7 Amalan Sunnah setelah Idul Fitri di Bulan Syawal, Penjelasan dan Pelaksanaanya

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Idul Fitri di 1 Syawal memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, sebagai hari kemenangan setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh. Syawal hadir sebagai bulan peningkatan spiritual dan kelanjutan amal kebaikan. Oleh sebab itu, umat Islam perlu mengetahui amalan sunnah setelah Idul Fitri di bulan Syawal

Merujuk Buku Amalan Sesudah Bulan Ramadhan, Sukamto HM, secara bahasa, Syawal berasal dari kata syala yang berarti "meningkat" atau "mengangkat" . Makna ini merujuk pada peningkatan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan. Dalam konteks yang lebih luas, Syawal dimaknai sebagai bulan konsistensi dalam kebaikan dan aplikasi nyata dari nilai-nilai yang telah dilatih selama Ramadan.

Diawali dengan Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, momentum kemenangan dan kebahagiaan bagi seluruh umat Islam, Syawal bukan sekadar bulan perayaan, melainkan juga bulan amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas ibadah pasca-Ramadan. Artikel ini akan membahas amalan-amalan sunnah setelah Idul Fitri di bulan Syawal. Simak selengkapnya.

Amalan setelah Idul Fitri di bulan Syawal bisa dilihat dalam kacamata setelah sholat Idul Fitri di 1 Syawal, kemudian 2 syawal dan selanjutnya. Sebab, ada kekukhususan 1 Syawal sebagai hari raya dalam Islam, di mana hari tersebut dilarang berpuasa.

Amalan setelah Idul Fitri

1. Bersilaturahim dan Saling Bermaafan

Silaturahim pada Hari Raya Idul Fitri merupakan sunnah Nabi yang menjadi sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah . Kesunnahan ini dapat dipahami dari komentar Badruddin Al-'Aini terhadap hadits riwayat Jabir berikut:

Artinya: "Nabi Muhammad SAW ketika hari raya menggunakan jalan yang berbeda (antara pergi dan pulangnya)."

Badruddin Al-'Aini dalam kitab 'Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari (juz VI, halaman 443) menjelaskan hikmah di balik tindakan Nabi tersebut:

Artinya: "Ke-15 (hikmahnya) adalah untuk mengunjungi kerabat yang hidup dan yang mati. Ke-16 karena untuk silaturahim."

Al-Qur'an juga menegaskan perintah menjaga hubungan baik dengan kerabat dalam Surat An-Nisa ayat 1 dan Surat Ar-Ra'du ayat 21 .

Dalam kitab At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif (juz III, halaman 267-268), Al-Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri menyebutkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW ia bersabda, 'Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam'." (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun hikmah silaturahim disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik RA:

Artinya: "Dari sahabat Anas bin Malik RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Siapa saja yang senang diluaskan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya'." (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari (halaman 417) memperinci bahwa setelah kerabat mahram adalah kerabat yang bukan mahram, kemudian kerabat dari jalur ashabah, mertua, dan seterusnya .

Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha (halaman 22) menjelaskan bahwa ziarah kubur kepada orang tua dan keluarga merupakan bentuk silaturahim yang dianjurkan setelah mengunjungi keluarga yang masih hidup .

2. Berbagi Ucapan Selamat (Tahniah)

Memberikan ucapan selamat pada hari raya merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu' Al-Fatawa (24/253) menjelaskan:

"Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied: 'Taqabbalallahu minnaa wa minkum'"

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani juga menyampaikan bahwa para sahabat Nabi SAW bila bertemu pada hari raya, mereka mengucapkan:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Latin: Taqabbalallahu minna wa minkum.Artinya: "Semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kalian."

Ucapan ini merupakan doa agar amal ibadah selama Ramadan diterima di sisi Allah SWT dan menjadi pengikat ukhuwah di antara sesama Muslim.

3. Mengunjungi Tempat Keramaian dan Hiburan yang Baik

Rasulullah SAW pernah mengajak Aisyah RA untuk menyaksikan pertunjukan hiburan yang baik pada hari raya. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam diperbolehkan mengunjungi tempat-tempat keramaian yang berisi hiburan positif sebagai bentuk syukur dan ekspresi kebahagiaan di hari kemenangan .

Amalan ini mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan kegembiraan yang diperbolehkan dalam Islam, selama tidak melanggar syariat.

4. Mendengarkan Khutbah Idul Fitri

Setelah shalat Id, jamaah disunnahkan untuk tidak langsung bubar, tetapi tetap duduk dan mendengarkan khutbah. Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu Abbas RA:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Artinya: "Saya melaksanakan shalat id bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA. Semuanya melaksanakan shalat sebelum khutbah berlangsung." (Muttafaq 'alaih)

Dalam hadits lain disebutkan:

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ

Artinya: "Sesungguhnya Nabi SAW berdiri pada hari Idul Fitri, kemudian memulai shalatnya, lalu berkhutbah." (HR Bukhari)

Tata Cara Khutbah Id:

Khutbah Id dilaksanakan dua kali, dan di antara dua khutbah tersebut khatib disunnahkan duduk. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah:

السُّنَّةُ أَنْ يَخْطُبَ الْإِمَامُ فِي الْعِيدَيْنِ خُطْبَتَيْنِ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِجُلُوسٍ

Artinya: "Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk." (HR Asy-Syafi'i).

5. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan amalan sunnah yang paling utama. Landasannya adalah hadits shahih riwayat Imam Muslim:

Artinya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim no. 1164) 

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim (juz 8, halaman 56) menjelaskan makna hadits tersebut:

"Hadits ini merupakan dalil yang jelas bagi mazhab Syafi'i, Ahmad, dan Dawud serta yang sependapat dengan mereka tentang kesunnahan puasa enam hari ini. Adapun Imam Malik dan Abu Hanifah memakruhkan dengan alasan agar tidak menimbulkan prasangka wajibnya puasa tersebut. Namun dalil yang digunakan mazhab Syafi'i adalah hadits shahih yang jelas, dan apabila sunnah telah ditetapkan, maka tidak boleh ditinggalkan hanya karena sebagian orang atau kebanyakan orang meninggalkannya." 

Imam An-Nawawi juga menjelaskan perhitungan pahala puasa setahun: "Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puasa Ramadan 30 hari setara dengan 300 hari, dan puasa enam hari Syawal yang dikali 10 menjadi 60 hari, sehingga genap 360 hari atau satu tahun hijriyah." 

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha'if al-Ma'arif menegaskan: "Puasa Syawal mengajarkan semangat mempertahankan amal shaleh setelah Ramadan. Bukan hanya soal pahala, tetapi juga tentang keberlanjutan dalam ibadah dan menjaga semangat spiritual yang didapatkan selama Ramadan." 

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab Majmu' Fatawa wa Rasail menjelaskan: "Puasa ini bisa dilakukan secara berurutan maupun terpisah, selama masih dalam bulan Syawal."

7. Silaturahim dan Menyambung Tali Persaudaraan

Silaturahim menjadi amalan utama di bulan Syawal, terutama setelah Hari Raya Idul Fitri. Rasulullah SAW bersabda, artinya: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi dengan kerabatnya." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Syaikh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairimi al-Syafi'i dalam kitab Hasyiyah al-Bujairimi 'ala al-Khatib (juz 3, halaman 272) menyebutkan 10 keutamaan silaturahim:

  • Mendapat ridha Allah SWT
  • Membahagiakan sanak keluarga dan kerabat
  • Membahagiakan para malaikat
  • Mendapat ingatan positif dari orang beriman
  • Menyusahkan hati Iblis
  • Menambah keberkahan umur
  • Menambah keberkahan rezeki
  • Membahagiakan ayah dan kakek yang telah wafat
  • Menambah muru'ah (kewibawaan)
  • Mendapat tambahan pahala setelah wafat 

Dalam kitab Al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (juz 27, halaman 358) ditegaskan, "Tidak ada perbedaan pendapat bahwa menjalin silaturahim pada umumnya hukumnya wajib, dan memutuskannya merupakan dosa besar." 

Hikmah Bulan Syawal

1. Bulan Peningkatan Spiritual

Secara bahasa, Syawal bermakna "peningkatan" atau "kenaikan". Bulan ini menjadi momentum peningkatan iman dan amal saleh setelah berhasil melewati ujian Ramadan. Syawal adalah transisi dari bulan ibadah menuju bulan konsistensi dalam kebaikan.

2. Bulan Silaturahim dan Ukhuwah

Syawal identik dengan tradisi silaturahim dan saling memaafkan, mencerminkan nilai sosial Islam yang sangat kental. Bulan ini mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah dan kasih sayang di antara sesama Muslim.

3. Bulan Konsistensi Ibadah

Dari sisi spiritualitas, Syawal menjadi tonggak penting untuk mempertahankan ruh Ramadan. Ibadah tidak berhenti ketika takbir berkumandang, melainkan terus dilanjutkan dengan semangat yang sama. Inilah makna kemenangan sejati setelah Ramadan: mampu mempertahankan kualitas iman dan amal saleh di tengah kehidupan sehari-hari.

4. Bulan Keberkahan untuk Memulai Hal Baru

Dalam sejarah Islam, bulan Syawal juga dikenal sebagai waktu berlangsungnya beberapa peristiwa besar. Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal, membantah takhayul jahiliyah yang menganggap Syawal sebagai bulan sial. Hal ini menegaskan bahwa Syawal adalah bulan penuh berkah.

People Also Ask:

Amalan sunnah apa yang paling ditekankan di bulan Syawal?

Selain puasa, memperbanyak silaturahmi juga merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan di Bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda bahwa menjalin silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Mengapa puasa 6 hari di bulan Syawal dianjurkan Rasulullah saw?

Hadis ini menunjukkan bahwa menjalankan puasa Syawal setelah Ramadan akan mendapatkan pahala seolah-olah berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini karena setiap kebaikan dalam Islam dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Apa saja tiga amalan yang dianjurkan sebelum melaksanakan salat idain?

3 Amalan Sunah Sebelum Salat Idul FitriMakan. Meskipun hanya sedikit, setiap muslim yang hendak berangkat salat Idul Fitri disunahkan untuk makan. ...Mandi. ...Memotong Rambut dan Kuku Serta Memakai Wewangian.

Amalan baik apa saja yang sudah kamu lakukan selama lebaran?

Hari Raya Idul Fitri: Inilah 7 Amalan Sunnah yang Dianjurkan...Memperbanyak Membaca Takbir. ...2. Berhias dan Mengenakan Pakaian Terbaik. ...Makan Sebelum Shalat Id. ...Melaksanakan Shalat Idul Fitri. ...Menghadiri Tempat Keramaian. ...6. Silaturahim ke Rumah Sahabat. ...7. Tahniah: Memberikan Ucapan Selamat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |