Liputan6.com, Jakarta - Perbedaan qadarullah dan takdir dalam ajaran Islam sering kali menjadi pertanyaan yang menggelitik bagi umat Muslim. Kedua istilah ini kerap digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, namun sejatinya memiliki nuansa makna yang berbeda dalam khazanah keilmuan Islam.
Qadarullah (قَدَرُ اللَّهِ) secara harfiah berarti "ketetapan Allah" atau "takdir-Nya", sementara takdir (taqdir) merupakan bentuk masdar dari kata qaddara yang berarti penentuan atau penetapan ukuran.
Memahami perbedaan mendasar antara qadarullah dan takdir menjadi bagian keyakinan fundamental dalam rukun iman yang keenam. Rasulullah SAW bersabda: "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk" (HR. Muslim).
Kekeliruan dalam memahami kedua istilah ini dapat berimplikasi pada cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Sebagian orang menganggap qadarullah sebagai alasan untuk berpasrah tanpa usaha, sementara sebagian lain memaknai takdir semata-mata sebagai hasil ikhtiar manusia. Pemahaman yang tepat tentang keduanya akan melahirkan sikap hidup yang seimbang antara tawakal dan ikhtiar.
Merujuk Buku Kupas Tuntas Qadha dan Qadar karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia karya Mujtaba Musawi Lari, serta literatur lainnya, berikut ini adalah Artikel ini ulasan lengkap mengenai perbedaan qadarullah dan takdir.
Perbedaan Qadarullah dan Takdir dalam Ajaran Islam
1. Perbedaan Pengertian Qadarullah dan Takdir
Secara bahasa, qadarullah (قَدَرُ اللَّهِ) berasal dari kata qadara yang bermakna kemampuan, kadar, atau kekuatan yang dimiliki. Kata qaddara (bentuk berimbuhan dari qadara) memiliki makna menentukan kemampuan atau keadaan.
Qadarullah secara istilah berarti ketetapan, hukum, perintah, atau kehendak Allah SWT. Ungkapan ini merujuk pada keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta—baik yang dianggap baik maupun buruk oleh manusia—telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan ilmu, kehendak, dan kebijaksanaan-Nya.
Dalam hadis riwayat Shahih Muslim, Sunan Ibn Majah, dan Musnad Ahmad, Rasulullah SAW mengajarkan ucapan: "Qadarullah wa maa syaa'a fa'ala" (takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki, telah terjadi). Ucapan ini diucapkan ketika seseorang tertimpa musibah atau menghadapi kejadian di luar dugaannya, sebagai bentuk penyerahan diri kepada ketetapan Allah.
Sementara, takdir (taqdir) secara etimologis berasal dari akar kata yang sama dengan qadar, yaitu qaddara-yuqaddiru-taqdiran. Kata ini berarti penentuan, pengukuran, atau penetapan ukuran. Dalam pengertian istilah, takdir adalah segala sesuatu yang Allah tetapkan dahulu kala yang akan terjadi pada makhluk-Nya.
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Lum'atul I'tiqad, takdir memiliki empat tingkatan: ilmu Allah (al-ilm), penulisan (al-kitabah), kehendak (al-masyi'ah), dan penciptaan (al-khalq). Keempat tingkatan ini harus diimani secara utuh oleh setiap Muslim.
2. Dari Segi Redaksi dan Bentuk Kata
Perbedaan paling mendasar antara qadarullah dan takdir terletak pada redaksi dan bentuk katanya. Qadarullah merupakan gabungan dua kata (mudhaf-mudhaf ilaih): qadar (takdir) yang dinisbatkan kepada Allah.
Secara harfiah, qadarullah berarti "takdirnya Allah". Sementara takdir (taqdir) adalah bentuk masdar (kata benda dasar) dari fi'il qaddara yang berarti proses penentuan atau penetapan.
Qadarullah secara spesifik merujuk pada ketetapan Allah, sedangkan takdir dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas, termasuk untuk menyebut proses penetapan takdir oleh Allah maupun hasil penetapan tersebut.
2. Dari Segi Cakupan Makna
Qadarullah memiliki cakupan makna yang lebih spesifik karena langsung dinisbatkan kepada Allah. Istilah ini menegaskan bahwa semua ketetapan berasal dari Allah semata. Sementara takdir memiliki cakupan yang lebih luas dan dapat digunakan untuk merujuk pada:
• Ketetapan Allah secara umum
• Proses penetapan takdir oleh Allah
• Hasil dari penetapan tersebut yang terwujud dalam kehidupan
Menurut Ibnu Atha'illah dalam kitabnya, takdir (qadar) diserupakan dengan dinding kokoh yang membentengi suatu negara—semangat dan usaha manusia tidak akan mampu menembusnya. Namun demikian, takdir bukan berarti manusia pasrah tanpa usaha, melainkan ia harus tetap berikhtiar sesuai kemampuannya.
3. Dari Segi Hubungan dengan Qada
Perbedaan qadarullah dan takdir juga dapat dipahami melalui relasinya dengan konsep qada. Para ulama menjelaskan bahwa qada adalah ketetapan Allah sejak zaman azali (sebelum penciptaan) sesuai dengan iradah-Nya. Sementara qadar (takdir) adalah perwujudan atau realisasi dari ketetapan tersebut.
Dengan kata lain, qada adalah rencana Allah yang bersifat azali dan tidak dapat diubah, sedangkan qadar (takdir) adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah yang terwujud dalam kehidupan. Hubungan keduanya diibaratkan seperti rencana dan perbuatan, qada adalah rencana, qadar adalah perwujudannya.
Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa ketika Allah berkehendak kemudian menuliskannya, itulah yang dinamakan qadar. Kemudian ketika terjadi dan diciptakan, itulah yang dinamakan qada. Namun ada pula ulama yang berpendapat sebaliknya. Pendapat yang paling rajih (kuat) adalah bahwa ketika kedua kata tersebut disebut bersamaan, qada dan qadar memiliki makna masing-masing sebagaimana dijelaskan di atas.
4. Dari Segi Sifat: Mu'allaq dan Mubram
Para ulama membagi takdir menjadi dua jenis: takdir mubram dan takdir mu'allaq. Perbedaan ini penting untuk memahami qadarullah secara lebih komprehensif.
Takdir Mubram adalah ketetapan Allah yang bersifat mutlak dan tidak dapat diubah sama sekali, seperti ajal, jenis kelamin, dan ketentuan ilahi yang bersifat azali. Takdir ini telah tertulis di Lauh Mahfuz dan tidak akan berubah.
• Takdir Mu'allaq adalah takdir yang masih bisa berubah karena diikuti oleh sebab-sebab tertentu, seperti doa, amal saleh, atau silaturahim. Rasulullah SAW bersabda: "Takdir yang akan menimpa seseorang tidak bisa ditolak kecuali dengan doa, umur seseorang tiada bertambah kecuali dengan melakukan kebaikan" (HR. Ibnu Majah & Tirmidzi).
• Qadarullah mencakup kedua jenis takdir ini, baik yang mubram maupun yang mu'allaq, karena semuanya merupakan ketetapan Allah. Namun dalam penggunaan sehari-hari, qadarullah sering diucapkan ketika seseorang menghadapi takdir mubram yang telah terjadi, sebagai bentuk penerimaan dan kepasrahan kepada Allah.
Hikmah Memahami Perbedaan Qadarullah dan Takdir
1. Menumbuhkan Keseimbangan antara Tawakal dan Ikhtiar
Pemahaman yang tepat tentang qadarullah dan takdir melahirkan sikap hidup yang seimbang. Seseorang tidak akan terjebak pada fatalisme ekstrem (seperti paham Jabariyah) yang menganggap manusia tidak memiliki peran sama sekali. Ia juga tidak akan terjerumus pada paham Qadariyah yang menganggap manusia sepenuhnya bebas tanpa campur tangan Allah. Ahlussunnah wal Jama'ah berada di tengah-tengah antara kedua ekstrem tersebut.
2. Mendorong Semangat Berdoa dan Beramal Saleh
Dengan memahami bahwa ada takdir mu'allaq yang dapat berubah melalui doa dan amal saleh, seorang Muslim akan terdorong untuk memperbanyak doa dan kebaikan. Sebagaimana firman Allah: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz)" (QS. Ar-Ra'd: 39).
3. Melahirkan Sikap Sabar dan Syukur
Pemahaman bahwa qadarullah mencakup segala ketetapan Allah—baik yang menyenangkan maupun tidak—mengajarkan seseorang untuk bersabar ketika ditimpa musibah dan bersyukur ketika mendapat nikmat. Orang yang beriman kepada qada dan qadar akan menganggap keberhasilan sebagai rahmat Allah dan kegagalan sebagai ketentuan Allah yang pasti mengandung hikmah.
4. Menghindarkan dari Sifat Sombong dan Putus Asa
Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah mencegah seseorang dari sifat sombong saat berhasil dan putus asa saat gagal. Ia menyadari bahwa keberhasilan adalah karunia Allah dan kegagalan adalah ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran.
5. Menjadikan Takdir sebagai Motivasi Bukan Alasan
Pemahaman yang benar tentang qadarullah dan takdir menjadikan takdir sebagai motivasi untuk berusaha, bukan alasan untuk bermalas-malasan. Syaikh al-Utsaimin menegaskan bahwa takdir tidak bisa dijadikan hujjah bagi pelaku maksiat. Sebagaimana firman Allah: "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (QS. An-Najm: 39).
Pertanyaan Seputar Qadarullah dan Takdir
1. Apakah qadarullah sama dengan takdir?
Secara umum, qadarullah dan takdir memiliki makna yang sama, yaitu ketetapan Allah. Namun secara spesifik, qadarullah adalah bentuk penyebutan takdir yang dinisbatkan langsung kepada Allah (takdir-Nya Allah), sedangkan takdir adalah istilah yang lebih umum untuk menyebut proses dan hasil penetapan Allah.
2. Apa perbedaan qadarullah dan qudratullah?
Qadarullah berasal dari kata qadara yang berarti takdir atau ketetapan, sedangkan qudratullah berasal dari kata qudrah yang berarti kemampuan atau kekuasaan Allah. Qadarullah merujuk pada apa yang telah Allah tetapkan, sedangkan qudratullah merujuk pada kemampuan Allah untuk menetapkan.
3. Apakah takdir bisa berubah?
Takdir terbagi menjadi dua: takdir mubram (mutlak, tidak bisa diubah) seperti ajal, dan takdir mu'allaq (bisa berubah karena sebab) yang dapat diubah dengan doa, amal saleh, dan ikhtiar.
4. Kapan sebaiknya mengucapkan qadarullah?
Ucapan qadarullah (Qadarullah wa maa syaa'a fa'ala) diucapkan ketika seseorang tertimpa musibah atau menghadapi kejadian di luar dugaannya, sebagai bentuk penyerahan diri dan penerimaan terhadap ketetapan Allah.
5. Bagaimana cara membedakan qada dan qadar?
Qada adalah ketetapan Allah sejak zaman azali yang bersifat rencana, sedangkan qadar adalah perwujudan atau realisasi dari ketetapan tersebut dalam kehidupan nyata.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321440/original/060833200_1786441575-masjid-maba-QhzQfD0ihnI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4199341/original/055639700_1666344669-bacaan-doa-untuk-orang-meninggal-latin-dan-artinya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507757/original/Rinnai_RI-301S_dan_RI-511C_karena_Teknologi_Pembakaran_Efisien_Rinnai_menjadi_salah_satu_merek_yang_konsisten_masuk_daftar_rekomendasi_2026._Model_RI-301S_dan_RI-511C_dikenal_memiliki_burner_berku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8627023/original/022700000_1782622344-masjid-pogung-dalangan-GGtHPUYx6oI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5134162/original/012917000_1739593072-1739590048291_arti-doa-sholat-dhuha.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321441/original/077954600_1786441575-masjid-pogung-dalangan-63DjDHXAA_c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4766225/original/046556200_1709881475-masjid-pogung-raya-LhNePx4kde0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010958/original/004782000_1651214800-20220429-Itikaf-Lailatul-Qadar-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3580533/original/022563500_1632366621-Wawancara_Kerja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3274937/original/075776800_1603351599-photo-1561399452-bdcd36b25b38__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5156168/original/093553200_1741427681-27937ed9a460ba252f86ffad909d8657.jpg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5220347/original/094913800_1747281277-41961081_8976420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4576168/original/048568900_1694732112-20230915022441__fpdl.in__medium-shot-woman-posing-with-flowers_23-2150725596_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4030425/original/064674000_1653273891-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572218/original/060707400_1777780612-cek_fakta_-_CPNS_Kemenag.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582904/original/095301300_1778131421-cpns_bea_cukai_-_cek_fakta.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407521/original/093009600_1762744968-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-10T101330.228.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562466/original/066312500_1776830245-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-22T105645.203.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380783/original/022608800_1760432989-Ilustrasi_Qunut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)