Liputan6.com, Jakarta - Sejarah mencatat, malam hari sering kali menjadi waktu di mana kesadaran manusia menurun, menjadikannya fase rentan terhadap gangguan fisik maupun nonfisik. Mengamalkan sunnah malam hari yang mendatangkan perlindungan hingga subuh adalah langkah preventif secara spiritual bagi setiap Muslim di saat terlelap.
Allah SWT telah menjadikan malam sebagai waktu peristirahatan sekaligus ujian bagi hamba-Nya. Rasulullah SAW mengajarkan doa dan amalan perlindungan diri sebagai perisai umat beriman.
Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW mengungkapkan, rutinitas ini adalah bentuk tawakal yang sempurna. Menyandarkan perlindungan kepada Allah adalah langkah paling efektif untuk menolak segala kejahatan gaib.
Merujuk pandangan Abdullah bin Hamod Al-Forih dan ebook Sunnah-Sunnah Sehari-hari, Abdullah Hamud al Furaij, serta literatur klasik dan kontemporer lainnya, berikut ini adalah sunnah malam hari yang mendatangkan perlindungan:
1. Membaca Ayat Kursi Sebelum Memejamkan Mata
Ayat Kursi (Surat Al-Baqarah ayat 255) adalah pimpinan ayat Al-Qur'an yang memiliki otoritas perlindungan terkuat. Membacanya sebelum tidur merupakan garansi keamanan mutlak semalaman penuh.
Teks Ayat (QS. Al-Baqarah: 255) – Arab & Latin
Arab: اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Latin: Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm, lā takhudzuhū sinatuw wa lā nawm, lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man dzal-ladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi idznih, ya‘lamu mā bayna aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bi syaiim min ‘ilmihī illā bimā syā, wasi‘a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā yaūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.
Terjemahan: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun tentang ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Rasulullah SAW membenarkan ucapan setan yang berkata kepada Abu Hurairah: "Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menjagamu, dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari." Nabi SAW lalu bersabda: "Ia telah berkata benar kepadamu, padahal ia adalah pendusta." (HR. Bukhari).
Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pengakuan atas kebesaran Allah yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tertidur. Ketika seorang hamba membacanya, Allah akan mengutus malaikat khusus untuk menjaganya. Setan dari jenis jin maupun manusia tidak akan mampu menembus barikade gaib tersebut hingga terbit fajar.
2. Melantunkan Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah
Selain Ayat Kursi, penutup Surat Al-Baqarah (ayat 285-286) merupakan wahyu istimewa yang diberikan langsung dari bawah Arsy.
Berikut teks lengkap Surat Al-Baqarah ayat 285–286, beserta latin dan terjemahan bahasa Indonesia.
Surat Al-Baqarah Ayat 285
Arab: آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Latin: Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu'minūn. Kullun āmana billāhi wa malāikatihī wa kutubihī wa rusulihī, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih. Wa qālū sami'nā wa aṭa'nā, ghufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr.
Artinya: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mulah tempat kembali.’”
Surat Al-Baqarah Ayat 286
Arab: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Latin: Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā. Lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat. Rabbanā lā tu'ākhidznā in nasīnā au akhṭa'nā. Rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣran kamā ḥamaltahū 'alallażīna min qablinā. Rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih. Wa'fu 'annā, waghfir lanā, warḥamnā. Anta maulānā fanṣurnā 'alal-qaumil-kāfirīn.
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’”
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, niscaya keduanya akan mencukupinya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Penjelasan Ulama: Abdullah Hamud al Furaij dalam Ebook Sunnah-Sunnah Sehari-hari memberikan penekanan pada kata "mencukupinya". Para ulama tafsir dan hadis sepakat bahwa makna mencukupinya adalah garansi perlindungan dari segala keburukan, musibah, bahaya malam, hingga gangguan makhluk halus. Ketercukupan ini juga dimaknai sebagai kecukupan pahala yang setara dengan menghidupkan malam (qiyamul lail).
3. Meniupkan Al-Mu'awwidzat ke Telapak Tangan dan Mengusapkannya
Membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, adalah bentuk perlindungan aktif (ruqyah syar'iyyah mandiri) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW dalam kondisi sehat maupun sakit.
Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, "Apabila Rasulullah SAW hendak tidur, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membaca: Qul Huwallahu Ahad, Qul A'udzu birabbil Falaq, dan Qul A'udzu birabbin Naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya ke seluruh tubuhnya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau mengulangnya tiga kali." (HR. Bukhari).
Abdullah Hamud al Furaij menguraikan bahwa mengusapkan tangan yang telah ditiupkan ayat suci ke seluruh tubuh menciptakan benteng perisai yang melekat di kulit. Amalan ini memproteksi jiwa manusia dari bahaya ain (pandangan dengki yang membinasakan), sihir, dan niat jahat yang dikirimkan pada malam hari.
4. Menutup Pintu Rumah dan Bejana dengan Menyebut Basmalah
Perlindungan malam hari dalam Islam tidak hanya bersifat pasif di atas tempat tidur, tetapi mencakup tindakan pengamanan fisik di area rumah.
Rasulullah SAW bersabda, "Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutuplah wadah-wadah airmu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah bejana-bejana makananmu dan sebutlah nama Allah..." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih menegaskan bahwa mengucapkan Bismillah saat mengunci pintu rumah adalah segel yang tidak bisa dirusak oleh setan. Setan tidak memiliki kekuatan fisik untuk membuka pintu atau panci yang telah dikunci dengan nama Allah. Ini adalah perlindungan paripurna yang menjaga keluarga dari penyakit (wabah yang turun di malam hari) dan gangguan entitas astral.
5. Tidur dalam Keadaan Suci (Berwudhu)
Merebahkan diri dengan tubuh yang bersih dari hadas adalah cara mengundang kehadiran malaikat rahmat ke dalam ruang tidur.
Rasulullah SAW bersabda, "Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat." (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan, "Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu), maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap 'Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan suci'."
Abdullah Hamud al Furaij menjelaskan bahwa malaikat pelindung akan bermalam di dalam pakaian (berada sangat dekat dengan) orang yang tidur dalam keadaan suci. Kehadiran malaikat ini tidak hanya memintakan ampunan setiap kali orang tersebut berbalik badan, tetapi juga menjaga stabilitas ruhnya dari mimpi-mimpi buruk yang dimanipulasi oleh setan.
6. Membaca Doa Tawakal
Menjadikan doa sebagai kalimat terakhir sebelum memutus kesadaran adalah puncak dari perlindungan.
Membaca doa tawakal:
Arab: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
Latin: Bismika Rabbī waḍa‘tu janbī, wa bika arfa‘uhū, fa in amsakta nafsī farḥamhā, wa in arsaltahā faḥfaẓhā bimā taḥfaẓu bihī ‘ibādakaṣ-ṣāliḥīn.
Artinya: “Dengan nama-Mu, wahai Tuhanku, aku meletakkan lambungku (untuk tidur), dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya kembali. Jika Engkau menahan nyawaku, maka rahmatilah ia; dan jika Engkau melepaskannya (mengembalikannya kepadaku), maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih memaparkan bahwa frasa "peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh" merupakan permintaan asuransi tingkat tinggi kepada Allah. Dengan doa ini, seorang Muslim mendelegasikan otoritas penjagaan dirinya secara langsung kepada Sang Pencipta, sehingga tidak ada satu kekuatan makhluk pun yang mampu mengintervensi ketenangan tidurnya hingga fajar menyingsing.
Hikmah dari Mengamalkan Sunnah Malam Hari
1. Mendapatkan Garansi Penjagaan Langsung dari Allah SWT
Dengan mengamalkan sunnah seperti membaca Ayat Kursi, seorang Muslim akan dijaga oleh Allah melalui perantara malaikat, sehingga setan tidak mampu mendekati atau mengganggu sepanjang malam.
2. Perlindungan Paripurna dari Segala Keburukan dan Bahaya
Melalui bacaan dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah, Allah memberikan kecukupan bagi hamba-Nya berupa perlindungan dari segala kejahatan, musibah, dan gangguan makhluk halus yang mungkin terjadi di waktu malam.
3. Penyucian Jiwa dan Perlindungan dari Sihir serta 'Ain
Melalui praktik ruqyah mandiri dengan membaca Al-Mu'awwidzat (Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) yang diusapkan ke tubuh, jiwa seorang Muslim dibentengi dari bahaya sihir, pandangan dengki ('ain), dan tipu daya setan.
4. Mendapatkan Doa Ampunan dari Malaikat
Dengan tidur dalam keadaan suci (berwudhu), malaikat rahmat akan senantiasa menyertai dan memintakan ampunan bagi hamba tersebut setiap kali ia bergerak di waktu malam.
5. Ketenangan Batin dan Kepasrahan Total kepada Sang Pencipta
Melalui doa penyerahan diri (tawakal), seorang Muslim mendelegasikan urusan dan keselamatannya sepenuhnya kepada Allah, sehingga ia terbebas dari kecemasan dan ketakutan yang sering dihembuskan setan saat manusia tidak sadarkan diri.
Pertanyaan Seputar Amalan Malam Hari
Tahajud 1/3 malam terakhir jam berapa?
Sepertiga malam terakhir berlangsung mulai pukul 01.00 dini hari hingga sebelum masuknya waktu Subuh
1 ⁄ 3 malam terakhir jam berapa?
Sepertiga malam terakhir umumnya berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari hingga azan Subuh.
Yang mana duluan sholat hajat atau Tahajud?
Saat melaksanakan ibadah di malam hari, Sholat Tahajud lebih utama didahulukan sebelum Sholat Hajat. Anda dianjurkan untuk merayu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT terlebih dahulu melalui Tahajud, lalu menyampaikan permohonan hajat secara spesifik melalui Sholat Hajat.
Apa beda Tahajud dan qiyamul lail?
Tahajud dan qiyamul lail memiliki hubungan seperti induk dan cabangnya. Secara singkat, Tahajud adalah bagian dari qiyamul lail. Namun, setiap qiyamul lail belum tentu tahajud.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3444300/original/037742600_1619765801-20210430-Suasana_Sholat_Jumat_Minggu_Ketiga_Ramadhan_di_Masjid_Istiqlal-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470151/original/005986700_1779331713-20151013211910-berdoa-bersama-menyambut-tahun-baru-1437-hijriah-007-dru.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3545940/original/072552600_1629436124-pexels-mentatdgt-1071979__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415138/original/047923100_1763361872-Gemini_Generated_Image_4jbcgr4jbcgr4jbc.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3080217/original/090585300_1584550865-PEMAKAMAN_SUMARTININGSIH-ridlo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141446/original/078371000_1591071405-15263.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6482548/original/013766300_1779342038-20151031125144-jenazah-pak-raden-disalatkan-007-isn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4965916/original/088874300_1728606330-71e10bc4-3bdd-481d-8e06-a8d1c390de31.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407952/original/091057200_1762758448-amalan_sebelum_tidur_3.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5099253/original/014485500_1737179002-1737173325942_arti-takziah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2803721/original/093651700_1557725240-20190513-Bulan-Ramadan-Momentum-Anak-Anak-Belajar-Al-Quran5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407950/original/012539400_1762758448-amalan_sebelum_tidur.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102627/original/058220500_1737446569-1737444761877_cara-mandi-wajib-haid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3195813/original/076650300_1596187131-20200731-Hagia-Sophia-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3243956/original/072932600_1600665128-photo-1493894473891-10fc1e5dbd22__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108177/original/030261700_1587459748-299786-P7FMQK-120.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430878/original/058976400_1618561327-20210416-Itikaf-Masjid-Kubah-Emas-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/744355/original/077375600_1412055173-ihram.jpg)
