SETELAH berita Tempo berjudul “Kisah Agen CIA Palsu Menyusup ke Prabowo dan Elite Indonesia” terbit, di jagat maya muncul berbagai konten yang membantah isi laporan tersebut. Investigasi itu mengungkap penipuan agen Central Intelligence Agency, badan intelijen luar negeri Amerika Serikat, palsu bernama Gustav Srivastava terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Di platform X, akun @epiiee118172 mengunggah konten yang membantah bahwa Presiden Prabowo Subianto ditipu oleh Gustav Srivastava. “Tidak ada kerugian maupun perjanjian sah dengan perusahaan penipu itu,” tulis akun dengan 10 pengikut ini pada Senin, 6 Juli 2026, pukul 14:37 WIB.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Akun tersebut menautkan artikel dari blog Kompasiana bertajuk “Meluruskan Fakta, Prabowo Ternyata Tak Pernah Tertipu Gustav Srivastava” diserta tagar #HoaxPenipuanPresiden. Unggahan itu muncul kurang dari satu jam setelah artikel Kompasiana terbit.
Tim Cek Fakta Tempo berupaya menghubungi akun @epiiee118172. Namun, ia memblokir akses pesan dan tidak membalas permintaan wawancara yang diajukan melalui komentar unggahan.
Hingga tiga jam, 55 akun lain mengeluarkan 114 cuitan dengan tagar serupa. Seluruh unggahan itu berakhir pada pukul 17:42 WIB. Pada rentang waktu yang sama, unggahan dengan tagar #HoaxPenipuanPresiden muncul sedikitnya 44 kali di Instagram. Ada 21 akun yang menggerakkan tagar tersebut.
Konten Instagram dengan tagar #HoaxPenipuanPresiden setelah laporan investigasi “Kisah Agen CIA Palsu Menyusup ke Prabowo dan Elite Indonesia” terbit pada 28 Juni 2026. Sumber: Instagram
Tim Cek Fakta Tempo menelisik jaringan akun-akun di X dan Instagram yang memuat tagar #HoaxPenipuanPresiden pada 6-7 Juli 2026. Tempo bersama tim Monash Data and Democracy Research Hub (MDDRH) mengekstrak data dari X dengan alat pemantau media sosial Brandwatch. Adapun data dari Instagram dikumpulkan bersama ThinkFi, perusahaan di India.
Hasil penelusuran menunjukkan berbagai unggahan itu ditengarai sebagai operasi pengaruh di media sosial. Akun-akun itu pun bergerak secara terkoordinasi untuk membantah laporan investigasi Tempo serta Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP).
Laporan investigasi yang dirilis pada 28 Juni 2026 itu menyingkap siasat Gaurav Srivastava, warga negara Amerika Serikat kelahiran India, yang mendaku petugas tidak resmi intelijen luar negeri Amerika Serikat (CIA). Dengan topeng itu, Srivastava menjalin hubungan dengan Prabowo sejak menjadi Menteri Pertahanan dan adiknya, Hasjim Djojohadikusumo, sejak 2020.
Benarkah penipuan Gaurav Srivastava terhadap Prabowo Subianto saat menjadi Menteri Pertahanan adalah hoaks?
Narasi Utama Akun-akun Pro-Prabowo dan TNI
Sebanyak 115 unggahan di X menyebarkan narasi dalam tiga format berbeda. Pertama, 44 unggahan menyematkan tautan artikel Kompasiana. Artikel yang terbit 6 Juli 2026 pukul 13:45 tersebut, ditulis seorang yang mengaku bernama Pak Be.
Akun tersebut bergabung di Kompasiana pada 15 Maret 2024. Sejak itu, Pak Be telah menulis 90 artikel yang semuanya mendukung kebijakan pemerintah dan menangkal isu negatif soal Presiden Prabowo Subianto. Pada 5 Juli 2026, misalnya, ia menulis bahwa Prabowo telah menepati janji kepada rakyat. Sehari sebelumnya, ia menyebut Prabowo tegas mengawal MBG.
Tempo telah meminta tanggapan akun Pak Be melalui layanan pesan di Kompasiana. Namun hingga Selasa siang, 14 Juli 2026, akun tersebut tidak memberikan jawaban.
Unggahan bertagar #HoaxPenipuanPresiden pada 6 Juli 2026 yang menyebar dalam rentang tiga jam pada sore hari. Data diolah dengan claude.ai
Pola kedua, terdapat 55 unggahan yang memuat infografis berisi pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Sirait. Poster itu berjudul “Kemenhan Bantah Ada Kontrak dengan Perusahaan Gaurav Srivastava, Penipu Global”.
Sedangkan pada pola ketiga, ada 11 unggahan yang memuat video dengan latar Prabowo Subianto sedang meninjau pesawat jet tempur. Pernyataan narator dalam video sama dengan pernyataan Rico. Pola ini juga mendominasi unggahan di Instagram.
Isi infografis dan video itu menyebut Kementerian Pertahanan memang menandatangani letter of intent (LoI). Namun, surat itu dinilai hanya penjajakan biasa. Tidak ada kontrak antara Kemenhan saat dipimpin Prabowo dengan perusahaan Srivastava.
Kemhan menyatakan setiap kerja sama diputuskan dengan hati-hati dan mengecek latar belakang perusahaan-perusahaan tersebut. “Jadi narasi Prabowo tertipu itu jelas tidak benar. Publik jangan tertipu dengan narasi yang tidak jelas,” kata narator dalam video.
Hasil Investigasi Tempo dan OCCRP
Tempo menginvestigasi jejak Srivastava bersama seorang jurnalis independen dari India sejak Februari 2026. Investigasi melibatkan wawancara terhadap belasan narasumber di Indonesia dan luar negeri. Kolaborasi ini juga memeriksa dokumen, surat elektronik, foto, berkas pengadilan, dan menelusuri sumber terbuka.
Hubungan Srivastava dan Prabowo terjalin sejak tahun 2020. Kedekatan keduanya terlihat dalam berbagai pertemuan seperti saat Prabowo melawat ke Amerika Serikat pada 2020 dan Forum Ketahanan Global di Bali pada 2022. Srivastava juga bolak-balik menyambangi rumah pribadi Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Prabowo melawat ke Washington pada Oktober 2020 setelah menerima undangan Srivastava. Kala itu, Prabowo bertemu Menteri Pertahanan AS Mark Esper membahas modernisasi militer.
Setelah itu, Prabowo menggelar presentasi teknologi pertahanan. Dalam banyak sesi, menurut dua narasumber Tempo yang hadir dalam acara itu, Prabowo dan Srivastava terlihat duduk berdampingan.
Srivastava juga berada di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat Menteri Pertahanan Amerika yang baru, Christopher Miller, berkunjung pada Desember 2020. Foto yang didapatkan Tempo menunjukkan kehadiran Srivastava dalam persamuhan yang membahas penjualan pesawat tempur Amerika ke Indonesia itu.
Prabowo Subianto (kiri) ketika menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Gaurav Srivastava di acara Global Food Security Forum di Bali, 2022. Dok. kemhan.go.id
Kurang dari dua pekan setelah kunjungan Miller ke Indonesia, Kementerian Pertahanan mengeluarkan tiga surat. Warkat tertanggal 22 dan 23 Desember 2020 itu terdiri dari dua letter of of agreement dan letter of intent yang dikirim kepada tiga perusahaan Srivastava.
Dalam surat pertama kepada Orbimo Corporation, Kementerian Pertahanan menyatakan berminat membeli 30 pesawat UH-60 Black Hawk. Sedangkan pada surat kedua yang ditujukan kepada Constentis Corporation, Kementerian Pertahanan menyatakan keinginan membangun pusat komando dan kendali operasi gabungan.
Surat lain, dikirim kepada Zegasus Corporation, berisi rencana pembelian 36 pesawat F-15EX. Ketiga surat itu diakhiri dengan catatan yang sama, yaitu “surat perjanjian ini merupakan perjanjian mengikat terkait dengan pengadaan yang dimaksud”.
Temuan Tempo justru menunjukkan bahwa penerbitan tiga surat itu tidak dilakukan dengan hati-hati. Sebab tiga perusahaan Srivastava tersebut adalah entitas fiktif yang baru didirikan setelah Kementerian Pertahanan mengirimkan surat tersebut.
Sejak 2014, Srivastava juga memiliki rekam buruk. Ia pernah terjerat kasus pelanggaran kontrak dan kecurangan hingga mengabaikan panggilan pengadilan Amerika Serikat. Laporan selengkapnya dapat dibaca di situs Tempo.co dan OCCRP.
Klaim Pengecekan yang Berlebihan
Peneliti dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Beni Sukadis, mengatakan bahwa letter of agreement dan letter of intent memang belum mengikat secara hukum. Namun, penerbitan ketiga surat itu menunjukkan minimnya penyelidikan terhadap rekam jejak perusahaan.
Beni menilai Kementerian Pertahanan tidak melacak latar belakang Srivastava dan pengalamannya dalam bisnis pesawat tempur. Menurut Beni, perjanjian dalam bisnis alutsista dan pertahanan, perlu menerapkan prinsip kehati-hatian.
“Pada tahap itu, Prabowo sudah tertipu karena sampai menerbitkan surat pernyataan niat,” kata Beni saat dihubungi Tempo melalui telepon pada Senin, 13 Juli 2026.
Tempo menghubungi Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait untuk meminta tanggapan atas sebaran narasi penyangkalan atas upaya penipuan Srivastava kepada Prabowo. Namun, hingga Selasa pagi, 14 Juli 2026, Rico tak memberikan jawaban.
Rosy Dewi berkontribusi dalam artikel ini.
Artikel ini bagian dari program kolaborasi Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Tempo, dan Monash Data & Democracy Research Hub.
** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email [email protected]
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4895076/original/042008200_1721293227-20240718-Pendukung_Trump-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5220916/original/022981400_1747295711-cek_fakta_dana_infak_ikn.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533944/original/014241300_1773800350-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-18T091819.082.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430346/original/057356100_1618535827-coffee-cup-with-different-dried-fruits-nuts.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535542/original/015737900_1774058025-kub1.jpg)
