7 Contoh Khutbah Jumat tentang Memanfaatkan Waktu dengan Baik, Bekal Terbaik Akhirat

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa sadar, banyak yang mengabaikannya dan tidak mengisinya dengan amal kebaikan sebai bekal akhirat. Referensi contoh Khutbah Jumat tentang memanfaatkan waktu dengan baik menjadi syiar untuk pengingat umat.

Pasalnya, umat manusia kini banyak terbuai kesibukan duniawi yang melalaikan. Padahal, Allah SWT telah memperingatkannya dengan begitu tegas. "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh." (QS. Al-Ashr: 1-3).

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, mengingatkan waktu adalah modal utama manusia. Membiarkannya berlalu tanpa amal ketaatan merupakan sebuah kerugian dan kebinasaan. Umat manusia dianjurkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan amal shaleh.

Merujuk Buku Rukun dan Syarat Sah Khutbah Jumat Menurut Madzhab Syafiiyah, Ahmad Zarkasih, Lc, dan sumber relevan lainnya, berikut ini adalah tujuh contoh Khutbah Jumat tentang memanfaatkan waktu dengan baik.

Contoh Khutbah Jumat 1: Menghindari Kerugian Waktu

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah pada siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Ketakwaan yang sebenar-benarnya adalah wujud syukur kita atas segala nikmat yang terus mengalir, terutama nikmat usia dan waktu yang masih diberikan oleh Allah hingga detik ini.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr: 1-3).

Melalui ayat ini, Allah bersumpah atas nama waktu untuk menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh umat manusia berada dalam lembah kerugian yang sangat nyata.

Waktu yang terus berjalan pantang mundur akan menelan siapa saja yang tidak mengisinya dengan empat hal utama: keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Manusia sering kali merasa memiliki banyak waktu, sehingga dengan mudah menunda-nunda amal kebaikan karena merasa esok hari masih menjadi miliknya.

Padahal hakikat waktu adalah pedang; jika kita tidak pandai menggunakannya untuk memotong kemalasan, maka waktu itulah yang kelak akan memotong dan membinasakan kita.

Sisa umur yang kita miliki saat ini adalah modal terakhir yang paling berharga untuk ditukarkan dengan ampunan dan surga Allah kelak di akhirat.

Jangan biarkan jatah usia ini habis hanya untuk mengejar kesenangan duniawi yang sifatnya sementara dan pasti akan ditinggalkan saat malaikat maut menjemput.

Mari kita jadikan setiap detik yang berdetak sebagai momentum amal, memastikan lisan ini basah dengan dzikir dan raga ini bergerak dalam ketaatan.

Jadilah hamba yang cerdas, yang mampu mengubah waktu-waktu luang di dunia yang fana ini menjadi investasi pahala abadi yang akan menolong kita di hari kebangkitan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Khutbah 2: Jangan Lalaikan Waktu Demi Harta

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah pada siang hari ini, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah.

Ketakwaan menuntut kita untuk selalu cerdas dalam mengatur skala prioritas hidup, jangan sampai waktu kita habis hanya untuk mengejar fatamorgana duniawi semata.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ. Artinya: "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Munafiqun: 9).

Ayat ini memperingatkan kita dengan sangat keras tentang dua hal yang paling sering merampok dan mencuri waktu ibadah umat manusia: harta kekayaan dan urusan keluarga.

Berapa banyak orang yang menghabiskan waktu berjam-jam dalam kemacetan dan di ruang kerja, namun merasa sangat keberatan meluangkan sepuluh menit saja untuk mendirikan shalat.

Kesibukan mengejar materi kerap kali dijadikan tameng dan alasan untuk menunda ketaatan, seolah-olah rezeki itu hanya bergantung pada seberapa lama waktu kita bekerja.

Padahal, waktu yang dialokasikan untuk mengingat Allah dan bersujud kepada-Nya justru merupakan kunci turunnya keberkahan atas setiap ikhtiar duniawi yang kita jalankan.

Kehilangan uang masih bisa dicari kembali dengan bekerja di lain hari, namun kehilangan waktu walau hanya satu detik mustahil bisa dikembalikan meski ditebus dengan emas sebesar bumi.

Mari kita seimbangkan waktu yang Allah titipkan ini; berikan hak bagi fisik untuk bekerja, namun jangan pernah merampas hak ruhani kita untuk menyembah Sang Pencipta.

Jadikan kesuksesan finansial dan kebahagiaan keluarga sebagai sarana penunjang untuk semakin memperbanyak sedekah, doa, dan kedekatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Gunakanlah waktu sehat dan waktu luang kita hari ini sebelum datang masa sakit dan masa sibuk yang akan memaksa kita menghentikan segala aktivitas.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Khutbah 3: Penyesalan Waktu di Akhirat

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, khatib tidak bosan-bosannya berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah agar kita terus menjaga lentera ketakwaan di dalam hati.

Hari ini kita masih bernapas leluasa di dunia, namun sadarkah kita bahwa di alam kubur sana banyak penghuninya yang menjerit menyesali waktu yang telah mereka sia-siakan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ. Artinya: "(Demikianlah keadaan orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100).

Ayat yang mulia ini menggambarkan secara gamblang betapa berharganya satu detik kehidupan bagi mereka yang telah menyeberang ke alam barzah.

Mereka memohon kepada Allah, meminta dihidupkan kembali bukan untuk berdagang, bukan untuk membangun rumah mewah, melainkan hanya untuk sujud dan beramal saleh.

Namun penyesalan di alam barzah sama sekali tidak memiliki arti, karena waktu tidak akan pernah bisa diputar mundur, dan catatan amal telah dikunci rapat selamanya.

Selagi jantung kita masih berdetak dan kaki kita masih sanggup melangkah ke masjid, ketahuilah bahwa ini adalah wujud kasih sayang Allah memberikan kesempatan bertaubat.

Jangan sampai kita menjadi hamba yang baru menyadari pentingnya shalat dan beribadah justru pada saat kain kafan sedang disiapkan untuk membungkus raga kita.

Bagi mereka yang masa lalunya kelam dan penuh maksiat, pintu taubat masih terbuka sangat lebar selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

Mari kita ganti air mata penyesalan yang terlambat di akhirat nanti dengan air mata taubat di keheningan malam hari ini sebagai pelebur dosa-dosa masa lalu.

Ingatlah bahwa sisa waktu hidup kita yang entah berapa lama lagi ini adalah penentu dari takdir kebahagiaan atau penderitaan abadi di kampung akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Khutbah 4: Pertanggungjawaban Umur di Hari Kiamat

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, mari kita kokohkan pilar ketakwaan di dalam sanubari sebagai bekal terbaik menghadap Allah Ta'ala.

Setiap dari kita tentu sadar bahwa penciptaan alam semesta dan kehidupan ini bukanlah sebuah panggung sandiwara yang kosong dari tujuan dan pertanggungjawaban.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ. Artinya: "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minun: 115).

Ayat ini menyentil logika kita yang sering bertindak sembrono mengabaikan waktu, seolah kehidupan ini bisa dihabiskan untuk sekadar bersenang-senang dan bersantai.

Kelak di Padang Mahsyar, tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba hingga ia ditanya secara terperinci tentang umurnya, untuk apa waktu tersebut ia habiskan selama di dunia.

Setiap lembaran usia kita akan diaudit oleh Yang Maha Teliti; dari masa muda yang bergelora hingga masa tua yang renta, semua menuntut pertanggungjawaban mutlak.

Jika waktu itu banyak terbuang di warung kopi untuk membicarakan aib orang lain, atau tersita di depan layar gawai untuk hal sia-sia, maka bersiaplah menanggung penyesalan.

Namun jika waktu muda dihabiskan untuk menuntut ilmu agama dan waktu tua dihiasi dengan amalan ibadah, maka berbahagialah saat buku catatan amal itu dibentangkan.

Mari kita susun ulang jadwal harian kita; pastikan porsi untuk membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan menghadiri majelis ilmu selalu mendominasi sisa usia yang ada.

Waktu kita sangatlah terbatas, jangan sampai kita kehabisan durasi hidup saat kita belum sempat menyiapkan jawaban yang tepat di hadapan pengadilan Allah kelak.

Perbanyaklah amal saleh hari ini, jadikan shalat lima waktu sebagai penanda disiplinnya kita dalam merawat nikmat umur yang sangat tak ternilai harganya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Khutbah 5: Bergegas dalam Melakukan Kebaikan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, melalui mimbar ini khatib terus mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat dinding ketakwaan dengan ketaatan yang sempurna.

Bentuk nyata dari ketakwaan adalah sikap responsif dan tidak berlambat-lambat dalam merespons setiap peluang ibadah dan kebaikan yang muncul di hadapan kita.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. Artinya: "Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148).

Ayat suci ini merupakan seruan langsung dari Sang Khalik agar umat Islam memiliki mental juara yang selalu ingin berlomba dalam memborong pundi-pundi pahala amal saleh.

Kata berlomba bermakna bahwa waktu yang tersedia tidak banyak, sementara saingan untuk mendapatkan ridha Allah dan surga-Nya menuntut kita untuk bergerak cepat.

Sikap menunda-nunda kebaikan (Taswif) adalah salah satu senjata iblis yang paling ampuh untuk menggagalkan rencana ketaatan hamba-hamba Allah di muka bumi.

Bila terbersit niat di dalam hati untuk bersedekah, segerakanlah sebelum syaitan datang membisikkan rasa takut akan kemiskinan dan kebutuhan duniawi lainnya.

Bila azan telah berkumandang, bergegaslah melangkahkan kaki menuju masjid sebelum kemalasan atau kesibukan mendadak merampas kesempatan shalat berjamaah.

Orang yang menghargai waktu tidak akan pernah membiarkan masa mudanya berlalu tanpa diisi dengan karya yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan keluarga.

Jadikan setiap hari baru yang Allah terbitkan mataharinya sebagai arena perlombaan baru untuk menjadi pribadi muslim yang jauh lebih unggul dari hari kemarin.

Semoga jiwa kompetitif dalam kebaikan ini terus membara di dada kita, sehingga kita tidak pernah kehabisan waktu untuk memetik buah kebahagiaan di hari esok.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Khutbah 6: Kematian Datang Tanpa Peringatan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, mari kita perkuat ketakwaan kita sebagai perisai menghadapi segala tipu daya dunia yang fana.

Berbicara mengenai pemanfaatan waktu tentu tidak bisa dilepaskan dari sebuah kenyataan mutlak yang akan menghentikan seluruh hitungan waktu manusia, yakni kematian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ. Artinya: "Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al-A'raf: 34).

Ketentuan batas waktu atau ajal ini adalah rahasia langit yang sengaja disembunyikan Allah agar kita senantiasa waspada dan tidak pernah lalai dalam beramal.

Kematian tidak pernah menugaskan kurir untuk mengirimkan surat peringatan ke rumah kita, ia bisa menyapa dengan sangat tiba-tiba saat kita sedang lengah.

Banyak pemuda gagah dan sehat bugar wafat mendadak akibat kecelakaan atau serangan jantung, mendahului orang tua rentan penyakit yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Realitas inilah yang seharusnya menyadarkan kita bahwa waktu luang bukanlah kesempatan untuk berfoya-foya, melainkan durasi ekstra yang Allah berikan agar kita memperbanyak istighfar.

Orang yang cerdas dalam memaknai waktu adalah ia yang selalu mengingat mati, sehingga setiap aktivitas duniawinya ia kondisikan seolah-olah besok ia akan berpulang.

Mari kita kurangi perbuatan-perbuatan yang tidak bernilai pahala; ganti obrolan sia-sia dengan tadarus Al-Qur'an, dan ganti permusuhan dengan silaturahmi yang menenteramkan.

Persiapkanlah diri kita sebaik mungkin setiap saat, agar kapanpun alarm batas waktu itu berbunyi, kita sudah dalam keadaan mengantongi tiket menuju surga-Nya.

Semoga Allah menetapkan akhir hayat kita dalam keadaan husnul khatimah, dan memberkahi setiap jengkal umur yang kita lewati dengan amalan ketaatan yang sempurna.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Khutbah 7: Dunia Hanya Persinggahan Sementara

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah siang hari yang berbahagia ini, mari kita kuatkan komitmen ketakwaan kita di hadapan Allah Ta'ala.

Kita terlahir ke dunia ini bagaikan seorang musafir yang sedang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu harus bangkit melanjutkan kembali perjalanan yang sangat panjang.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا. Artinya: "Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari." (QS. An-Nazi'at: 46).

Ayat ini merupakan tamparan keras bagi siapa saja yang terbuai dan merasa bahwa umur puluhan tahun di muka bumi ini terasa sangat lama dan panjang.

Kelak saat keabadian akhirat dipertontonkan, waktu puluhan tahun yang kita lalui sedari bayi hingga meninggal dunia terasa tak lebih dari sekadar satu sore hari belaka.

Sangatlah rugi jika waktu persinggahan yang sekejap ini kita habiskan untuk bermusuhan, memupuk kebencian, atau mengejar jabatan yang penuh dengan kecurangan.

Kecerdasan sejati manusia terletak pada kemampuannya mengelola waktu yang sangat singkat di dunia untuk diinvestasikan menjadi istana megah di kehidupan akhirat.

Lakukanlah peran terbaik di sisa waktu ini; jadilah ayah yang menuntun keluarga ke surga, jadilah tetangga yang peduli, dan jadilah hamba yang istiqamah bersujud.

Mari hapus masa lalu yang kelam dengan taubatan nasuha, karena Allah Maha Menerima Taubat hamba yang sungguh-sungguh memperbaiki dirinya di hari ini.

Semoga sisa usia persinggahan kita di dunia ini benar-benar membawa manfaat, dan semoga kelak kita dibangunkan dalam barisan hamba-hamba Allah yang beruntung.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Pertanyaan Seputar Topik

Khutbah 2 isinya apa saja?

Khutbah kedua secara umum berisi pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, wasiat takwa, dan doa untuk memohon ampunan serta keselamatan bagi seluruh kaum muslimin.

Waktu diantara 2 khutbah Jumat itu kapan?

Waktu di antara dua khutbah Jumat adalah jeda singkat saat khatib duduk sejenak di atas mimbar setelah menyelesaikan khutbah pertama, sebelum ia berdiri kembali untuk menyampaikan khutbah kedua.

1 Saat Khotib Jumat membaca doa pada khutbah kedua, apakah makmum mengucapkan amin?

Saat khatib sedang berkhotbah, termasuk ketika membaca doa pada khutbah kedua, makmum hendaknya diam dan mendengarkan dengan khusyuk.

Apa bedanya khutbah 1 dan 2?

Dalam ibadah Sholat Jumat, khatib menyampaikan dua khutbah yang dipisah dengan duduk sejenak.

Apa saja 7 prinsip dalam menyampaikan khotbah?

Pemberian Anda hendaknya: 1) teratur, 2) partisipatif, 3) disengaja, 4) proporsional, 5) antisipatif, 6) efektif, dan 7) akuntabel . Ketujuh prinsip ini adalah prinsip-prinsip abadi untuk pemberian Kristen yang berlaku untuk semua gereja sepanjang masa.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |