Benarkah Ada Larangan Memotong Kuku pada Hari Tertentu? Simak Penjelasan Ulama

16 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kebersihan adalah ajaran Islam, yang tak hanya wujud estetika jasmani, tetapi juga sebagai refleksi kesucian rohani. Salah satu hal penting adalah rutinitas memotong kuku. Kerap muncul pertanyaan, selain hari yang dianjurkan, benarkah ada larangan memotong kuku pada hari tertentu?

Praktik memotong kuku diklasifikasikan sebagai bagian dari fitrah manusia. Hal ini didasarkan pada dalil sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda: "Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak."

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa merawat kuku bukan sekadar kebiasaan atau rutinitas semata, melainkan amalan yang terkait erat dengan syariat. Dalam Ebook Sunnah-Sunnah Sehari-hari karya Abdullah Hamud al Furaij disebutkan, para ulama sepakat bahwa amalan fitrah ini memiliki tenggat waktu. Mengacu pada hadis riwayat Anas bin Malik, batas maksimal membiarkan kuku tidak dipotong adalah 40 malam.

Kembali ke pertanyaan semula, benarkah ada hari-hari tertentu di mana umat Islam dilarang memotong kuku?

Ada Larangan Memotong Kuku pada Hari Tertentu, Benarkah?

Merujuk Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW karya Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih, umat Islam dianjurkan memotong kuku secara rutin, dengan waktu maksimal 40 hari. Itu artinya, sebelum kuku panjang, seseorang sudah memotong kukunya, agar tak menjadi sarang najis, kotoran dan penyakit.

Di tengah masyarakat, sering beredar mitos yang melarang memotong kuku pada hari-hari tertentu, seperti pantangan di hari Selasa, Rabu, atau larangan memotong kuku di malam hari.

Secara tinjauan hukum syariat, tidak ada dalil sahih yang menetapkan larangan mutlak (haram atau makruh tahrim) memotong kuku pada hari apa pun.

Imam An-Nawawi dalam ensiklopedia fikih Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab menegaskan bahwa memotong kuku adalah ibadah kebersihan yang dianjurkan kapan saja saat kuku sudah panjang dan dirasa perlu untuk dipotong.

Adapun hadis-hadis yang sering disandarkan pada larangan hari tertentu, seperti ancaman terkena penyakit kusta jika memotong kuku pada hari Rabu atau kefakiran di hari Sabtu, telah diteliti secara komprehensif oleh pakar hadis seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam As-Sakhawi.

Para ulama muhadditsin sepakat bahwa riwayat-riwayat tersebut berstatus maudhu' (palsu) atau dhaif jiddan (sangat lemah), sehingga tidak bisa dijadikan landasan penetapan hukum fikih.

Hari Tak Dianjurkan Memotong Kuku, Sekadar Tradisi

Namun begitu, dalam khazanah Islam memang ada hari yang tidak dianjurkan (Berdasarkan Tradisi dan Kehati-hatian) memotong kuku. Meskipun secara syariat tidak ada larangan yang sah, beberapa ulama klasik memberikan pandangan mengenai hari-hari yang sifatnya kurang diutamakan (bukan diharamkan).

Beberapa kitab tasawuf dan pandangan klasik Islam menyebutkan Rabu dan Sabtu sebagai hari yang kurang direkomendasikan. Beberapa pemikir klasik menyinggung hal ini berdasarkan pandangan kedokteran klasik atau tradisi (thib) di masa itu yang mengaitkannya dengan potensi penyakit fisik.

Namun, para ulama fikih masa kini, termasuk yang tertuang dalam penjelasan Abdullah Hamud al Furaij, menitikberatkan agar umat Islam tidak terjebak pada mitos hari sial (tathayyur).

Menunda kebersihan karena meyakini kesialan di hari tertentu justru bertentangan dengan prinsip tauhid. Kuku wajib dipotong jika sudah melampaui batas waktu 40 hari, tanpa memedulikan hari apa itu.

Hadis Maudhu' tentang Kesialan Memotong Kuku di Hari Tertentu

Kepercayaan tentang larangan atau keutamaan potong kuku pada hari tertentu umumnya merujuk pada sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Hadits tersebut berbunyi:

"Barang siapa memotong kukunya pada hari Sabtu, maka keluar darinya penyakit dan masuk ke dalamnya kesembuhan. Barang siapa memotong kukunya pada hari Ahad, keluar darinya kemiskinan dan masuk ke dalamnya kekayaan...” (dan seterusnya hingga hari Jumat, disebutkan masuk rahmat dan keluar dosa)

Hadits ini memberikan "keutamaan" khusus untuk setiap hari. Namun, para ulama hadits telah sepakat bahwa hadits tersebut palsu (maudhu'). Para pakar hadits mengkritisinya karena beberapa kelemahan fatal:

1. Sanadnya Lemah

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa tidak ada hadits yang dapat diterima tentang kesunahan memotong kuku di hari Kamis, apalagi hari-hari lainnya. Sanad hadits ini dinilai majhul (tidak dikenal) dan cacat.

2. Kontradiksi dengan Prinsip Syariat

Islam adalah agama yang fitrah dan mudah. Tidak ada logika syariat yang membedakan secara rigid pahala memotong kuku berdasarkan hari dalam seminggu, terlebih hingga rinci seperti "keluar penyakit ini, masuk penyakit itu". Hal ini sangat janggal dan tidak sesuai dengan karakteristik ajaran Islam yang umum dan mudah.

3. Matannya Bermasalah

Redaksi hadits ini menyerupai ramalan atau "primbon" yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Ia lebih mirip dengan budaya lokal Persia atau Hindu yang kemudian dinisbatkan kepada Nabi.

Kesimpulannya, hadits tentang keutamaan potong kuku pada hari-hari tertentu adalah palsu dan tidak boleh diamalkan, apalagi dijadikan dasar untuk meyakini adanya keberkahan atau keburukan di hari tertentu.

Hari Dianjurkan untuk Memotong Kuku

Syariat Islam lebih menonjolkan anjuran (fadhilah) dibandingkan larangan. Waktu terbaik memotong kuku adalah hari Jumat (paling utama, sebagai persiapan ibadah agung), kemudian hari Kamis dan Senin (hari diangkatnya amal).

Untuk hari-hari lainnya, seorang muslim tetap boleh memotong kuku jika sudah panjang, tanpa perlu ragu atau takut akan kesialan.

1. Hari Jumat

Hari yang paling direkomendasikan dan disunnahkan untuk memotong kuku adalah Hari Jumat, atau dilakukan pada hari Kamis sore dalam rangka persiapan menyambut Jumat.

Hal ini didasarkan pada atsar dari para sahabat dan kebiasaan Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya Rasulullah SAW biasa memotong kuku dan merapikan kumisnya pada hari Jumat, sebelum beliau berangkat untuk melaksanakan shalat (Jumat)." (HR. Al-Baihaqi, sanad hasan).

Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih memaparkan bahwa Jumat adalah sayyidul ayyam (tuannya hari-hari) sekaligus hari raya pekanan bagi umat Islam. Merapikan diri dengan memotong kuku, mandi sunnah, dan bersiwak sebelum shalat Jumat adalah manifestasi pengagungan terhadap hari tersebut.

Hal ini juga memastikan seorang Muslim berkumpul di masjid dalam kondisi fisik yang paling bersih, wangi, dan tidak mengganggu kenyamanan jamaah lain.

2. Hari Kamis dan Senin

Selain Jumat, memotong kuku pada hari Kamis dan Senin juga merupakan amalan yang baik. Hal ini karena kedua hari tersebut adalah waktu diangkatnya amal manusia kepada Allah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Amal perbuatan manusia dihadapkan (kepada Allah) pada setiap hari Senin dan Kamis." (HR Muslim).

Oleh karena itu, memotong kuku pada hari Senin dan Kamis merupakan bagian dari upaya menghadirkan diri dalam keadaan bersih saat amal diangkat.

Hikmah Meneladani Sunnah Memotong Kuku

Ada banyak hikmah di balik sunnah yang tampaknya sepele ini:

1. Kesempurnaan Ibadah (Thaharah)

Kuku yang panjang dapat menahan air wudhu mencapai kulit di bawahnya. Ini bisa meragukan kesucian wudhu dan shalat. Kuku yang pendek dan bersih memastikan air membasahi seluruh anggota wudhu dengan sempurna.

2. Pencegahan Penyakit

Kotoran dan kuman merupakan sarang penyakit (bakteri, jamur). Memotong kuku secara rutin mencegah penumpukan kotoran dan infeksi seperti Paronychia (infeksi pada lipatan kuku).

3. Penampilan yang Rapi dan Bersih

Islam adalah agama yang mencintai keindahan dan kebersihan (innallaha jamilun yuhibbul jamal). Kuku yang bersih mencerminkan kepribadian seorang muslim yang baik.

4. Membedakan dengan Musuh Islam (Mukhalafah)

Praktik membiarkan kuku panjang menyerupai kebiasaan orang-orang musyrik atau mereka yang jauh dari fitrah.

5. Mendapat Pahala Ittiba' (Mengikuti Nabi)

Melakukan amalan sunnah dengan niat karena Allah dan meneladani Rasulullah ﷺ akan mendatangkan pahala, meskipun hanya sekadar memotong kuku.

Pertanyaan Seputar Larangan Memotong Kuku pada Hari Tertentu

Kenapa tidak boleh memotong kuku 10 hari sebelum Idul Adha?

Aturan menahan diri untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan disembelih berlaku khusus bagi orang yang berkurban (shohibul qurban).

Hari apa saja yang tidak boleh gunting kuku?

Tidak ada hari atau waktu yang secara mutlak dilarang untuk menggunting kuku. Menggunting kuku adalah sunah dan bagian dari menjaga kebersihan yang dianjurkan untuk dilakukan kapan saja.

Gunting kuku yang bagus hari apa menurut Islam?

Menurut Islam, tidak ada larangan mutlak untuk memotong kuku di hari tertentu. Namun, ada hari-hari yang sangat dianjurkan (sunnah) dan diyakini membawa kebaikan

Apakah boleh memotong kuku hari Sabtu dalam Islam?

Dalam Islam, memotong kuku pada hari Sabtu diperbolehkan dan tidak ada larangan mutlak dari Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada sebagian pendapat ulama klasik yang mengaitkan hari tertentu dengan dampak tertentu, anjuran yang paling kuat dan disepakati adalah membersihkan diri (termasuk memotong kuku) kapan saja saat dibutuhkan.

Mulai kapan tidak boleh potong kuku saat Idul Adha 2026?

Larangan memotong kuku dan mencukur rambut bagi orang yang berkurban (shohibul qurban) berlaku sejak tanggal 1 Dzulhijjah (atau malam pertama bulan Dzulhijjah) hingga hewan kurban selesai disembelih.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |