SEBANYAK 14 akun berbahasa Inggris di platform X menyebut Indonesia telah meneken kesepakatan pembelian 42 jet tempur J-10 asal Cina. Nilai transaksinya diklaim mencapai US$ 9 miliar.
Informasi yang beredar sejak 2 Mei 2026 ini telah meraup sekitar 13.500 interaksi warganet. Sejumlah akun menilai keputusan tersebut tepat lantaran performa J-10 dianggap lebih unggul saat digunakan Pakistan melawan India, setahun silam.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Keputusan diambil setelah kinerja J-10C terbukti memuaskan dalam pertempuran udara yang melibatkan Angkatan Udara Pakistan pada Mei 2025 melawan India,” tulis akun Border Watch Pakistan pada Ahad, 3 Mei 2026.
Pemerintah membantah klaim itu. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan pemerintah masih menjajaki berbagai pilihan pesawat tempur yang tersedia di pasar.
“Indonesia belum memutuskan membeli J-10 dari Cina,” kata Rico melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 8 Mei 2026.
Pertempuran udara intensif menandai perang India dan Pakistan di Pahalgam, Kashmir, pada 7-10 Mei 2025. India mengerahkan Dassault Rafale asal Prancis dan Pakistan mengandalkan J-10C produksi Cina. Pada hari pertama, keberhasilan Pakistan menembak jatuh Rafale India menyedot perhatian luas di media sosial.
Indonesia meneken kontrak pengadaan 42 unit Rafale pada 2022-2024. Namun, pada Oktober 2025, Kementerian Pertahanan mengumumkan rencana pembelian Chengdu J-10. Pesawat ini bikinan AVIC Chengdu Aircraft Corporation (CAC), anak perusahaan milik pemerintah Cina, Aviation Industry Corporation of China (AVIC).
Tempo mengidentifikasi dugaan operasi informasi untuk memoles citra Chengdu J-10 sejak perang tersebut pecah. Kolaborasi bersama ThinkFI menemukan keterlibatan aktor pro-Cina dan pro-Pakistan dalam memanipulasi informasi ini.
Asal-Usul Disinformasi Penandatanganan J-10
Akun China Pulse [arsip] di platform X mengawali penyebaran klaim pembelian 42 jet tempur J-10 oleh Indonesia pada 2 Mei 2026. Dalam unggahannya, akun tersebut menyertakan foto J-10 lengkap dengan narasi berbahasa Inggris. Unggahan tersebut menjadi viral karena dibagikan lebih dari dua ribu kali dan disukai 11 ribu akun.
Akun China pulse mengklaim berfokus pada kabar Cina dan dinamika persaingan internasional sejak berdiri di Xihui, Beijing, pada April 2022. Namun, Tempo menemukan jejak pergantian nama akun ini sebanyak enam kali.
Dengan menggunakan alat pelacak Twxpicker, Tempo menelusuri nomor identitas (ID) akun China Pulse yang bersifat permanen. Akun itu memiliki ID 1517523151219044353. Mesin pencari Yandex kemudian menunjukkan bahwa nomor yang sama melekat pada TZ00G sebelum berubah menjadi China Pulse.

Penelusuran lanjutan di X mengungkap akun TZ00G rutin mengunggah konten berbahasa Arab sepanjang 2022-2024. Akun China Pulse baru beralih menggunakan bahasa Inggris pada 2025.
Sejak awal, akun ini gencar menyebarkan informasi positif soal Cina. Memasuki 2026, akun tersebut mulai menebar narasi kedekatan Cina dan Pakistan. Tempo telah mengirimkan permintaan konfirmasi kepada akun China Pulse via X, namun belum memperoleh jawaban hingga Jumat sore, 15 Mei 2026..
Melibatkan Akun Bot, Pro-Cina, dan Pro-Pakistan
Tempo menggandeng ThinkFI, perusahaan riset data India yang kerap mendeteksi manipulasi informasi dan propaganda siber, untuk membedah 1.733 akun penyebar unggahan China Pulse di platform X. Tim mengekstrak data dari kolom deskripsi, nama, lokasi, hingga afiliasi politik pada profil pengguna untuk mengidentifikasi kelompok akun tersebut.
Hasil analisis menunjukkan sekitar 1.300 akun bersifat organik atau dikendalikan oleh manusia. Namun, tim kolaborasi menemukan 52 akun yang diduga kuat dijalankan oleh robot atau bot dengan aktivitas sangat tinggi.
Akun bot dikendalikan oleh program komputer secara otomatis atau semi-otomatis dan bukan manusia. Bot dirancang untuk meniru perilaku seperti menyukai, mengikuti, memberikan komentar, atau mengunggah konten.
Salah satu indikator akun bot adalah jumlah postingan bisa mencapai lebih dari 200 setiap hari. “Perilaku yang mustahil dilakukan oleh manusia,” kata Direktur ThinkFI Rohit Sharma kepada Tempo melalui surat elektronik pada Selasa, 12 Mei 2026 .

Akun @bilim8888 misalnya, rata-rata mengunggah 705 cuitan per hari atau satu tweet setiap dua menit. Analisis yang sama juga mengidentifikasi 77 akun autentik berafiliasi dengan Pakistan, termasuk keterkaitannya dengan partai politik di negara itu seperti Pakistan Muslim League (PML-N), Pakistan Peoples Party (PPP), atau Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI).
Adapun sebanyak 38 akun lain terdeteksi terkait dengan Cina. Beberapa di antaranya bahkan mencantumkan hubungan ideologis dengan Partai Komunis Tiongkok (CCP).
Disinformasi yang Menargetkan Rafale pada 2025
Keterlibatan akun dari Pakistan dan Cina berakar dari perang antara India dan Pakistan pada 7 Mei 2025. Pakistan, satu-satunya negara di luar Cina yang mengoperasikan J-10 sekaligus rudal PL-15 buatan Negeri Tirai Bambu, mengklaim menembak lima jet India. Rinciannya tiga Rafale, satu MiG-29, dan sebuah Su-30.
India mengakui kehilangan pesawat tempur, tapi tak menyebutkan jumlahnya. Penelusuran Reuters menyebut hanya satu unit Rafale yang dilumpuhkan.
Mengutip sejumlah pejabat India dan Pakistan, Reuters melaporkan bahwa performa Rafale bukan persoalan utama. Melainkan, kegagalan intelijen India dalam memetakan jangkauan rudal PL-15 yang ditembakkan J-10C.
Narasi kemenangan J-10 atas Rafale memicu gelombang disinformasi di Indonesia. Tempo mengidentifikasi 475 unggahan di Facebook sepanjang 7-31 Mei 2025 yang mengklaim J-10 Pakistan menjatuhkan tiga hingga lima unit Rafale India. Beberapa unggahan disertai visual dari akal imitasi atau bagian dari gim.
Analisis volume postingan di Facebook periode 7 hingga 31 Mei 2025 dengan narasi J-10C Pakistan berhasil menjatuhkan tiga hingga lima pesawat Rafale India. (Data diolah dengan Claude.ai)
Tempo sebelumnya telah membedah sederet disinformasi terkait dengan isu ini, seperti hoaks temuan puing Rafale, klaim pilot perempuan Pakistan yang merontokkan jet lawan, hingga narasi satu J-10 menghadapi enam Rafale India.
Selain itu, video parodi berjudul My New Plane Got Shot Down dengan irama lagu "Tunak Tunak Tun" karya Daler Mehndi turut viral di Indonesia. Lirik lagu pop India itu sengaja dimodifikasi untuk mengejek jatuhnya jet tempur baru milik New Delhi.

Laporan South China Morning Post menyebut video tersebut merupakan karya Brother Hao, pemengaruh asal Cina. Konten itu tayang perdana di Douyin pada 10 Mei 2025 sebelum merambah platform lain seperti Weibo, QQ, Sohu, dan Zhihu.
Di Indonesia, gelombang disinformasi ini disertai kemunculan tagar #HentikanRafaleDeal di platform X pada 11-27 Juni 2025. Namun, penelusuran Tempo bersama ThinkFI menemukan indikasi kuat adanya kampanye terkoordinasi yang direkayasa di balik gerakan tersebut.
Pola Gerakan Tagar
Kampanye ini mencapai puncaknya pada 11 Juni 2025 dengan total 286 cuitan. Ada pola yang tidak wajar dari kampanye tersebut. Salah satunya, terjadi lonjakan drastis unggahan di X, yaitu 268 cuitan di antaranya beredar hanya dalam waktu satu jam, sejak pukul satu hingga dua siang waktu Indonesia bagian barat.
Kejanggalan lain, tagar tersebut digelorakan oleh akun-akun yang baru dibuat pada 2025, sesaat sebelum operasi dimulai. Penggunaan tagar itu pun memiliki sikulus singkat, langsung hilang atau tenggelam setelah terjadi lonjakan unggahan ekstrem.
Jaringan di balik tagar ini menerapkan pembagian kerja dua tingkat yang sistematis. Akun dengan sedikit pengikut bertugas sebagai penyebar awal konten (seeding). Sedangkan akun dengan jumlah pengikut besar berperan memperkuat narasi melalui fitur balasan (reply) guna meningkatkan visibilitas.
Lonjakan cuitan bertagar #HentikanRafaleDeal pada 11 Juni 2025 pukul 13.00 - 14.00 WIB. (Sumber: thinkFI)
Rohit Sharma menilai pola tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan tagar organik. Menurut dia, percakapan autentik di akar rumput biasanya berkembang secara bertahap, mencapai puncak dalam beberapa hari, lalu menyusut perlahan.
Sebaliknya, gerakan #HentikanRafaleDeal tampak terencana dan dibatasi waktu. “Partisipan dimobilisasi secara serentak dan berhenti segera setelah tugas selesai,” kata Rohit.
Bertujuan Mempengaruhi Opini Publik
Peneliti pascadoktoral Macquarie University, Nava Nuraniyah, menilai perang India-Pakistan 2025 menjadi arena strategis untuk menguji teknologi militer Cina di mata global. Berbeda dengan produsen Barat, teknologi militer Cina belum banyak teruji dalam medan tempur terbuka.
“Informasi kekalahan Rafale memberi keuntungan bagi pemasaran alat-alat militer Cina,” ujar Nava kepada Tempo di Senayan Park, Jakarta Pusat, pada Selasa, 12 Mei 2026.
Nava menjelaskan bahwa operasi informasi ini bertujuan mempengaruhi opini publik demi melegitimasi kebijakan pemerintah dalam membeli alat utama sistem senjata atau alutsista dari negara tertentu. Namun, targetnya bukan hanya Indonesia.
Menurut Nava, Cina berkepentingan menunjukkan taringnya di pasar global karena saat ini baru Pakistan yang menjadi pengguna utama teknologi mereka. “Informasi kekalahan Rafale memberi keuntungan bagi pemasaran alat-alat militer Cina,” ucap Nava.
Pengamat militer dan pertahanan dari lembaga konsultasi pertahanan dan keamanan MARAPI, Beni Sukandi, mengingatkan bahwa pengadaan alutsista sebaiknya tak dipengaruhi opini yang muncul di media sosial. Melainkan, harus mempertimbangkan aspek interoperabilitas atau kemampuan sistem teknologi yang berbeda untuk berkomunikasi dan bertukar data secara aman.
Selama ini, Indonesia mengandalkan pesawat tempur negara barat yang sistem komunikasinya sudah terintegrasi. “Indonesia tak pernah memiliki pesawat tempur dari Cina sehingga adopsi teknologi dan interoperabilitasnya akan sulit,” kata Beni saat dihubungi Tempo pada Rabu, 13 Mei 2026.
Beni menyatakan insiden jatuhnya Rafale dalam perang India-Pakistan tak bisa menjadi acuan tunggal pengadaan jet tempur. Menurut dia, keandalan pesawat dalam perang terbuka sangat bergantung pada ekosistem pendukung, mulai dari keterampilan pilot, sistem komunikasi dan radar, hingga dukungan satelit.
“Dalam kasus India, terjadi kegagalan atau keterlambatan pada sisi informasi, bukan soal performa Rafale,” ujar Beni.
Tempo telah mengirimkan permintaan tanggapan kepada AVIC Aviation Industry Corporation of China melalui surat elektronik. Namun hingga Jumat sore, 15 Mei 2026, mereka tak merespons.
Ahmad Suudi turut berkontribusi dalam artikel ini
Laporan ini bagian dari program Indo-Pacific Resilience Program yang didukung oleh Internews dan Uni Eropa.
** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email [email protected]


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158657/original/067229400_1741665557-kata-mutiara-pagi-hari-islami.jpg)

