7 Contoh Materi Kultum Singkat tentang Adab kepada Orang Tua, Menggapai Ridha Allah

21 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Memiliki referensi materi kultum singkat tentang adab kepada orang tua penting bagi para da'i, pendidik, dan masyarakat secara umum. Tema ini relevan disampaikan karena terkait erat dengan akhlak seorang muslim.

Islam sangat memuliakan orang tua dan mendudukkannya dalam posisi terhormat. Bahkan perintah berbakti atau birrul walidain sering disandingkan langsung dengan tauhid. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga adab saat berinteraksi dengan ayah dan ibu setiap hari, baik lisan maupun perbuatan.

firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 23 yang tegas melarang ucapan kasar, bahkan sekadar kata "ah". Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang berpengaruh langsung terhadap ridha Allah SWT, sebagaimana dalil hadis Nabi SAW.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tujuh contoh materi kultum singkat tentang adab kepada orang tua yang relevan dengan konteks kekinian.

Tema 1. Keutamaan Berbuat Baik kepada Orang Tua

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, wabihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin, wa’ala alihi washahbihi ajma’in.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Berkat karunia-Nya, kita dapat berkumpul di majelis ini dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun.

Shalawat serta salam mari kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW. Beliau adalah suri teladan terbaik yang senantiasa menuntun umatnya dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam.

Hadirin kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah. Pada kesempatan yang mulia ini, saya akan menyampaikan pengingat tentang kewajiban utama setiap anak, yaitu berbakti kepada ayah dan ibu.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23:

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Ayat ini menempatkan perintah berbakti kepada orang tua tepat setelah perintah bertauhid kepada Allah. Hal ini menunjukkan kedudukan birrul walidain yang sangat agung dalam syariat Islam.

Kasih sayang dan pengorbanan orang tua sejak kita dalam kandungan hingga dewasa tidak akan pernah bisa kita balas. Ayah memeras keringat mencari nafkah, sementara ibu mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita.

Adab yang paling mendasar adalah menjaga lisan agar tidak menyakiti hati mereka. Jangankan memukul atau membentak, sekadar mengucapkan kata "ah" saat disuruh pun diharamkan oleh Allah SWT.

Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa memuliakan kedua orang tua selagi mereka masih ada. Jangan sampai kita menyesal ketika Allah telah memanggil mereka kembali ke pangkuan-Nya.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka merawat dan menyayangi kami sedari kecil.

Demikianlah pesan singkat yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tema 2. Ridha Allah Tergantung Ridha Orang Tua

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Innal hamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyi’ati a’malina.

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Karena nikmat-Nya jua kita bisa bermuwajahah di majelis ilmu yang penuh keberkahan ini.

Tak lupa, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir.

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah. Topik kultum kita kali ini menyoroti kaitan erat antara keberkahan hidup seorang hamba dengan keridhaan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Artinya: "Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua dan murka Allah bergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Hadits ini memberikan peringatan keras sekaligus panduan hidup yang sangat jelas bagi kita semua. Sukses tidaknya langkah kita di dunia sangat dipengaruhi oleh doa restu ayah dan ibu.

Sering kali kita merasa ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa sudah sempurna, namun rezeki terasa sempit dan hidup penuh masalah. Bisa jadi, itu karena ada hati orang tua yang tanpa sadar telah kita lukai.

Menjaga adab dengan selalu meminta maaf dan meminta doa mereka sebelum memulai aktivitas adalah kunci pembuka pintu langit. Jangan pernah menganggap remeh restu mereka dalam setiap keputusan penting kita.

Kesimpulannya, jadikanlah keridhaan orang tua sebagai tujuan setelah mencari keridhaan Allah. Karena sesungguhnya, pintu surga paling tengah ada pada bakti kita kepada mereka.

Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk selalu taat dan berbakti kepada ayah ibu kami. Jadikanlah kami anak-anak yang sholeh dan sholehah yang mampu membanggakan mereka di dunia dan akhirat.

Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan di hati. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tema 3. Kedudukan Ibu yang Utama

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala alihi wa ashabihi waman walah.

Syukur alhamdulillah kita ucapkan atas nikmat kehidupan yang Allah karuniakan hari ini. Kita masih diberi kesempatan untuk bernapas, beribadah, dan bertaubat memperbaiki diri.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Risalah yang beliau bawa telah menyelamatkan kita dari lembah kebodohan menuju puncak peradaban ilmu.

Hadirin wal hadirat rahimakumullah. Dalam syariat berbakti kepada orang tua, ada satu sosok yang haknya sangat ditekankan untuk dipenuhi terlebih dahulu, yaitu seorang ibu.

Dari Abu Hurairah RA, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?" Nabi SAW menjawab:

أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أَبُوكَ

Artinya: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penyebutan kata ibu sebanyak tiga kali oleh Rasulullah SAW bukan tanpa alasan. Hal ini merepresentasikan tiga kepayahan besar yang hanya dialami oleh ibu, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Adab kepada ibu mengharuskan kita untuk bersikap ekstra lemah lembut, penuh kasih sayang, dan mengutamakan panggilannya. Hatinyalah yang paling sensitif dan paling mudah tergores oleh perilaku kasar seorang anak.

Pengorbanan seorang ibu tidak bisa ditukar dengan harta sebanyak apa pun. Bahkan, menggendong ibu untuk thawaf mengelilingi Ka'bah pun belum tentu sebanding dengan satu erangan sakitnya saat melahirkan kita.

Mari kita introspeksi diri sejenak, sudahkah kita memuliakan ibu kita hari ini? Segeralah peluk dan cium tangannya jika ia masih hidup, atau doakanlah jika ia telah tiada.

Ya Rabbana, luaskanlah ampunan-Mu bagi ibunda dan ayahanda kami. Hindarkanlah mereka dari siksa api neraka dan kumpulkanlah kami semua kelak di surga Firdaus-Mu.

Demikian uraian singkat dari saya, semoga memotivasi kita untuk menjadi anak yang berbakti. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tema 4. Dosa Besar Mendurhakai Orang Tua

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Mengawali perjumpaan ini, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah azza wa jalla. Dialah yang terus memberikan kita nikmat tiada henti setiap detiknya.

Shalawat teriring salam mari kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita senantiasa istiqamah menjalankan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah. Jika berbakti adalah amalan mulia, maka sebaliknya, durhaka kepada orang tua atau 'uququl walidain adalah salah satu dosa yang paling membinasakan.

Rasulullah SAW bersabda mengenai dosa-dosa besar:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ

Artinya: “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari).

Hadits ini sejajar dengan ayat Al-Qur'an yang menyandingkan tauhid dengan birrul walidain. Di sini, dosa syirik disandingkan dengan dosa durhaka, menunjukkan betapa fatalnya perbuatan tersebut di mata syariat.

Durhaka tidak selalu berarti memukul atau membuang orang tua. Bersikap acuh tak acuh, membuat mereka menangis karena lisan kita, atau menelantarkan masa tua mereka adalah bentuk nyata kedurhakaan modern.

Allah SWT sangat mempercepat azab bagi anak yang durhaka di dunia, sebelum kelak di akhirat disiksa lebih pedih. Kehidupan anak durhaka biasanya ditandai dengan kegelisahan, kesempitan rezeki, dan hilangnya keberkahan hidup.

Oleh sebab itu, takutlah kepada Allah terkait hak orang tua kita. Perbaikilah adab dan cara komunikasi kita sebelum penyesalan panjang menghampiri saat ajal menjemput mereka.

Ya Allah yang Maha Pengampun, maafkanlah kelalaian kami dalam menunaikan hak-hak orang tua kami. Jauhkanlah kami dari sifat durhaka yang mendatangkan laknat dan murka-Mu.

Akhirul kalam, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tema 5. Cara Berbakti Setelah Orang Tua Wafat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah.

Segala puji milik Allah SWT, penguasa alam semesta yang menakdirkan kehidupan dan kematian. Kita bersyukur atas segala limpahan rahmat dan usia yang masih dipinjamkan kepada kita.

Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah guru terbaik yang mengajarkan adab yang sempurna, termasuk adab berbakti kepada orang tua.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Kematian memutus segala amal perbuatan, namun bakti seorang anak kepada orang tuanya tidak pernah terputus meskipun keduanya telah berada di alam kubur.

Seorang sahabat dari Bani Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sisa bakti setelah orang tua wafat, lalu Nabi menjawab:

نَعَمْ، الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

Artinya: “Ya, mendoakan keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, menunaikan janji mereka, menjalin tali silaturahim dengan kerabat mereka, dan memuliakan teman mereka.” (HR. Abu Daud).

Hadits ini memberikan kabar gembira bagi kita yang telah ditinggal wafat oleh ayah dan ibu. Peluang untuk menjadi anak berbakti masih terbuka lebar melalui amalan-amalan rohani.

Mendoakan ampunan bagi mereka adalah rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan. Setiap doa tulus dari anak yang sholeh akan mengangkat derajat orang tua di surga dan meringankan mereka dari siksa kubur.

Menjaga hubungan baik dengan paman, bibi, serta sahabat-sahabat almarhum adalah wujud penghormatan kita atas ikatan emosional mereka. Ini adalah manifestasi adab yang tinggi dalam Islam.

Jangan biarkan orang tua kita menangis di alam barzah karena melihat anak-anaknya bermusuhan memperebutkan harta warisan, melupakan doa, atau memutus tali silaturahim.

Ya Allah, terangilah kubur kedua orang tua kami dengan cahaya rahmat-Mu. Jadikanlah kubur mereka sebagai taman dari taman-taman surga, dan kumpulkanlah kami kelak bersama mereka di surga-Mu.

Semoga kita semua tergolong hamba-hamba yang senantiasa berbakti. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tema 6. Larangan Mencela Orang Tua Sendiri

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarokan fih, asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.

Mengawali majelis yang mulia ini, mari kita perbanyak tahmid dan syukur kepada Allah SWT. Berkat nikmat sehat dan kelonggaran waktu, kita bisa hadir untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Shalawat dan salam selalu tersampaikan kepada panutan kita, Nabi Agung Muhammad SAW. Syafaat beliaulah yang kita harapkan menjadi penolong saat amal perbuatan kita ditimbang kelak.

Saudaraku seiman sekalian. Sering kali tanpa disadari, seseorang melakukan dosa besar yaitu mencela orang tuanya sendiri akibat dari hilangnya adab dalam pergaulan sosial.

Rasulullah SAW bersabda memperingatkan umatnya:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

Artinya: “Sesungguhnya termasuk dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya.” Beliau ditanya, “Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Ia mencela ayah orang lain, lalu orang itu membalas mencela ayahnya. Ia mencela ibu orang lain, lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut memaparkan bentuk kedurhakaan tidak langsung. Tindakan kita yang memicu orang lain untuk menghina atau memaki orang tua kita sama dosanya dengan kita yang memaki mereka secara langsung.

Oleh karena itu, menjaga adab pergaulan dan sopan santun kepada siapapun sangatlah krusial. Seorang anak yang berakhlak buruk secara tidak langsung sedang mencoreng nama baik keluarganya di mata masyarakat.

Jadilah anak yang membanggakan, yang ketika orang lain melihat prestasi dan akhlak kita, mereka akan berkata, "Betapa mulianya orang tua yang telah mendidik anak ini." Itulah esensi membanggakan orang tua.

Mari kita tahan lisan dari kebiasaan saling ejek, terutama membawa nama orang tua dalam candaan. Candaan yang mengarah pada celaan ini dilarang keras dalam agama kita.

Ya Allah, bimbinglah lisan kami agar selalu mengucapkan hal-hal yang baik. Lindungilah orang tua kami dari segala bentuk kehinaan, serta berikanlah mereka kehormatan di dunia dan akhirat.

Cukup sekian pesan yang dapat saya haturkan, semoga bermanfaat untuk kita renungkan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tema 7. Merawat Orang Tua Renta adalah Jalan Surga

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi alladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah, asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.

Syukur yang tiada terhingga mari senantiasa kita panjatkan kepada Sang Pencipta, Allah Jalla Jalaluhu. Dialah yang menganugerahkan kita nikmat hidayah Islam yang tak ternilai harganya.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Sayyidina Muhammad SAW. Semoga keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah di jalan sunnahnya senantiasa diberkahi oleh Allah SWT.

Hadirin jamaah shalat yang dirahmati Allah. Masa tua adalah masa kelemahan bagi manusia. Ketika orang tua kita mencapai usia senja, saat itulah ujian bakti seorang anak benar-benar dibuktikan.

Rasulullah SAW menegaskan penyesalan bagi anak yang menyia-nyiakan kesempatan ini dalam sabdanya:

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Celakalah, celakalah, celakalah.” Beliau ditanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya (atau salah satu dari keduanya) dalam usia lanjut, namun ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim).

Mengurus orang tua yang pikun, sakit-sakitan, atau mudah marah karena usia lanjut memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, di balik kepayahan itulah Allah meletakkan kunci surga bagi hamba-Nya.

Dahulu, mereka bersabar membersihkan kotoran kita, merawat saat kita sakit, dan berjaga di malam hari tanpa mengeluh. Maka sangat tidak beradab jika kita menitipkan mereka ke panti jompo hanya karena alasan repot atau sibuk.

Kehadiran orang tua yang renta di rumah kita adalah jimat penolak bala dan penarik pintu rezeki. Layani mereka dengan wajah berseri, penuh ketulusan, dan adab yang setinggi-tingginya.

Jadikanlah momen merawat mereka sebagai jihad yang paling utama bagi kita saat ini. Berbuat baiklah di sisa usia mereka agar kita tidak menangis menyesal saat nafas mereka telah terhenti.

Ya Allah Yang Maha Rahman, karuniakanlah kami kesabaran tak terbatas dalam merawat ayah dan ibu kami yang telah renta. Jadikanlah setiap keringat dan lelah kami sebagai penghapus dosa dan jalan menuju surga-Mu.

Demikianlah kultum singkat pada hari ini, mohon maaf bila ada tutur kata yang salah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertanyaan Seputar Adab Kepada Orangtua 

1. Apa saja contoh adab kepada orang tua dalam Islam?

Contoh adab kepada orang tua meliputi bertutur kata lembut, tidak menyela pembicaraannya, mematuhi perintahnya selama tidak maksiat, mendoakan mereka setiap hari, dan tidak menunjukkan wajah cemberut di hadapannya.

2. Mengapa kita dilarang mengatakan "ah" kepada orang tua?

Larangan ini ditegaskan karena mengucapkan "ah" (uff) merupakan bentuk kekesalan dan pelecehan verbal terkecil. Jika wujud ketidaksopanan yang paling kecil saja diharamkan oleh Allah, apalagi tindakan membentak atau menyakiti fisiknya.

3. Bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal?

Berbakti dapat dilanjutkan dengan mendoakan ampunan bagi mereka, melunasi hutang atau menunaikan janjinya, bersedekah atas nama mereka, dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat serta sahabat-sahabat almarhum.

4. Apa balasan bagi anak yang berbakti kepada orang tua?

Allah menjanjikan berbagai keutamaan dan balasan mulia, di antaranya umur yang berkah, rezeki yang dilapangkan, dihindarkan dari berbagai musibah, dan jaminan rida Allah yang menuntun ke surga di akhirat kelak.

5. Apakah boleh menolak perintah orang tua?

Boleh menolak dengan cara yang sangat halus, sopan, dan beradab hanya apabila perintah tersebut menyuruh kepada kemusyrikan atau perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Selain dari hal tersebut, anak wajib taat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |