Jangan Cuma Fokus Hilangkan Keriput, Kesehatan Sel Kulit Tak Kalah Penting

2 hours ago 2

CANTIKA.COMJakarta - Dunia kecantikan terus mengalami perkembangan seiring meningkatnya pemahaman terhadap proses penuaan. Jika selama ini pembahasan anti-aging identik dengan keriput, flek hitam, kulit kendur, atau berkurangnya kolagen, kini para ahli mulai melihat penuaan dari perspektif yang lebih mendasar, yaitu kesehatan sel.

Aesthetic Doctor dan Founder DL Beauty Slim & Skin Care, dr. Dedy Chandra, menjelaskan bahwa penuaan kulit tidak hanya terjadi karena penurunan kolagen atau elastisitas jaringan. Lebih jauh, proses penuaan juga berkaitan dengan menurunnya kemampuan sel untuk memperbaiki diri, mempertahankan energi, mengelola stres oksidatif, dan menjalankan fungsi biologisnya secara optimal.

“Dalam ilmu longevity modern, fokusnya tidak lagi hanya pada bagaimana membuat seseorang terlihat lebih muda, tetapi bagaimana menjaga kesehatan sel agar tetap sehat, adaptif, dan mampu melakukan regenerasi dengan baik,” ujar dr. Dedy Chandra.

Salah satu topik yang saat ini banyak mendapat perhatian dalam dunia longevity dan anti-aging adalah sirtuin, yaitu kelompok protein yang berperan dalam berbagai proses penting di dalam tubuh. Sirtuin diketahui terlibat dalam regulasi metabolisme energi, pengendalian inflamasi, perbaikan DNA, fungsi mitokondria, serta kemampuan sel dalam merespons berbagai bentuk stres biologis.

Menurut dr. Dedy, sirtuin sering disebut sebagai longevity protein karena perannya dalam membantu sel mempertahankan keseimbangan dan daya tahan terhadap faktor-faktor yang dapat mempercepat proses penuaan. Namun, ia menegaskan bahwa sirtuin bukanlah “obat awet muda” yang dapat menghentikan atau membalikkan proses penuaan secara instan.

“Sirtuin bukan tombol ajaib yang membuat seseorang kembali muda. Perannya lebih kepada membantu tubuh menua dengan lebih sehat melalui mekanisme perbaikan dan adaptasi sel yang lebih baik,” jelasnya.

Penelitian mengenai sirtuin pertama kali bermula dari penemuan gen Sir2 pada ragi yang berkaitan dengan umur sel. Seiring berkembangnya riset, para ilmuwan menemukan bahwa jalur biologis yang melibatkan sirtuin juga terdapat pada hewan dan manusia, serta memiliki hubungan erat dengan metabolisme, perbaikan DNA, fungsi mitokondria, dan pengelolaan stres oksidatif.

Salah satu faktor penting yang mendukung kerja sirtuin adalah molekul NAD+ atau Nicotinamide Adenine Dinucleotide. NAD+ berperan penting dalam produksi energi sel dan berbagai proses biologis yang berkaitan dengan perbaikan serta fungsi sel. Namun, kadar NAD+ secara alami cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan sel dalam mempertahankan kualitas dan fungsinya.

Karena itu, berbagai pendekatan gaya hidup sehat dinilai dapat membantu mendukung aktivitas sirtuin secara alami. Beberapa di antaranya adalah olahraga teratur, tidur yang cukup, menjaga pola makan seimbang, mengendalikan konsumsi gula berlebih, serta mengurangi stres kronis yang dapat memicu inflamasi di dalam tubuh.

“Gaya hidup memiliki peran yang sangat besar dalam kualitas penuaan seseorang. Tidak ada satu bahan atau satu treatment yang dapat bekerja sendirian tanpa didukung kondisi biologis tubuh yang sehat,” kata dr. Dedy.

Aesthetic Doctor dan Founder DL Beauty Slim & Skin Care, dr. Dedy Chandra/Foto: Doc. Pribadi

Mengulik Skin Longevity

Dalam konteks kesehatan kulit, konsep sirtuin memiliki kaitan erat dengan skin longevity, yaitu pendekatan perawatan kulit yang berfokus pada kesehatan, ketahanan, dan kemampuan kulit untuk memperbaiki diri dalam jangka panjang. Skin longevity tidak hanya berbicara tentang kulit yang tampak awet muda, tetapi juga tentang bagaimana kulit tetap kuat, stabil, dan mampu menjalankan fungsi biologisnya seiring bertambahnya usia.

Menurut dr. Dedy, kulit yang sehat secara jangka panjang bukan hanya kulit yang bebas keriput, tetapi kulit yang memiliki skin barrier baik, inflamasi yang terkendali, regenerasi yang optimal, kadar hidrasi yang seimbang, serta kemampuan untuk melawan kerusakan akibat faktor lingkungan seperti polusi, stres, dan paparan sinar ultraviolet.

“Estetika modern saat ini bergerak menuju konsep skin longevity. Jadi bukan sekadar membuat kulit terlihat muda dalam waktu singkat, tetapi menjaga agar kulit tetap sehat, kuat, dan mampu memperbaiki dirinya sendiri dalam jangka panjang,” ujarnya.

Konsep ini menjadi semakin relevan di negara tropis seperti Indonesia, di mana paparan sinar matahari terjadi hampir sepanjang tahun. Paparan sinar ultraviolet yang berlangsung terus-menerus dapat memicu photoaging, yaitu penuaan kulit akibat sinar UV.

Kondisi ini dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas, kerusakan DNA, inflamasi kronis, degradasi kolagen, hingga munculnya flek hitam, kulit kusam, tekstur kasar, garis halus, dan tanda-tanda penuaan dini lainnya.

Menurut dr. Dedy, perlindungan kulit tidak cukup hanya dilakukan dari luar melalui penggunaan sunscreen atau perawatan estetika. Kulit juga membutuhkan dukungan biologis dari dalam agar mampu mempertahankan kualitasnya dalam jangka panjang. Di sinilah konsep kesehatan sel menjadi penting, karena kulit yang sehat secara seluler akan memiliki respons perbaikan yang lebih baik terhadap kerusakan dan stres lingkungan.

Meski demikian, dr. Dedy menegaskan bahwa konsep kesehatan sel dan skin longevity bukan berarti menggantikan prosedur estetika modern seperti laser, filler, collagen stimulator, skin booster, maupun botulinum toxin. Sebaliknya, pendekatan ini berfungsi sebagai fondasi biologis agar kulit memiliki kondisi yang lebih baik dan dapat merespons berbagai tindakan perawatan secara lebih optimal.

“Treatment estetika tetap memiliki peran penting, tetapi hasil yang baik akan lebih optimal jika didukung oleh kondisi kulit dan sel yang sehat. Karena itu, pendekatan anti-aging masa kini perlu melihat kulit secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari permukaan,” jelasnya.

Dalam pendekatan skin longevity, perawatan kulit tidak lagi hanya berfokus pada koreksi tanda penuaan yang sudah terlihat, tetapi juga pada pencegahan kerusakan sejak dini. Hal ini mencakup menjaga kesehatan skin barrier, mengontrol inflamasi, mendukung regenerasi kulit, melindungi kulit dari paparan UV, serta membantu menjaga kualitas kolagen dan elastin agar tetap optimal.

Dengan pemahaman yang semakin berkembang mengenai sirtuin, NAD+, dan kesehatan sel, dunia kecantikan memasuki era baru yang lebih komprehensif. Anti-aging tidak lagi hanya dilihat sebagai upaya mengurangi keriput atau membuat wajah tampak lebih muda, tetapi sebagai proses menjaga kualitas biologis kulit agar tetap sehat, kuat, dan berfungsi baik dalam jangka panjang.

Melalui konsep ini, kecantikan tidak lagi hanya dimulai dari apa yang terlihat di cermin, melainkan dari sel yang sehat, kulit yang terjaga, dan tubuh yang mampu mempertahankan keseimbangannya seiring bertambahnya usia. Dengan pendekatan yang tepat, proses penuaan dapat dipahami secara lebih rasional, dirawat secara lebih menyeluruh, dan dijalani dengan kualitas kulit yang lebih baik.

ECKA PRAMITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |