Libur Sekolah Datang, Begini Cara Membantu Anak Neurodivergent Tetap Nyaman dan Bahagia

9 hours ago 8

CANTIKA.COM, Jakarta - Libur sekolah sering menjadi momen yang paling dinanti anak-anak. Waktunya bermain lebih lama, jalan-jalan bersama keluarga, atau sekadar menikmati hari tanpa tugas sekolah. Namun, situasinya bisa berbeda bagi anak neurodivergent, seperti anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, maupun gangguan pemrosesan sensorik.

Berbeda dengan kebanyakan anak, mereka umumnya merasa lebih nyaman ketika menjalani rutinitas yang teratur. Saat jadwal sekolah berhenti dan aktivitas sehari-hari berubah, tidak sedikit anak yang justru menjadi lebih cemas, mudah kewalahan, atau kesulitan mengatur emosi.

Data yang disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono, dalam Special Kids Expo (SPEKIX) 2024 menyebutkan bahwa sekitar 2,4 juta anak di Indonesia diperkirakan berada dalam spektrum autisme. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 8,3 juta anak hidup dengan ADHD. Angka tersebut menunjukkan semakin banyak keluarga yang membutuhkan pendampingan agar anak tetap dapat berkembang secara optimal.

Menurut Ries Sansani, Occupational Therapist sekaligus Lead Coach di Atelier of Minds, liburan sebenarnya bisa menjadi kesempatan baik untuk mendukung perkembangan anak, asalkan orang tua mampu membantu mereka beradaptasi dengan perubahan rutinitas. "Libur sekolah bukan musuh anak neurodivergent. Yang menjadi tantangan adalah proses transisinya. Ketika orang tua mampu menciptakan struktur yang tetap fleksibel dan lingkungan yang aman secara sensorik, liburan justru bisa menjadi waktu yang sangat bermakna," ujar Ries. Berikut adalah beberapa hal yang bisa diterapkan orang tua selama masa liburan.

1. Susun Jadwal Liburan yang Mudah Dipahami Anak

Anak neurodivergent umumnya merasa lebih tenang ketika mengetahui apa yang akan dilakukan sepanjang hari. Karena itu, membuat kalender visual bisa menjadi langkah sederhana yang efektif. Orang tua dapat menggunakan gambar, warna, stiker, atau emoji untuk menunjukkan aktivitas setiap hari. Jadwal tersebut tidak harus kaku, tetapi cukup membantu anak memahami urutan kegiatan sehingga mereka tidak merasa cemas menghadapi hal yang tidak terduga.

"Visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu. Ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, energinya bisa digunakan untuk belajar dan bermain, bukan untuk terus waspada," jelas Ries.

2. Pertahankan Rutinitas

Meski sedang libur, usahakan waktu bangun tidur, makan, dan tidur tetap konsisten setiap hari. Tiga rutinitas sederhana ini dapat menjadi "jangkar" yang membantu anak merasa lebih stabil, termasuk saat keluarga sedang bepergian atau menjalani aktivitas di luar rumah.

3. Kenalkan Aktivitas Baru Sebelum Dilakukan

Jika berencana mengajak anak ke tempat baru, cobalah memberi gambaran lebih dulu mengenai situasi yang akan mereka hadapi. Orang tua bisa menjelaskan siapa saja yang akan ditemui, suasana tempat tersebut, atau aktivitas yang akan dilakukan. Dengan mengetahui apa yang akan terjadi, anak memiliki waktu untuk mempersiapkan diri sehingga rasa cemas dapat berkurang.

4. Sediakan Sudut Tenang di Rumah

Tidak semua anak mampu menerima banyak rangsangan sensorik dalam waktu bersamaan. Karena itu, memiliki ruang khusus untuk menenangkan diri bisa sangat membantu.

Sudut ini tidak perlu besar atau mewah. Cukup sediakan area yang nyaman dengan pencahayaan lembut, selimut berbobot (weighted blanket), buku favorit, atau noise-cancelling headphone jika diperlukan. "Anak tidak sedang dihukum ketika berada di sana. Mereka sedang belajar mengenali dan mengatur emosinya sendiri. Itu adalah keterampilan hidup yang sangat penting," kata Ries.

5. Ajak Anak Lebih Banyak Bergerak

Liburan tidak harus selalu dihabiskan di depan layar, aktivitas seperti berenang, berkebun, membuat kue, bermain tanah liat, atau sekadar bermain di luar rumah dapat menjadi stimulasi sensorik yang bermanfaat sekaligus menyenangkan. Yang terpenting, biarkan anak menentukan ritme bermainnya sendiri tanpa tekanan untuk mengikuti target tertentu.

6. Manfaatkan Program Pendampingan yang Sesuai

Bagi orang tua yang tetap bekerja selama liburan, mengikuti program pendampingan atau student care yang dirancang khusus untuk anak neurodivergent juga bisa menjadi pilihan. Program seperti ini tidak hanya membantu anak tetap memiliki rutinitas, tetapi juga memberikan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka melalui aktivitas bermain yang terarah.

Menurut Ries, tujuan utama kegiatan ini pun bukan sekadar mengisi waktu liburan. "Kami tidak hanya menjaga anak selama liburan. Setiap aktivitas dirancang dengan tujuan perkembangan tertentu, tetapi tetap dikemas sebagai pengalaman yang menyenangkan. Harapannya, anak kembali ke sekolah dengan kondisi yang lebih siap, bukan justru kelelahan," jelasnya.

Pada akhirnya, libur sekolah tidak harus menjadi masa yang penuh kekhawatiran bagi keluarga dengan anak neurodivergent. Memiliki rutinitas tetap, komunikasi yang baik, dan lingkungan yang mendukung, masa liburan justru bisa menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sekaligus membantu anak tumbuh dengan lebih percaya diri.

Pilihan Editor: Cara Caca Tengker Dampingi Anak di Era Digital, Momen Sebelum Tidur jadi Quality Time

LANNY KUSUMASTUTI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |