5 Cara Menjaga Hati Tetap Ikhlas saat Ibadah Dilihat Orang Lain, Tak Khawatir Riya

18 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Setiap Muslim pasti pernah mengalami momen ketika ibadah yang dilakukannya kebetulan dilihat oleh orang lain. Bagi sebagian orang, ada perasaan tak nyaman, atau boleh jadi potensi muncul ujub alias riya. Lantas, bagaimana cara menjaga hati tetap ikhlas saat ibadah dilihat orang lain?

Merujuk ebook Fiqih Ibadah karya Drs. Samin, M.PdI, ikhlas berasal dari kata Arab khalasha yang berarti bersih, murni, tidak bercampur dengan sesuatu yang asing. Dalam terminologi syariat, ikhlas berarti memurnikan niat semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tanpa tercampur kepentingan lain. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Tazkiyatun Nufus mendefinisikan ikhlas sebagai mengesakan Allah dalam tujuan setiap amal.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan kewajiban seorang mukmin yang selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin adalah mengikhlaskan amalnya untuk Allah SWT semata dan tidak perlu terlalu memperhatikan lintasan pikiran yang muncul dalam hatinya bahwa ia melakukan karena riya’. Sebab, jika terlalu memperhatikan lintasan pikiran itu, ia akan banyak meninggalkan amal karena takut riya’.

Merangkum berbagai literatur kontemporer dan klasik, berikut ini adalah cara menjaga hati tetap ikhlas saat ibadah dilihat orang lain.

1. Menguatkan Tekad dengan Meluruskan Niat Sebelum Memulai

Isnan Ansory dalam Buku Fiqih Niat menjelaskan bahwa niat merupakan tekad hati untuk mengerjakan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Sebelum memulai amal, seorang Muslim perlu meluruskan niatnya dan mengingatkan dirinya bahwa amal tersebut semata-mata untuk Allah.

Praktiknya: Setiap kali hendak beribadah, tanamkan dalam hati: “Ya Allah, aku lakukan ini hanya karena-Mu, bukan karena ingin dilihat atau dipuji siapapun.” Dengan menyadari bahwa setiap amal dilihat oleh Allah, seseorang akan lebih fokus pada niat ikhlas dalam ibadahnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah penampilan lahiriah ibadah seseorang, melainkan motivasi batiniah yang tersembunyi di dalam hati. Dan di sinilah letak perjuangan terberat—karena tidak ada seorang pun yang mengetahui isi hati selain Allah dan diri kita sendiri.

2. Membiasakan Diri Menyembunyikan Amal

Di antara indikasi keikhlasan yang paling jelas adalah upaya seseorang dalam menyembunyikan amal kebajikan agar tidak diketahui orang lain. Seorang muslim yang ikhlas lebih menyukai amal kebaikan yang dikerjakan secara diam-diam daripada amal yang dikelilingi oleh bisingnya publikasi dan dengungan popularitas.

Rasulullah SAW mengabarkan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat adalah, “Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika memungkinkan, lakukan ibadah sunnah atau sedekah secara sembunyi-sembunyi. Bukan berarti ibadah yang terang-terangan itu salah, tetapi membiasakan amal rahasia melatih hati untuk tidak bergantung pada pengakuan manusia.

Sebagaimana dinasihatkan dalam Al-Hikam, 'Abaikan pandangan orang terhadapmu dan pedulilah terhadap pandangan Allah terhadapmu'.

3. Membaca Doa Ketika Menerima Pujian

Pujian dari orang lain adalah ujian berat bagi keikhlasan. Seseorang bisa saja sudah ikhlas saat beramal, namun ketika dipuji, hatinya berbunga-bunga dan mulai mengharap pujian serupa di masa mendatang. Inilah yang disebut sebagai “penyakit setelah amal”.

Para sahabat Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika dipuji:

اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

Artinya: “Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang mereka ucapkan, ampunilah aku atas kekurangan yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Doa ini mengajarkan kita untuk tetap rendah hati dan tidak membiarkan pujian merusak niat. Kita mengakui bahwa Allah lebih mengetahui keadaan diri kita daripada siapapun, dan kita memohon ampun atas kekurangan yang tidak diketahui orang lain.

4. Tidak Mempedulikan Pujian dan Cacian

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan nasihat penting: seorang mukmin tidak perlu memperhatikan lintasan pikiran riya’ yang muncul dalam hatinya. Jika ia terlalu memperhatikannya, ia akan banyak meninggalkan amal (karena takut riya’).

Beliau juga membedakan antara dua kondisi:

  • Orang yang melakukan amal agar dilihat orang → ini riya’ yang tercela.
  • Orang yang melakukan amal karena Allah, tetapi gembira ketika manusia melihatnya tanpa kesengajaan → ini wajar dan tidak membahayakan, karena ia bergembira karena nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Kunci kebahagiaan orang yang ikhlas adalah merasa cukup dengan balasan dari Allah. Mereka tidak mengharap ganjaran duniawi, seperti pujian, keuntungan materi, atau penghormatan. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 72 bahwa “keridhaan Allah adalah yang paling besar”.

5. Segera Berlindung kepada Allah dari Gangguan Setan

Setan senantiasa berusaha merusak keikhlasan dengan berbagai cara. Ketika terlintas dalam hati rasa ingin dipuji atau takut amalnya tidak sempurna di mata manusia, bacalah:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”

Syaikh Al-‘Utsaimin memberi nasihat agar tetap lakukanlah suatu ibadah, meskipun terlintas dalam dirimu bahwa melakukannya karena riya’. Ucapkanlah ta’awudz, mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala, dan kerjakanlah ibadah tersebut.

Hikmah Ikhlas Beribadah Walau Dilihat Orang Lain

1. Amal Menjadi Bernilai Abadi

Amal yang ikhlas walau hanya sekecil biji zarrah akan kekal pahalanya di sisi Allah. Sebaliknya, amal besar yang dilakukan karena riya’ akan lenyap bagaikan debu yang beterbangan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”

2. Terhindar dari Penyakit Hati yang Merusak

Riya’ termasuk dalam kategori syirik kecil (syirik ashghar) yang dapat merusak seluruh amal ibadah. Dengan menjaga keikhlasan, seorang Muslim terhindar dari penyakit hati seperti sombong, ujub (bangga diri), dan takabur yang dapat menghancurkan nilai spiritual amalnya.

3. Mendapatkan Ketenangan Jiwa Sejati

Orang yang ikhlas tidak menjadikan penghargaan manusia sebagai motivasi utama. Ia tidak kecewa meskipun amalnya tidak diakui. Bahkan, ia bersyukur ketika amalnya tidak diketahui orang lain, karena itu menjadi tanda keikhlasan yang tulus. Inilah kebahagiaan sejati yang tidak tergantung pada penilaian makhluk.

4. Ibadah Menjadi Ringan dan Konsisten

Ketika ibadah dilakukan semata-mata karena Allah, seseorang tidak akan merasa berat menjalankannya. Ia tidak menunggu suasana hati atau kesempatan tertentu untuk beramal. Kebaikan sudah menjadi bagian dari dirinya, bukan sekadar respons terhadap pujian atau tekanan sosial.

5. Menjadi Teladan Tanpa Berniat Jadi Teladan

Ironisnya, orang yang paling ikhlas justru sering menjadi teladan yang menginspirasi. Ketika orang lain melihat konsistensi ibadahnya yang tidak pernah pudar meski tanpa pujian, mereka pun tergerak untuk meneladani. Inilah bentuk dakwah bil hal yang paling efektif—menginspirasi tanpa berniat menginspirasi.

Pertanyaan Seputar Cara Menjaga Hati saat Beribadah

Bagaimana cara menjaga hati agar tetap ikhlas?

Menjaga keikhlasan adalah proses mengarahkan niat agar setiap perbuatan murni dilakukan hanya karena Allah SWT, bukan untuk pujian atau pengakuan manusia. Ini adalah seni membersihkan hati secara konsisten.

Bagaimana cara kita supaya ikhlas dalam melakukan ibadah?

10 Cara Menjadi Pribadi yang Ikhlas Menurut Islam, Langkah yang Bisa Dipraktikkan Hari IniMemperbaiki Niat Sebelum Melakukan Sesuatu. ...Mengingat Bahwa Semua Balasan Hanya dari Allah. ...Tidak Mengungkit Amal Baik. ...Menyembunyikan Amal Kebaikan. ...Menerima Ujian dengan Lapang Dada. ...Menghindari Riya dan Pamer Amal.

3 Tingkatan Ikhlas Apa Saja?

Menurut para ulama, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, ikhlas terbagi menjadi tiga tingkatan: Ikhlas Karena Dunia (mengharap balasan duniawi), Ikhlas Karena Akhirat (berharap surga/takut neraka), dan Ikhlas Karena Allah (murni mengharap rida-Nya semata)

Apa kunci ketenangan hati?

Kunci ketenangan hati adalah penerimaan diri, zikir atau mengingat Tuhan, dan rasa syukur. Ketenangan sejati didapat saat Anda bisa melepaskan hal di luar kendali dan fokus pada masa kini.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |