Kardinal Suharyo Kutip Pesan Paus soal Pemimpin Suka Perang

6 hours ago 5

USKUP Agung Keuskupan Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menegaskan bahwa Gereja Katolik menentang keras peperangan yang berkecamuk di Asia Barat. Kawasan tersebut bergejolak setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan perang ke Iran pada penghujung Februari 2026 lalu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kardinal Suharyo mengutip pesan yang diutarakan Paus Leo XIV kepada para pemicu konflik, pada Minggu Palma, tepat pekan lalu.

“Dengan kata-kata yang sangat keras mengenai perang, beliau mengatakan, ‘Doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan’,” ucap Suharyo seusai memimpin Misa Pontifikal Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Jakarta, Minggu, 5 April 2026, dikutip dari keterangan video Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Jakarta.

Suharyo masih mengingat ketika Paus Leo pertama kali menampilkan diri dan berpidato sebagai pemimpin umat Katolik dunia, dari balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Mei 2025. Kala itu, kata Suharyo, kalimat pertama yang diucapkan oleh Paus Leo adalah ‘semoga damai Tuhan menyertai Anda’.

“Itu artinya beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa, ‘Masa kepemimpinan pelayanan saya sebagai Paus, saya akan mengusahakan perdamaian’,” kata Suharyo.

Namun, Suharyo mengingatkan, pemimpin Gereja tidak memiliki alat persenjataan untuk menghentikan konflik. “Yang beliau punya, yang Gereja punya adalah keteguhan moral sebagai implikasi dari iman,” tutur Kardinal Suharyo.

Oleh karena itu, Paus Leo XIV mengeluarkan pernyataan yang keras untuk menentang perang. Suharyo berkata, peperangan hanya akan menimbulkan akibat buruk bagi dunia, bumi, dan umat manusia.

Ia menilai perang di Asia Barat dan segala dampak mengerikan yang terjadi adalah bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional dan terhadap deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Suharyo berujar, Paus Leo telah mengajak umat Katolik untuk setiap hari mendoakan terciptanya perdamaian dunia. Sang Paus, kata Suharyo, bahkan berharap perang bisa selesai sebelum Hari Raya Paskah. Namun hal itu nyatanya tak terjadi.

“Ketika kita berjumpa dengan kekuatan kegelapan yang tampil di dalam pemimpin-pemimpin yang gelap mata, dunianya akan menjadi seperti ini,” ucap Suharyo. “Tapi saya yakin di tengah-tengah kegelapan itu selalu ada, kalaupun bukan terang besar, tetapi lilin kecil yang menerangi kemanusiaan.”

Pada 29 Maret 2026, Paus Leo XIV menyatakan bahwa Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki "tangan yang penuh darah”. Pernyataan yang luar biasa tegas ini disampaikan saat perang Amerika Serikat-Israel ke Iran memasuki bulan kedua.

Berbicara kepada puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Palma, perayaan yang membuka pekan tersuci tahun ini menjelang Paskah bagi 1,4 miliar umat Katolik di dunia, Paus mengatakan bahwa Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang apa pun.

"Inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang," kata Leo, Paus AS pertama, kepada kerumunan di bawah sinar matahari yang cerah seperti dilansir GMA News.

"[Yesus] tidak mendengarkan doa-doa mereka yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: 'Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh darah'," katanya, mengutip sebuah ayat Alkitab.

Leo tidak secara spesifik menyebutkan nama pemimpin dunia mana pun, tetapi ia telah meningkatkan kritik terhadap perang AS-Israel ke Iran dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa pejabat AS telah menggunakan bahasa Kristen untuk membenarkan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang memicu perluasan perang.

Sita Planasari berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Mengapa Masih Ada Persekusi bagi Pemeluk Agama Berbeda

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |