SEJUMLAH ekonom memprediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia April 2026 akan mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen. Hal ini seiring dengan tekanan eksternal yang masih berlangsung serta meningkatnya risiko inflasi jika harga energi global terus meningkat.
“Ruang cut rate sudah habis karena ekspektasi inflasi yang lebih tinggi,” kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro saat dihubungi di Jakarta pada Rabu, 22 April 2026, seperti dikutip dari Antara.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Andry memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah dalam jangka pendek yaitu pada periode sekitar satu hingga tiga bulan ke depan, masih bakal tertekan, sehingga cenderung bergerak di kisaran Rp 17.000-an per dolar AS.
Sementara itu, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman berpendapat ruang penurunan BI Rate di masa mendatang akan semakin kecil. Pasalnya, gejolak geopolitik kemungkinan tidak akan cepat berakhir.
Saat ini, kata Faisal, sentimen terhadap rupiah mulai menunjukkan perbaikan. Meski begitu, ada pola musiman pada kuartal kedua berupa pembayaran imbal hasil aset domestik kepada investor nonresiden yang masih memberikan tekanan terhadap rupiah.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpeluang menguat pada semester kedua. Terutama, menurut Faisal, karena saat ini berada pada level yang relatif undervalued.
Faisal menyebutkan penguatan ke bawah Rp 17.000 dolar per AS masih terbuka. Syaratnya: pertumbuhan ekonomi tetap resilien, inflasi terjaga, serta keberlanjutan fiskal tetap kuat, terutama melalui perbaikan dari sisi penerimaan negara.
“Jika semua hal tersebut dapat terwujud, maka bisa jadi katalis positif Indonesia," tutur Faisal. "Meski jika pun ke bawah Rp 17.000 per dolar AS, namun masih di kisaran Rp 16.800-16.900 per dolar AS.".
Sementara itu, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menjelaskan dari sisi harga, inflasi umum menurun menjadi 3,48 persen (yoy) pada Maret 2026. "Ini seiring mulai berkurangnya low-base effect dari diskon tarif listrik sebelumnya," tuturnya.
Tapi penurunan inflasi kemudian diikuti dengan meningkatnya ketidakpastian global, terutama setelah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran. Akibatnya, inflasi impor berisiko naik melalui kenaikan harga energi serta memicu volatilitas di pasar keuangan global.
Riefky pun mengingatkan bahwa guncangan eksternal akan turut memengaruhi arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve). Meski bunga The Fed ditahan, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret menunjukkan perbedaan pandangan, yang sebagian menilai risiko inflasi masih tinggi sehingga membuka ruang kenaikan bunga, sedang sebagian lain mulai mempertimbangkan pemangkasan bunga seiring risiko perlambatan ekonomi.
Ia menyatakan kombinasi tekanan inflasi dan pelemahan pertumbuhan meningkatkan risiko stagflasi, membuat ruang kebijakan The Fed semakin sempit. "Dan mendorong pendekatan wait and see sambil mencermati perkembangan konflik ke depan,” ujar Riefky.
Pasar keuangan Indonesia, kata dia, mengalami arus keluar modal bersih sekitar US$ 1,47 miliar pada pertengahan Maret 2026 hingga pertengahan April 2026, dengan tren yang berbeda antar-kelas aset.
Seiring terjadinya arus keluar modal dalam sebulan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi moderat dengan pelemahan sebesar 0,88 persen (month to month/mtm) dari Rp 16.975 per dolar AS menjadi Rp 17.125 per dolar AS pada periode pertengahan Maret hingga pertengahan April. "Ini melewati ambang psikologis Rp 17.000 per per dolar AS," ujarnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi. Hal ini tercermin dari penurunan cadangan devisa sekitar US$ 3,7 miliar dari US$ 151,9 miliar pada Februari 2026 menjadi US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
Lebih jauh, Riefky menilai pelonggaran moneter yang terlalu dini berisiko memicu arus keluar modal dan melemahkan rupiah di tengah inflasi yang masih tinggi, sementara sikap hati-hati dapat memperketat kondisi keuangan dan menekan aktivitas ekonomi domestik.
Oleh sebab itu, Riefky memperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada level 4,75 persen sambil tetap berada dalam posisi wait and see. Bank sentral juga diprediksi bakal memprioritaskan stabilitas nilai tukar serta ketahanan eksternal, dengan ruang untuk memperketat kebijakan apabila tekanan inflasi kembali muncul atau meningkat.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770150/original/051663000_1710247846-20240312-Berbuka_Puasa_di_Istiqlal-HER_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417338/original/087225200_1763529762-Buka_Puasa.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2898274/original/080785500_1567273060-Pawai-Obor4.jpg)