Perang Suku di Jayawijaya Tewaskan Dua Orang

8 hours ago 6

KEPOLISIAN Resor Jayawijaya, Papua Pegunungan, bersama Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena menangani konflik antarsuku yang terjadi di wilayah tersebut. Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara mengatakan pihaknya terus melakukan upaya pencegahan dalam menangani perang antarsuku di Wamena.

“Kami jajaran Polres Jayawijaya yang dibantu oleh Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena terus bekerja semaksimal mungkin untuk melerai perang antarsuku ini supaya mencegah terjadinya korban jiwa lagi,” kata Made dikutip dari Antara pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Menurut dia, konflik antara suku Hubla (Kurima) dan suku Lanny (Tiom) bermula dari pemalangan jalan oleh kelompok masyarakat Lanny Jaya pada 12 Juni 2024. Pemalangan itu terjadi setelah kecelakaan lalu lintas di Kampung Megapura, Distrik Asolokobal, pada 17 Mei 2024.

Kecelakaan itu memicu saling serang antara kelompok masyarakat Lanny Jaya dan kelompok masyarakat gabungan dari Kurima, Asotipo, serta Asolokobal. Bentrokan tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia. “Kemudian masalah tersebut diselesaikan secara musyawarah adat dengan kesepakatan denda adat sebesar Rp 2 miliar dan 30 ekor babi,” ujarnya.

Made menjelaskan pihak terkait membayarkan denda adat tersebut pada 6 Mei 2026. Namun, kelompok Lanny Jaya menolak hasil kesepakatan karena menilai jumlah denda yang dibayarkan tidak sesuai.

Akibatnya, kelompok tersebut melakukan penyerangan dengan berjalan kaki melalui Jembatan Gantung Wouma atau Kali Uwe. Penyerangan itu menyebabkan jembatan gantung terputus. “Putusnya jembatan gantung tersebut karena kelebihan beban dan mengakibatkan korban jiwa serta memicu kemarahan dari kelompok masyarakat Lanny Jaya yang berujung pada aksi penyerangan lanjutan dengan kelompok massa yang lebih besar dan meluas,” ujarnya.

Made menyatakan perang suku antara Hubla (Kurima) dan Lanny (Tiom) kembali terjadi pada 15 Mei 2026 di beberapa lokasi, seperti Jalan Diponegoro dan Pasar Wouma. Bentrokan tersebut menyebabkan korban jiwa dan korban luka berat. “Terjadi juga pembakaran beberapa rumah dan honai yang merupakan wilayah permukiman masyarakat setempat di sekitar area perang suku Kali Uwe Wouma. Perkembangan situasi dan kondisi membuat kerugian material belum dapat didata,” ujarnya.

Selain itu, perang suku juga terjadi antara suku Dani (Wamena) dan suku Lanny (Tiom) di Kampung Muai, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya. “Dampak dari perang suku tersebut mengakibatkan adanya korban dengan luka ringan,” katanya.

Made mengatakan konflik antarsuku di beberapa lokasi tersebut menyebabkan 21 orang menjadi korban. Dari jumlah itu, dua orang meninggal, empat orang mengalami luka berat, dan 15 orang mengalami luka ringan. Selain itu, sebanyak 609 warga mengungsi ke Polres Jayawijaya akibat konflik antarsuku yang terjadi di Wouma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Pilihan Editor: Mengapa Kekerasan Polisi di Papua Berulang Terus

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |