Bulan Muharram dan Suro, Apa Persamaan serta Perbedaannya? Simak Penjelasannya

12 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Dalam tradisi Islam di Nusantara, ada dua istilah yang nyaris identik, bulan Muharram dan Suro. Keduanya merujuk pada tahun baru. Oleh sebab itu, kerap muncul pertanyaan, Muharram dan Suro, apa persamaan serta perbedaannya?

Pertanyaan ini wajar muncul mengingat dua istilah ini seolah menjadi dua sisi mata uang yang sama, namun menyimpan akar historis unik. keduanya merujuk pada bulan pertama dalam sistem penanggalan lunar.

Muharram merupakan pembuka lembaran kalender Hijriah bagi tradisi Islam, sementara Suro secara paralel mengawali siklus penanggalan Jawa kuno. Atmosfer perayaannya memiliki corak distingtif. Muharram lekat dengan syariat puasa Asyura dan renungan hijrah, sedangkan Suro sangat identik dengan laku prihatin serta akulturasi budaya lokal Nusantara.

Namun begitu, terdapat benang merah filosofis yang jarang terungkap. Merujuk Jurnal Bulan Suro dalam Perspektif Islam dan Tradisi Bulan Suro di Pulau Jawa, Za'farullah Jamaly, UIN Walisongo, serta literatur terkait lainnya, berikut ini adalah persamaan dan perbedaan Muharram dan Suro.

Persamaan Muharram dan Suro

  • Kesamaan Kalender: Secara historis dan konseptual, Muharram dan Suro adalah dua nama untuk bulan pertama dalam penanggalan masing-masing. Sultan Agung sengaja menyamakan 1 Suro dengan 1 Muharram untuk menyatukan dua kalender yang berbeda.
  • Kesakralan Waktu: Bulan ini sangat dimuliakan. Dalam Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (suci), di mana umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh. Masyarakat Jawa juga meyakini bulan Suro sebagai waktu yang sakral dan penuh dengan nilai-nilai spiritual untuk introspeksi diri.
  • Penanda Awal Tahun Baru: Baik Muharram maupun Suro sama-sama menjadi penanda awal tahun. Umat Muslim menjadikan 1 Muharram sebagai Tahun Baru Hijriah, sementara masyarakat Jawa menjadikan 1 Suro sebagai Tahun Baru Jawa.
  • Kemuliaan untuk Introspeksi: Keduanya menjadi momen untuk merenung dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Puasa Asyura menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan meningkatkan kualitas spiritual.

Perbedaan Muharram dan Suro

  • Makna dan Tujuan: Muharram adalah bulan haram yang memiliki nilai religius dan sejarah hijrah Rasulullah SAW. Sementara itu, Suro dalam tradisi Jawa memiliki makna yang lebih magis, keramat, dan penuh dengan nuansa mistik untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
  • Landasan dan Tradisi: Muharram berdasarkan pada ajaran Islam (Al-Qur'an dan Hadis). Tradisi yang dianjurkan berfokus pada peningkatan ibadah, seperti puasa sunnah Asyura dan Tasu'a untuk menyelisihi kaum Yahudi dan menghapus dosa setahun yang lalu. Sementara Suro berdasarkan pada adat istiadat dan kepercayaan lokal turun-temurun. Masyarakat Jawa melakukan berbagai ritual seperti tirakat, kungkum (berendam), dan topo bisu (berjalan tanpa bicara).
  • Praktik Ibadah vs Ritual Adat: Umat Islam dianjurkan berpuasa sunnah pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram (Tasu'a, Asyura, dan 11 Muharram). Sebaliknya, dalam tradisi Suro, terdapat berbagai pantangan dan ritual adat, seperti dilarang mengadakan pesta pernikahan, pindah rumah, atau keluar malam, serta menggelar ritual khusus seperti mencuci benda pusaka atau kirab kebo.
  • Waktu Pelaksanaan dan Dimensi Waktu: Dalam perspektif Islam, tanggal 1 Muharram ditentukan berdasarkan kriteria hisab dan rukyat yang berlaku umum. Namun, dalam kalender Jawa, ada sistem perhitungan tersendiri dengan siklus windu (8 tahun) yang membuat tanggal 1 Suro terkadang berbeda 1 hari dengan 1 Muharram pada tahun tertentu. Sebagai contoh, pada tahun 2026, 1 Muharram 1448 H jatuh pada 16 Juni, sedangkan 1 Suro 1959 jatuh pada 17 Juni.

Akulturasi dalam Bingkai Ibadah

Perbedaan ini tidak serta-merta menciptakan jurang pemisah. Justru di sinilah keindahan akulturasi budaya Nusantara terlihat. Tradisi Jenang Sura atau bubur Suro adalah salah satu wujud nyata bagaimana nilai-nilai Islam diintegrasikan ke dalam budaya lokal.

Tradisi ini diyakini terinspirasi dari peristiwa setelah banjir besar, ketika Nabi Nuh dan para pengikutnya mengumpulkan sisa-sisa bekal yang berupa tujuh jenis biji-bijian lalu memasaknya menjadi bubur. Bubur yang terbuat dari beras, kacang-kacangan, dan santan ini bukan sekadar makanan, melainkan mengandung makna mendalam:

  • Pelajaran Sejarah: Menjadi pengingat bagi umat Islam akan kisah Nabi Nuh dan bentuk rasa syukur atas keselamatan yang diberikan Allah SWT.
  • Ekspresi Syukur: Warna putih jenang melambangkan kebersihan dan tekad untuk memulai lembaran baru yang lebih baik di tahun yang baru.
  • Solidaritas Sosial: Jenang Sura dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai wujud sedekah dan perekat silaturahmi.

Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam

  1. Ditetapkan sebagai Bulan Allah (Syahrullah): Rasulullah menyandarkan nama bulan ini langsung kepada Allah dengan sebutan Syahrullah. Penyandaran ini merupakan bentuk pemuliaan dan pengagungan (ta'zhim) yang menunjukkan betapa besarnya keutamaan bulan ini di sisi Allah.
  2. Bagian dari Bulan Suci (Asyhurul Hurum): Muharram merupakan satu dari empat bulan haram (suci) yang disebutkan dalam Al-Qur'an (Surah At-Taubah ayat 36). Keutamaannya adalah setiap amal saleh yang dikerjakan di dalamnya akan diganjar dengan pahala yang jauh lebih besar. Sebaliknya, perbuatan zalim dan dosa di bulan ini memiliki konsekuensi yang lebih dahsyat dan berat dibandingkan bulan-bulan lainnya.
  3. Waktu Paling Utama untuk Puasa Sunah: Rasulullah secara eksplisit menyatakan bahwa puasa sunah yang paling utama dan afdal setelah puasa wajib di bulan Ramadan adalah puasa yang dikerjakan di bulan Allah, yakni Muharram.
  4. Memiliki Keutamaan Puasa Hari Asyura: Di dalam Muharram terdapat hari Asyura (tanggal 10 Muharram) yang menyimpan keistimewaan besar. Berpuasa pada hari Asyura dijanjikan oleh Allah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil selama setahun penuh yang telah lalu.

Amalan-Amalan di Bulan Muharram

1. Puasa Asyura (10 Muharram)

Puasa ini sangat dianjurkan karena dapat menghapus dosa setahun yang lalu, sebagaimana sabda Rasulullah dalam HR. Muslim. Cukup dilakukan sehari penuh dengan niat karena Allah.

2. Puasa Tasu’a (9 Muharram)

Puasa ini disunnahkan untuk menyelisihi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja. Rasulullah pernah berniat melaksanakannya jika masih hidup tahun depan.

3. Puasa 11 Muharram

Sebagian ulama menganjurkan puasa pada tanggal 11 sebagai bentuk kehati-hatian dan tambahan amal. Meskipun dalilnya lemah, puasa ini tetap termasuk puasa sunnah di bulan Muharram.

4. Puasa semaksimal mungkin di bulan Muharram

Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram. Dianjurkan untuk berpuasa sebanyak mungkin, tidak hanya pada tanggal 9-11.

5. Memperbanyak sedekah dan berbagi makanan

Tradisi Jenang Sura di Jawa mengajarkan untuk memasak bubur dari biji-bijian dan membagikannya kepada tetangga. Amalan ini merupakan bentuk syukur dan solidaritas sosial yang sangat dianjurkan.

6. Mempererat silaturahmi

Momen bulan Muharram dapat dimanfaatkan untuk saling mengunjungi kerabat dan memaafkan kesalahan. Hal ini memperkuat ukhuwah Islamiyah dan membersihkan hati.

7. Doa awal dan akhir tahun

Sebagian ulama menganjurkan membaca doa pergantian tahun Hijriah setelah Ashar pada 29 Dzulhijjah dan setelah Maghrib pada 1 Muharram. Doa ini berisi permohonan ampun dan kebaikan di tahun yang akan datang.

8. Meninggalkan dosa dan maksiat

Karena Muharram adalah bulan haram, dosa yang dilakukan di dalamnya mendapat siksaan yang lebih besar. Maka amalan terpenting adalah menjaga diri dari segala bentuk kezaliman dan perbuatan haram.

Pertanyaan Seputar Bulan Muharram dan Suro

Muharram sama Suro apakah sama?

Muharram dan Suro pada dasarnya adalah penanggalan yang sama. Keduanya merujuk pada bulan pertama dalam sistem kalender yang digunakan di awal tahun baru. Namun, keduanya memiliki sejarah, nama kalender, dan cara pandang/tradisi yang berbeda

1 Muharram jatuh pada tanggal berapa?

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Hari tersebut telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari libur nasional.

Apakah 1 Suro itu tahun baru Islam?

Tahun Baru Islam (1 Muharram) dan 1 Suro merupakan peringatan hari yang sama, yaitu hari pertama dalam kalender Hijriah. Perbedaannya hanya terletak pada penyebutan namanya. Istilah 1 Muharram digunakan dalam kalender Islam secara umum, sedangkan 1 Suro adalah sebutan tahun baru dalam penanggalan kalender Jawa.

1 Muharram tahun 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

1 Suro tidak boleh apa saja?

Malam 1 Suro sangat disakralkan dalam tradisi Jawa. Dipercaya sebagai bulan prihatin dan waktu di mana makhluk gaib berkeliaran.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |