitas: tidak semua tren perlu diikuti, tidak semua isu perlu dikomentari, dan tidak semua konten layak dikonsumsi atau dibagikan.

8. Menyadari Tanggung Jawab Hisab atas Jejak Digital

Komponen penting lain adalah kesadaran pertanggungjawaban akhirat. Setiap tulisan, komentar, dan unggahan termasuk perbuatan yang dicatat dan akan dihisab.

Allah SWT berfirman:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (Q.S. Qaf: 18)

Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh bentuk ekspresi manusia, baik lisan maupun tulisan. Dalam konteks modern, para ulama kontemporer menegaskan bahwa tulisan digital adalah bagian dari “ucapan” yang memiliki konsekuensi hukum dan moral. Kesadaran hisab inilah yang menjadi fondasi pengendalian diri dalam bermedia sosial.

People Also Ask:

Apa saja adab bermedia sosial dalam Islam?

5 Tips Etika Bermedia Sosial dalam Islam - Selamat Datang di ...5 Tips Etika Bermedia Sosial dalam Islam1) Jadikan Sebagai Sarana untuk Menebar Kebaikan. ...2) Mengingat Hisab atas Segala Perbuatan. ...3) Lakukan Kroscek Sebelum Berpendapat (Tabayun) ...4) “CCTV” di Kedua Bahu. ...5) ‎Ruang Keikhlasan Tanpa Mengumbar Riya.

Apa saja etika Islam terkait media sosial?

Kesimpulannya, etika media sosial dalam perspektif Islam kontemporer menekankan pentingnya menjaga tata krama dan perilaku yang baik, menjaga privasi, menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat, serta menumbuhkan toleransi dan harmoni antar sesama.

Apa saja 5 etika dalam bermedia sosial?

5 Etika Bermedia Sosial yang Bikin Damai Dunia Online - ZahirLima etika utama bermedia sosial adalah berpikir sebelum posting, menghormati privasi dan orang lain (hindari ujaran kebencian/bullying), verifikasi informasi (jangan sebarkan hoaks), gunakan bahasa sopan (hindari kata kasar/toxic), dan jaga informasi pribadi, karena media sosial mencerminkan diri dan berpotensi memengaruhi orang lain secara luas, jadi penting untuk bersikap bijak, bertanggung jawab, dan membangun interaksi positif.

7 Apa saja jenis media sosial?

Jenis-Jenis Media SosialJejaring Sosial (Social Networking Sites) ...Media Berbagi Gambar dan Video (Media Sharing Networks) ...Forum Diskusi dan Komunitas Online (Discussion Forums) ...Media Sosial Blog dan Microblogging. ...Media Sosial Profesional. ...6. Media Sosial Berbasis Live Streaming. ...Media Sosial Berbasis Pesan Instan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |