Ikatan Sarjana Katolik Minta Negara Jamin Kebebasan Beragama

1 hour ago 2

PENGURUS Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) mendesak negara menjamin perlindungan kebebasan beragama dan berkeyakinan menyusul dugaan kekerasan terhadap warga Padepokan Saung Taraju Jumantara di Tasikmalaya. Organisasi itu menilai peristiwa tersebut mencederai semangat kerukunan dan keberagaman di Indonesia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat, 8 Mei 2026, Presidium Dialog Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan PP ISKA, Restu Hapsari, menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa warga Padepokan Saung Taraju Jumantara pada 7 April 2026 lalu.

“Tindakan destruktif terhadap ruang-ruang fisik serta pemaksaan kehendak terhadap keyakinan batiniah warga negara bukan saja mencederai semangat kerukunan,” kata Restu.

Menurut dia, praktik spiritualitas yang disebut sinkretisme dan diduga dijalankan warga padepokan merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Restu menyebut upaya memelihara tradisi leluhur seperti ajaran Pikukuh Sunda bersamaan dengan pengamalan syariat agama merupakan bentuk inkulturasi yang telah berlangsung selama ratusan tahun di Indonesia.

“Stigmatisasi dan penghakiman sepihak terhadap ekspresi spiritualitas warga negara tidak memiliki tempat dalam sebuah masyarakat yang beradab dan berakal budi,” ujar dia.

PP ISKA menilai rangkaian ancaman dan kekerasan terhadap warga padepokan tidak lepas dari minimnya literasi keberagaman dan trauma sosial masa lalu. Organisasi itu juga menyinggung Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang dinilai seharusnya menjadi dasar perlindungan terhadap seluruh warga negara tanpa membedakan keyakinan.

“Negara tidak boleh membiarkan warga di pelosok perdesaan hidup dalam bayang-bayang ketakutan hanya karena memilih untuk menghidupi tradisi spiritualitasnya,” kata Restu.

PP ISKA juga meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan bijaksana agar tidak terjadi pembiaran terhadap kasus kekerasan berbasis keyakinan. Organisasi tersebut mengajak masyarakat dan tokoh lintas agama lebih mengedepankan dialog dibanding konfrontasi dalam menyikapi perbedaan keyakinan.

“Kebangsaan kita hanya akan tetap kokoh jika kita mampu menjaga ruang hidup yang aman bagi setiap jiwa untuk bertumbuh sesuai dengan keyakinannya, demi mewujudkan Indonesia yang lebih humanis dan bermartabat," ujar Restu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |