Apakah Boleh Niat Puasa Sunnah di Pagi Hari setelah Bangun Tidur, Apa Hukumnya?

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Puasa sunnah sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, terkadang seseorang lupa, atau karena berbagai penyebab, tak berniat puasa pada malam harinya. Lantas, apakah boleh niat puasa sunnah di pagi hari setelah bangun tidur,  Bagaimana hukumnya?

Sebagaimana diketahui, niat merupakan rukun penting dalam setiap ibadah, termasuk puasa sunnah. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam praktiknya, terkadang seorang muslim bangun tidur di pagi hari dan baru teringat ingin melaksanakan puasa sunnah. Lantas, bolehkah dia melafalkan niat puasa sunnah di pagi hari. Pertanyaan berikutnya yang muncul, apakah puasanya sah?

Artikel ini akan mengulas tentang niat puasa sunnah di pagi hari, merujuk ebook Fiqih Puasa Praktis, karya Buya Yahya, Buku Puasa yang Masyru' dan Tidak Masyru', karya Isnan Ansory, Lc, M.Ag, serta sumber relevan lainnya. Simak selengkapnya.

Bolehkah Niat Puasa Sunnah di Pagi Hari? Pandangan Ulama Madzhab

Para ulama sepakat bahwa puasa wajib (seperti puasa Ramadhan, qadha', nadzar, dan kafarat) wajib diniatkan pada malam hari, sejak terbenam matahari hingga terbit fajar. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Hafshah RA: "Barangsiapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits ini berlaku khusus untuk puasa yang hukumnya wajib. Sementara untuk puasa sunnah, mayoritas ulama memberikan kelonggaran (rukhshah). Berikut pandangan ulama madzhab tentang waktu niat puasa sunnah:

1. Mazhab Syafi'i dan Hanbali

Menurut Mazhab Syafi'i dan Hanbali, niat puasa sunnah boleh dilakukan di siang hari sebelum tergelincirnya matahari (zawal). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (8:33) menegaskan bahwa dalil dari hadits Aisyah RA menjadi landasan kebolehan ini, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.

2. Mazhab Hanafi

Mazhab Abu Hanifah memberikan kelonggaran lebih luas. Menurut beliau, niat puasa fardhu (yang memiliki waktu tertentu) dan puasa sunnah dapat dilakukan di siang hari selama belum tergelincir matahari. Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 187 yang membolehkan makan dan minum hingga terbit fajar.

3. Mazhab Maliki

Mazhab Maliki juga membolehkan niat puasa sunnah di siang hari, dengan catatan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Dalil Kebolehan Niat Puasa Sunnah di Pagi Hari

Kebolehan niat puasa sunnah di pagi hari salah satunya adalah hadits Aisyah RA tentang puasa sunnah di pagi hari:

Dari Aisyah Ummul Mukminin RA, ia berkata: "Pada suatu hari, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, 'Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk dimakan?' Kami menjawab, 'Tidak ada.' Beliau berkata, 'Kalau begitu, saya akan berpuasa.' Kemudian di hari lain beliau datang dan kami berkata, 'Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kurma, samin, dan tepung).' Maka beliau pun bersabda, 'Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi aku sudah berniat puasa.' Lalu beliau menyantapnya." (HR. Muslim, no. 1154).

Imam an-Nawawi RA dalam Shahih Muslim menegaskan kebolehan melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. Ini menunjukkan bahwa kebolehan niat puasa sunnah di pagi hari merupakan kesepakatan mayoritas ulama.

Hadits ini mengandung dua pelajaran penting:

  • Puasa sunnah boleh diniatkan di siang hari sebelum waktu zawal.
  • Puasa sunnah boleh dibatalkan (dengan makan) di siang hari karena ia hanya puasa sunnah.

Imam an-Nawawi menambahkan bahwa meskipun demikian, disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa sunnah tersebut.

Penjelasan Ulama tentang Niat Puasa Sunnah Pagi atau Siang Hari

Dalam Ebook Fiqih Puasa Praktis, Buya Yahya menjelaskan, untuk puasa sunah tidak diharuskan niat pada malam harinya akan tetapi boleh berniat di pagi hari dengan dua syarat:

  • Belum tergelincir matahari
  • Belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa seperti makan atau minum.

Buya Yahya juga menganjurkan agar umat Islam melakukan niat puasa selama satu bulan penuh. Dengan niat di awal bulan, apabila ada hari tertentu lupa berniat, puasanya tetap sah.

Untuk kondisi benar-benar lupa dan tidur kebablasan di pagi hari, Buya Yahya memberikan solusi dengan mengikuti Mazhab Imam Abu Hanifah. Syekh Malibari dalam kitab Fathul Mu'in-nya mengisyaratkan, barang siapa di pagi harinya dia lupa belum niat, dia ingin berpuasa, hendaknya niat mengikuti Mazhab Abu Hanifah.

Syarat Niat Puasa Sunnah di Pagi Hari

Meski diperbolehkan niat puasa sunnah di pagi hari, namun ada beberaopa syarat agar puasanya sah. Berdasarkan kesepakatan para ulama, niat puasa sunnah di pagi hari (setelah bangun tidur) tetap sah dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Batas Waktu Niat

Niat harus dilakukan sebelum tergelincirnya matahari (zawal), yaitu sebelum masuk waktu Zuhur. Jika matahari sudah tergelincir, maka tidak boleh lagi melakukan niat puasa sunnah.

2. Belum Melakukan Hal yang Membatalkan Puasa

Sejak terbit fajar hingga waktu niat, seseorang belum makan, minum, atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa.

3. Niat dalam Hati Cukup, Melafalkan Sunnah

Meskipun niat cukup di dalam hati, melafalkannya dengan lisan dianjurkan untuk membantu konsentrasi hati. Bahasa yang digunakan pun bebas, asalkan maknanya jelas.

4. Khusus Puasa Sunnah Mutlak vs Mu'ayyan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan perbedaan penting:

  • Puasa sunnah mutlak (tidak terkait waktu tertentu, seperti puasa Senin Kamis reguler atau puasa karena ingin berpuasa saja) boleh diniatkan di pagi hari.
  • Puasa sunnah mu'ayyan (terkait dengan waktu tertentu, misalnya puasa Ayyamul Bidh atau puasa enam hari Syawwal) disyaratkan tabyiyt (niat di malam hari), karena puasa ini sudah terikat dengan waktu tertentu.

Namun, jika seseorang lupa dan bangun tidur di pagi hari, ia tetap bisa berniat mengikuti Mazhab Abu Hanifah atau mazhab yang memberikan kelonggaran.

Macam-Macam Puasa Sunnah

Berdasarkan buku "Puasa: Antara Yang Masyru' dan Tidak Masyru'" karya Isnan Ansory, Lc., M.Ag (Rumah Fiqih Publishing, 2019), puasa sunnah diklasifikasikan menjadi dua jenis: puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah yang tidak terikat waktu, boleh dilakukan kapan saja) dan puasa sunnah muqayyad (puasa yang terikat dengan bulan atau hari tertentu).

Berikut adalah macam-macam puasa sunnah beserta dalil dan keutamaannya:

1. Puasa Senin Kamis

Merupakan puasa sunnah yang paling sering dipraktikkan Rasulullah SAW. Dasarnya adalah hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya amal-amal manusia diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai saat amalku diperlihatkan, aku sedang dalam keadaan berpuasa." (HR. Abu Daud dan Nasai)

2. Puasa Ayyamul Bidh (Tanggal 13, 14, 15 Hijriah)

Puasa tiga hari setiap bulan yang pahalanya seperti puasa sepanjang tahun. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa tiga hari setiap bulan, dan Ramadhan ke Ramadhan, ini semua terhitung puasa seumur hidup." (HR. Muslim)

3. Puasa Syawal (6 Hari Setelah Idul Fitri)

Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Muslim: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun."

4. Puasa Asyura (9, 10, dan 11 Muharram)

Puasa Asyura (10 Muharram) diyakini dapat menghapus dosa setahun yang lalu, sementara puasa Tasu'a (9 Muharram) dianjurkan untuk membedakan dengan puasa orang Yahudi. Dalilnya:

"Puasa hari Arafah itu menghapus dosa tahun sebelum dan sesudahnya. Dan puasa hari Asyura itu menghapus dosa tahun sebelumnya." (HR. Muslim)

5. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Sangat dianjurkan bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, dapat menghapus dosa dua tahun: satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. (HR. Muslim)

6. Puasa Bulan Haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah kecuali hari raya, Muharram, Rajab)

Berdasarkan firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 36 dan hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim. Puasa di bulan Muharram adalah puasa sunnah terbaik setelah Ramadhan.

7. Puasa Daud (Sehari puasa, sehari berbuka)

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau puasa sehari dan berbuka sehari." (HR. Bukhari)

8. Puasa di Bulan Sya'ban

Dari Aisyah RA, ia berkata: "Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW memperbanyak puasa dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya dari pada bulan Sya'ban." (HR. Muslim).

Contoh Lafal Niat Puasa Sunnah di Pagi Hari setelah Bangun Tidur

Berikut adalah bacaan niat untuk beberapa puasa sunnah yang dapat dibaca di pagi hari (setelah bangun tidur, sebelum waktu zuhur, dan belum makan/minum):

Niat Puasa Sunnah Senin (di Pagi Hari)

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnati yaumil itsnaini lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah hari Senin ini karena Allah Ta'âlâ."

Versi ringkas: 

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumil itsnaini sunnatan lillâhi ta'âlâ

Niat Puasa Sunnah Kamis (di Pagi Hari)

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ الْخَمِيسِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnati yaumil khamîsi lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah hari Kamis ini karena Allah Ta'âlâ."

Versi ringkas:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْخَمِيسِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumil khamîsi sunnatan lillâhi ta'âlâ

People also Ask:

Apakah boleh berniat puasa sunnah di pagi hari?

Boleh, niat puasa sunnah (seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dll) diperbolehkan di pagi atau siang hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak fajar. Batas waktu berniat adalah sebelum matahari tergelincir (waktu zuhur).

Kapan batas waktu niat puasa sunnah?

Batas niat puasa sunnah adalah dari malam hari hingga sebelum waktu zawal (matahari tergelincir/waktu Dzuhur), asalkan belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa sejak fajar

Apakah boleh niat puasa di pagi hari karena kesiangan?

Kesiangan dan lupa niat puasa Ramadan di malam hari tetap diwajibkan meneruskan puasa. Menurut mayoritas ulama (mazhab Syafi'i), puasa hari itu sah, namun wajib mengqadha (mengganti) di hari lain. Jika mengikuti mazhab Hanafi atau Maliki, puasa Anda dianggap sah tanpa perlu mengganti, asalkan niat di pagi hari dan belum makan/minum.

Apakah boleh puasa sunnah tanpa sahur dan niat di pagi hari?

Apakah Puasa Tetap Sah Jika Tidak Sahur? Puasa tetap sah meskipun seseorang tidak sahur. Sahur bukan rukun maupun syarat sah puasa. Jadi, jika kamu tidak sahur karena tertidur atau alasan tertentu, puasa tetap dapat dilanjutkan hingga waktu berbuka.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |