8 Amalan Wanita Haid Agar Tetap Produktif dalam Ibadah, Pahala Terus Mengalir

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Haid atau menstruasi merupakan keistimewaan yang dialami hampir seluruh perempuan dan bukan menjadi alasan menurunnya intensitas ibadah. Terdapat banyak amalan wanita haid agar tetap produktif dalam ibadah yang berpahala besar.

Haid bukanlah penghalang untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Justru, masa ini bisa menjadi kesempatan untuk menggali berbagai dimensi ibadah yang selama ini mungkin terabaikan; ibadah hati, lisan, dan sosial yang tidak terbatas oleh kondisi fisik semata.

Firman Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 99: 'Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin/kematian)'. Para ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini menegaskan kewajiban ibadah yang berkesinambungan sepanjang hayat, tanpa terkecuali, termasuk saat haid.

Merujuk Buku Panduan Praktis Wanita Haid karya Umi Farikhah Abdul Mu’ti, panduan MUI, serta publikasi ilmiah Universitas Islam Indonesia (UII), berikut ini adalah delapan yang dapat dilakukan wanita haid agar tetap produktif beribadah, demi meraih keberkahan dan keridhaan Allah.

1. Dzikir dan Doa

Dzikir dan doa merupakan amalan yang sama sekali tidak terputus oleh kondisi haid. Justru, masa haid bisa menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak dzikir karena hati cenderung lebih tenang dan khusyuk ketika tidak disibukkan dengan rutinitas shalat.

Dalam Buku Panduan Praktis Wanita Haid, dijelaskan bahwa terdapat hadits shahih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanya Nabi berdzikir kepada Allah di setiap keadaannya” (HR. Muslim No. 373). Hadits ini menjadi fondasi utama bahwa tidak ada kondisi yang menghalangi seorang hamba untuk mengingat Tuhannya.

Selain itu, Nabi ﷺ juga memerintahkan para wanita haid untuk keluar di hari Idul Fitri seraya bersabda, “Hendaknya mereka para wanita berada di belakang orang-orang (yang sedang shalat Id) kemudian bertakbir dengan takbir mereka dan berdoa dengan doa mereka” (HR. Bukhari No. 971 dan Muslim No. 890).

Para ulama menganjurkan untuk menjadwalkan waktu dzikir harian, misalnya setiap selesai makan, sebelum tidur, atau saat berada di kendaraan. Dengan catatan harian dzikir, seorang muslimah bisa menargetkan ribuan dzikir dalam seminggu.

Dzikir yang dianjurkan adalah:

  • Tasbih
  • Tahmid
  • Tahlil
  • Takbir
  • Istighfar
  • Shalawat

Doa harian yang bisa diamalkan: Membaca Al-Ma’tsurat (kumpulan doa harian Rasulullah) tetap dianjurkan meskipun sedang haid, karena doa pada hakikatnya adalah dzikir.

2. Murajaah Hafalan Al-Qur’an

Hukum: Diperbolehkan, dengan syarat tidak menyentuh mushaf secara langsung.

Salah satu kekhawatiran terbesar para penghafal Al-Qur’an (hafizhah) adalah hilangnya hafalan selama masa haid yang cukup panjang. Namun, kabar baiknya adalah larangan saat haid hanya terbatas pada menyentuh dan membawa mushaf Al-Qur’an secara fisik, bukan pada aktivitas murajaah (mengulang hafalan) itu sendiri.

Dalam fatwa MUI dijelaskan, “Yang diharamkan saat sedang haid adalah menyentuh dan membawa mushaf Alquran. Kendati demikian, larangan perempuan menyentuh mushaf saat haid, tidak menjadikan dirinya terhalang mendapat pahala membaca Alquran. Perempuan tetap bisa mendapat pahala membaca Alquran dengan melakukan murajaah hafalan atau membaca Alquran terjemah sebagai pengganti amalan membaca Alquran”.

Pendapat Ulama tentang murajaah:

  • Mazhab Maliki membolehkan wanita haid memegang mushaf Al-Qur’an dengan tujuan mengajar atau belajar (talqin), dengan alasan maslahat pendidikan lebih besar.
  • Mazhab Syafi’i (qaul muktamad) mengharamkan secara mutlak, namun memberikan keringanan bagi guru/pengajar Al-Qur’an yang sedang haid untuk tetap mengajar karena kebutuhan mendesak.
  • Pendapat kontemporer yang dianut banyak ulama masa kini: wanita haid boleh membaca Al-Qur’an melalui aplikasi di HP/tablet karena statusnya tidak sama dengan mushaf fisik.

Solusi praktis untuk tetap produktif:

  • Murajaah dengan lisan tanpa memegang mushaf, langsung dari hafalan.
  • Membaca melalui HP/tablet yang terinstal aplikasi Al-Qur’an — pahalanya sama dengan membaca mushaf.
  • Mengikuti tadarus online dengan mendengarkan bacaan qari lalu mengulangi dalam hati atau dengan lirih.
  • Membaca terjemahan Al-Qur’an — para ulama sepakat bahwa kitab terjemah tidak memiliki hukum yang sama dengan mushaf Al-Qur’an.

3. Istighfar

Sangat dianjurkan, tiada hari tanpa istighfar. Istighfar adalah amalan yang tidak pernah lekang oleh waktu dan kondisi. Bahkan, Rasulullah ﷺ yang telah dijamin surga pun beristighfar lebih dari 70 kali sehari. Lalu, bagaimana dengan kita yang penuh dosa?

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang istikamah membaca Istighfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesulitan, Allah akan memberinya kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka” (HR. Imam Abu Dawud).

Keutamaan istighfar bagi wanita haid:

  • Menghapus dosa-dosa kecil yang mungkin terjadi karena ketidaksabaran menghadapi nyeri haid.
  • Membuka pintu rezeki yang halal dan berkah.
  • Menjadi benteng dari gangguan setan yang kerap membisikkan keluhan dan keputusasaan.
  • Mendatangkan ketenangan jiwa (thuma’ninah).

Setidaknya membaca “Astaghfirullah” 100x setiap hari, atau membaca Sayyidul Istighfar setiap pagi dan sore.

Menuntut ilmu syar’i adalah kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, sejak buaian hingga liang lahat. Haid bukanlah penghalang untuk terus belajar, baik melalui kajian online, membaca buku, mendengarkan ceramah, atau menghadiri majelis ilmu di luar masjid.

Dalam Buku Panduan Praktis Wanita Haid dijelaskan bahwa wanita haid diperbolehkan mendatangi majelis ilmu atau majelis tahfidzul Qur’an yang diadakan di rumah, sekolah, dan tempat lainnya selain masjid. Sebagian ulama berpendapat wanita haid tidak diperbolehkan menetap di masjid — namun keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) adalah bentuk kehati-hatian.

Beberapa cara menuntut ilmu saat haid:

  • Mengikuti kajian online melalui Zoom, YouTube, atau platform lainnya.
  • Membaca buku-buku Islam — para ulama sepakat bahwa menyentuh dan membaca buku-buku tafsir atau kitab-kitab Islam lainnya diperbolehkan, meskipun di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an, karena tulisan tafsir lebih dominan.
  • Mendengarkan ceramah atau podcast Islami saat beraktivitas.
  • Mencatat materi kajian sebagai bentuk partisipasi aktif dalam menyerap ilmu.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).

5. Sedekah dan Amal Sosial

Sedekah adalah amalan yang paling luwes, bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dengan apa saja, tanpa terhalang kondisi apapun, termasuk haid. Justru, saat tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan, sedekah menjadi amalan unggulan yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi). Dalam riwayat lain, “Setiap muslim harus bersedekah.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana jika dia tidak memiliki sesuatu?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia bekerja hingga memperoleh hasil, lalu bersedekah. Jika tidak mampu, hendaklah ia membantu orang yang membutuhkan. Jika masih tidak mampu, hendaklah ia berbuat baik dan menahan diri dari kejahatan — itu pun sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ide sedekah produktif saat haid:

  • Memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa (pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala mereka).
  • Menyumbang ke lembaga-lembaga sosial, yayasan anak yatim, atau masjid-masjid terdekat.
  • Berbagi makanan dengan tetangga atau fakir miskin.
  • Menjadi relawan di kegiatan sosial (selama tidak memberatkan kondisi fisik).
  • Menyisihkan sebagian uang belanja setiap minggu untuk disedekahkan.

Catatan: Sedekah di bulan Ramadhan pahalanya berlipat ganda (QS. Al-Baqarah: 261),  700 kali lipat bahkan lebih. Ini adalah kesempatan emas bagi wanita haid yang tidak bisa berpuasa.

6. Mendampingi Suami: Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Haid bukanlah alasan untuk menjauh dari suami. Justru, masa ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat ikatan emosional dengan cara-cara yang halal dan syar’i. Dalam Buku Panduan Praktis Wanita Haid, disebutkan beberapa riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menunjukkan keintiman Rasulullah ﷺ dengan istrinya saat haid:

“Aku pernah minum sementara aku sedang haid, kemudian aku serahkan (minuman tersebut) kepada Nabi ﷺ. Beliau pun meletakkan mulutnya di tempat aku minum, kemudian beliau meminumnya.” (HR. Muslim No. 300)

“Aku menyisir rambut Nabi ﷺ sementara aku sedang haid.” (HR. Bukhari No. 295 dan Muslim No. 297)

“Suatu ketika aku berbaring bersama Nabi dalam satu kain selimut. Tiba-tiba aku mengalami haid… Beliau ﷺ memanggilku. Aku pun kembali berbaring bersama beliau dalam satu selimut.” (HR. Bukhari No. 298 dan Muslim No. 296)

Yang diperbolehkan saat haid bersama suami:

  • Makan dan minum bersama dalam wadah yang sama.
  • Tidur bersama dalam satu selimut.
  • Bercengkerama, berbicara mesra, dan berpelukan (dengan batasan).
  • Melayani suami (menyiapkan makanan, minuman, dll.).

Yang dilarang: Jima’ (hubungan intim). Allah Ta’ala berfirman, “Oleh sebab itu hendaknya kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid” (QS. Al-Baqarah: 222).

Para ulama sepakat bahwa suami istri diperbolehkan saling menikmati bagian tubuh selain kemaluan. Imam Nawawi menyatakan bahwa yang terlarang hanyalah jima’ saja.

7. Sujud Tilawah: Menyentuh Kebesaran Allah Tanpa Syarat Suci

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah (ayat yang di dalamnya terdapat perintah sujud). Sujud tilawah tidak disyaratkan harus dalam keadaan suci dari hadas, karena ia bukan bagian dari shalat.

Dalam Buku Panduan Praktis Wanita Haid disebutkan dalil shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari No. 4862, bahwasanya suatu ketika Nabi SAWmembaca surat An-Najm kemudian beliau sujud tilawah, sementara kaum muslimin, orang musyrik dari golongan jin dan manusia ikut bersujud.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa sujud tilawah bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, tanpa syarat bersuci terlebih dahulu.

Para ulama yang membolehkan sujud tilawah bagi wanita haid beralasan bahwa sujud tilawah pada hakikatnya adalah bentuk penghormatan dan ketundukan kepada perintah Allah ketika mendengar ayat-ayat-Nya, bukan ibadah ritual yang memerlukan syarat kesucian seperti shalat.

Sehingga, meskipun menurut sebagian pendapat wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an (karena khilafiyah), mereka tetap disyariatkan untuk sujud tilawah ketika mendengar bacaan ayat sajdah.

8. I’tikaf di Rumah: Menciptakan Zona Spiritual Pribadi

Para ulama berbeda pendapat tentang masuknya wanita haid ke masjid. Jumhur ulama (mayoritas) dari empat mazhab berpendapat bahwa wanita haid diharamkan berdiam diri di masjid (i’tikaf), dengan dalih untuk menjaga kesucian masjid. Namun, para ulama juga sepakat bahwa i’tikaf bisa dilakukan di rumah, terutama bagi wanita.

Meskipun dalam keadaan haid tidak bisa melakukan i’tikaf di masjid, namun masih bisa dilakukan di rumah. Bahkan dianjurkan untuk mematikan televisi dan menonaktifkan handphone selama beberapa waktu untuk menciptakan suasana khusyuk beribadah.

Amalan i’tikaf di rumah yang bisa dilakukan:

  • Memperbanyak dzikir dan doa.
  • Membaca Al-Qur’an (dengan hafalan atau melalui HP/tablet).
  • Merenung (tafakur) dan introspeksi diri (muhasabah).
  • Membaca buku-buku Islami atau kajian online.
  • Menjauhkan diri dari hal-hal yang melalaikan seperti media sosial berlebihan, ghibah, dan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Meskipun hanya di rumah, i’tikaf tetaplah ibadah yang mendatangkan ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah, terlebih lagi di sepuluh hari terakhir Ramadhan atau malam-malam utama seperti Lailatul Qadar.

Hikmah Melakukan Amalan-Amalan yang Diperbolehkan saat Haid

1. Menjaga koneksi spiritual

Meskipun tidak shalat dan puasa, amalan seperti dzikir dan doa membuat hati tetap terhubung dengan Allah serta menghindarkan dari rasa putus asa karena “libur ibadah”.

2. Mengoptimalkan waktu produktif

Dengan murajaah hafalan, menuntut ilmu, atau bersedekah, masa haid tidak terbuang sia-sia dan justru menjadi momen peningkatan kualitas diri.

3. Melatih kesabaran dan keikhlasan

Istighfar dan sujud tilawah mengajarkan wanita untuk tetap tunduk pada ketetapan Allah serta mengubah rasa sakit fisik menjadi pahala spiritual.

4. Memperkuat keharmonisan rumah tangga

Bercengkerama dengan suami (selain jima’) saat haid menumbuhkan kasih sayang dan pemahaman syariat dalam berumah tangga.

5. Membentuk kebiasaan ibadah hati

Dzikir, doa, dan i’tikaf di rumah melatih konsistensi mengingat Allah dalam kondisi apa pun, sehingga ibadah tidak hanya ritual fisik semata.

Pertanyaan seputar amalan wanita haid

Apa amalan yang dapat dilakukan oleh perempuan yang sedang haid dalam hal ibadah?

Wanita yang sedang haid tetap dianjurkan untuk memperbanyak mengingat Allah melalui berbagai bacaan dzikir. Beberapa dzikir yang dapat diamalkan antara lain: Subhanallah. Alhamdulillah.

Amalan amalan yang bisa dilakukan saat haid?

Meskipun tidak dapat menjalankan ibadah wajib seperti salat dan puasa, wanita yang sedang haid tetap bisa meraih pahala. Anda dapat menggantinya dengan memperbanyak zikir, doa, bersedekah, menuntut ilmu, mendengarkan lantunan ayat Al-Qur'an, dan merawat diri agar tetap produktif serta dekat dengan Allah SWT.

Zikir apa yang diperbolehkan saat haid?

Wanita haid diperbolehkan membaca semua jenis zikir, doa, dan selawat. Zikir terbaik meliputi membaca tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan zikir harian. Zikir saat haid tidak disyaratkan harus berwudu terlebih dahulu, dan bisa dilakukan kapan saja untuk mendapat pahala.

Apakah lagi haid boleh baca ayat 1000 dinar?

Boleh, asalkan dibaca dengan niat berdoa atau berzikir, tidak menyentuh mushaf Al-Qur'an secara langsung, dan tidak melafazkannya dengan tajwid atau irama layaknya tilawah Al-Qur'an.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |