4 Keutamaan Bersedekah dan Berbuat Baik di Bulan Muharram, Menjemput Keberkahan

20 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum). Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amalan, yang salah satunya adalah bersedekah. Hal ini terkait dengan keutamaan bersedekah dan berbuat baik di bulan Muharram yang begitu luar biasa.

Pada bulan Muharram, pahala segala amal kebaikan dilipatgandakan, sebagaimana berbagai larangan yang mendapatkan konsekuensi lebih berat di bulan mulia ini.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah (9): 36)

Rasulullah juga menyebut Muharram dengan gelar istimewa “Syahrullah” (Bulan Allah), yang menunjukkan kedudukan istimewanya di sisi-Nya. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah keutamaan-keutamaan bersedekah dan berbuat baik di bulan Muharram.

Bersedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan di bulan Muharram, dengan beberapa keutamaan khusus yang dijelaskan dalam berbagai sumber.

1. Sedekah di Hari Asyura (10 Muharram), Seperti Sedekah Setahun

Hari Asyura (10 Muharram) memiliki keutamaan khusus. Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-Ash menyebutkan: “Barangsiapa berpuasa di hari Asyura, maka seakan-akan berpuasa selama setahun, dan barang siapa bershadaqah di hari ini, maka seakan-akan bershadaqah selama satu tahun.” (HR. Abdullah bin Amru bin al-Ash)

Perlu diketahui bahwa para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai derajat hadits ini. Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, amalan selain puasa dan meluaskan belanja di hari Asyura memiliki dasar hukum yang lemah.

Namun, Zainuddin al-Iraqi, Ibnu Nashiruddin, al-Suyuthi, dan al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan bahwa karena banyaknya jalur periwayatan, hadits tentang kelapangan rezeki ini derajatnya naik menjadi hasan bahkan shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Ikhtiyarat termasuk yang menganjurkan amalan ini.

Sayyid Abi Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam kitabnya I’anatut Thalibin juga menjelaskan keutamaan berbagi di hari Asyura: “Diriwayatkan dari abu Hurairah dari Rasulullah saw bersabda: ‘Barang siapa meluaskan rezekinya di hari Asyura untuk kerabat dan keluarganya maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun.’”

2. Melapangkan Rezeki Keluarga, Dijamin Kelapangan Setahun Penuh

Salah satu bentuk sedekah yang paling ditekankan di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura, adalah melapangkan nafkah untuk keluarga ( at-tausi'ah 'alal 'iyal ).

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa melapangkan (nafkah) untuk keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan (rezeki)nya sepanjang tahunnya." (HR. At-Thabarani dan Al-Baihaqi)

Sayyid Abi Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam I'anatut Thalibin menjelaskan bahwa yang dimaksud "melapangkan keluarga" di sini adalah mencukupi kebutuhan hidup keluarga, baik kebutuhan makanan maupun kebutuhan lain.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menegaskan bahwa hadis yang paling shahih tentang amalan hari Asyura hanya dua: puasa dan melapangkan nafkah keluarga. Adapun delapan amalan lainnya (bercelak, mandi, dll.) tidak memiliki landasan hadis yang kuat.

Sufyan Ats-Tsauri, seorang tabi'in terkemuka, membuktikan sendiri kebenaran hadis ini. Setelah melapangkan kehidupan keluarganya pada hari Asyura, beliau merasakan kehidupannya dilapangkan sebagaimana dijanjikan dalam hadis. Beliau berkata: "Kami pernah mencobanya, dan kami memperoleh ganjarannya (kelapangan).".

Bentuk Praktisnya:

  • Memberi tambahan uang belanja kepada istri.
  • Membelikan makanan atau pakaian baru untuk anak-anak.
  • Mengundang keluarga atau kerabat untuk makan bersama.

Bahkan bagi yang tidak memiliki kelebihan harta, cukup dengan berusaha memberi kelapangan sesuai kemampuan—misalnya dengan masakan yang lebih baik dari hari biasa—sunnah ini tetap dapat diraih.

3. Menyantuni Anak Yatim, Diangkat Derajatnya

Bulan Muharram juga identik dengan tradisi mulia menyantuni anak yatim. Terdapat riwayat yang menjelaskan keutamaan khusus mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura:

"Dan barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya." (Diriwayatkan oleh Abu Lais as-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin)

Meskipun riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Lais as-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin, para ulama hadis—seperti Ibnu al-Jauzi, Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu 'Adi—mengkritik sebagian sanadnya dan menilainya sebagai hadis yang lemah.

Namun, esensi menyantuni anak yatim tetap merupakan amalan yang sangat mulia kapan pun dan di mana pun. Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku dan orang yang memelihara anak yatim (akan berada) di surga seperti ini." (Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan sedikit di antara keduanya.)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif juga menyebut bahwa menyantuni anak yatim di bulan Muharram sangat dianjurkan sebagai bentuk penyucian harta dan jiwa.

4. Menjemput Keberkahan

Di luar amalan-amalan spesifik di atas, Muharram adalah momentum tepat untuk meningkatkan berbagai bentuk kebaikan. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam bukunya Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa bulan ini adalah waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru dengan berbagai amal kebajikan.

Berbagai Bentuk Kebaikan yang Dianjurkan:

  • Memperbanyak Sedekah secara Umum: Sedekah merupakan amalan yang tidak mengenal waktu, namun memperbanyak sedekah di bulan mulia tentu memiliki nilai tersendiri. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta" . Allah SWT juga berfirman dalam QS. Saba' [34]: 39: "Dan sesuatu apapun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." .
  • Memperbanyak Dzikir dan Doa: Memperbanyak dzikir, istighfar, dan kalimat thayyibah adalah bentuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk menjaga kebersihan hati di awal tahun.
  • Mempererat Silaturahmi: Mengadakan majelis ilmu, pengajian keluarga, atau dzikir bersama tetangga merupakan sunnah sosial yang menguatkan semangat keislaman di lingkungan sekitar.

Muharram, Momentum Memperbanyak Kebaikan

Bulan Muharram adalah bulan yang penuh keberkahan, di mana setiap amal kebaikan—sedekah, silaturahmi, menyantuni anak yatim, dan melapangkan nafkah keluarga—mendapatkan perhatian istimewa dari Allah SWT.

Keutamaannya tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga nyata dalam kehidupan dunia, seperti kelapangan rezeki dan ketenangan hati.

Sebagaimana dinukil dari Imam Hasan al-Bashri oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif: "Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram), dan menutup akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun yang lebih mulia di sisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan bulan Muharram."

Mari kita manfaatkan momentum mulia ini untuk memperbanyak kebaikan, membersihkan harta dan jiwa melalui sedekah, serta menebar kebahagiaan kepada keluarga dan sesama. Karena di bulan yang dimuliakan ini, setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah manis, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak.

Pertanyaan Seputar Keutamaan Bersedekah dan Berbuat Baik di Bulan Muharram

3 Jenis sedekah Terdahsyat?

Dalam ajaran Islam, sedekah paling dahsyat dan berpotensi melipatgandakan pahala adalah yang didasari keikhlasan ekstrem. Tiga jenis utamanya meliputi Sedekah saat Sehat dan Kikir, Sedekah kepada Keluarga Terdekat, serta Sedekah secara Sembunyi-sembunyi.

Kenapa 10 Muharram harus menyantuni anak yatim?

Menyantuni anak yatim pada 10 Muharram (Hari Asyura) sangat dianjurkan karena bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di Indonesia, tanggal ini bahkan dikenal sebagai "Lebaran Anak Yatim" karena tingginya semangat masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan mereka.

Apa alasan Nabi Muhammad SAW menganjurkan puasa pada hari Asyura?

Hal ini karena berdasarkan sejumlah hadis, bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.

Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam Muharram?

Muharram mendorong kita untuk bertanggung jawab secara sosial dan berbelas kasih terhadap sesama . Bulan ini mengingatkan kita akan kewajiban kita untuk membantu yang membutuhkan, mendukung yang tertindas, dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, sebagaimana yang dilakukan Imam Husain (RA) melalui tindakannya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |