AS Setujui Penjualan Senjata Hampir US$2 Miliar ke Saudi

8 hours ago 4

DEPARTEMEN Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Rabu 15 Juli 2026 menyetujui penjualan senjata senilai sekitar US$1,96 miliar (sekitar Rp35,24 triliun) kepada Arab Saudi.

"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan salah satu Sekutu Utama non-NATO yang berperan sebagai kekuatan yang menjaga stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Kawasan Teluk," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah siaran pers seperti dilansir Xinhua dan dikutip Antara.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

BAE Systems akan menjadi kontraktor utama, kata departemen tersebut.

Langkah itu diambil seiring meningkatnya ketegangan antara pasukan Houthi di Yaman dan Arab Saudi.

Langkah ini juga diambil di tengah meningkatnya konfrontasi antara AS dan Iran, dengan Washington memperkuat operasi militernya terhadap Teheran setelah memberlakukan kembali blokade laut.

Eskalasi Houthi-Saudi

Seperti dilansir The Business Standard, gerakan Houthi Yaman menembakkan rudal ke arah Arab Saudi setelah menuduh kerajaan tersebut mengebom sebuah bandara yang berada di bawah kendali mereka pada Senin 13 Juli. Langkah ini memutus gencatan senjata selama empat tahun dalam konflik antara Saudi dan kelompok Syiah yang bersekutu dengan Iran.

Arab Saudi mencegat rudal-rudal yang "diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah wilayah selatan," demikian klaim juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi di Yaman melalui platform X.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan mereka telah menargetkan bandara internasional di Abha, Arab Saudi, ibu kota wilayah pegunungan selatan yang berbatasan dengan Yaman, tempat banyak warga Saudi menghindari panasnya musim panas.

Serangan tersebut merupakan serangan pertama yang diklaim oleh Houthi terhadap Arab Saudi sejak gencatan senjata informal diberlakukan pada Maret 2022 setelah serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Saudi.

Pesawat Iran

Sebelumnya pada Senin, gerakan Houthi—yang menguasai wilayah utara Yaman—menuduh Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap bandara internasional di Sanaa dan bersumpah akan melakukan pembalasan. Pihak Houthi menyebut serangan hari itu sebagai "agresi terang-terangan" dan menyatakan bahwa mereka telah mengakhiri masa de-eskalasi.

Mereka juga memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi sampai "blokade" terhadap bandara Sanaa dicabut.

Serangan terhadap bandara Sanaa diklaim oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional—yang mendapat dukungan kuat dari Riyadh, tempat banyak anggotanya bermukim.

Kementerian Pertahanan pemerintah Yaman menyatakan bahwa landasan pacu di Bandara Internasional Sanaa telah dijadikan sasaran untuk mencegah pesawat Iran mendarat, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Yaman.

Pihaknya menyatakan bahwa pasukan pemerintah akan merespons setiap pesawat musuh yang melanggar wilayah udara Yaman "dengan segala cara yang tersedia" dan menganggap Iran bertanggung jawab.

Seorang juru bicara angkatan bersenjata kemudian mengatakan bahwa pesawat tersebut telah mendarat di bandara Hodeidah yang dikuasai kelompok Houthi.

Tidak jelas apakah ada upaya yang dilakukan untuk mencegah pesawat itu mendarat di Hodeidah, yang terletak sekitar 150 km di barat daya Sanaa, di pesisir Laut Merah Yaman.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |