INFO TEMPO – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengatakan pentingnya semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) dalam menghadapi dinamika geopolitik global saat ini. Setiap peringatan KAA, kata dia, selalu mengingatkan pada visi besar Soekarno atau Bung Karno dalam memperjuangkan pembebasan bangsa-bangsa dari penjajahan.
“Spirit pembebasan itu berakar dari nilai kemanusiaan dan internasionalisme sebagaimana tertuang dalam Pancasila,” kata Megawati dalam peringatan 71 tahun KAA yang digelar di Jakarta, 18 April 2026. Menurut dia, nilai tersebut menjadi dasar kuat dalam membangun persaudaraan antarbangsa sekaligus melawan kolonialisme dan imperialisme.
Megawati menuturkan, KAA merupakan tonggak penting dalam sejarah dunia, dengan melibatkan 29 negara yang saat itu mewakili lebih dari separuh populasi global. Forum tersebut, kata dia, menjadi awal dari gerakan dekolonisasi serta memperkuat posisi negara-negara berkembang di panggung internasional. Kemerdekaan Indonesia pun tidak luput menjadi inspirasi bagi perjuangan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
Dia juga menyoroti peran aktif Indonesia pasca-KAA dalam membangun solidaritas global, mulai dari konferensi mahasiswa, perempuan, hingga intelektual Asia-Afrika. Salah satu tonggak penting lainnya adalah lahirnya Gerakan Non-Blok (GNB) yang disebut sebagai kelanjutan semangat KAA dalam menghadapi tarik-menarik kekuatan Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. “GNB bukan sekadar kerja sama negara berkembang, tetapi merupakan upaya membangun tata dunia baru yang bebas dari kolonialisme,” kata Megawati.
Dalam konteks kekinian, Megawati menilai dunia tengah menghadapi berbagai konflik geopolitik yang menunjukkan rapuhnya sistem internasional. Dia pun menyebut pentingnya gagasan Bung Karno dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa berjudul “To Build The World A New” pada 1960, yang mendorong reformasi sistem global agar lebih adil dan setara
Menurut Megawati, prinsip-prinsip seperti kesetaraan antarbangsa, penolakan terhadap intervensi asing, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan internasional.
Dia juga mengangkat kembali konsep pembagian dunia menurut Bung Karno antara The New Emerging Forces dan The Old Forces. Meski berbeda tingkat kemajuan, Megawati menegaskan bahwa kedua kelompok tersebut harus bersatu dalam memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia.
Megawati menilai praktik neo-kolonialisme masih berlangsung hingga saat ini, meskipun dengan bentuk dan pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu, dia mendorong kembali penguatan solidaritas global melalui forum seperti KAA jilid II.
Dia kemudian menuturkan, bahwa Pancasila telah terbukti mampu menjadi landasan dalam membangun tata dunia yang damai dan berkeadilan. Peran Indonesia penting dalam percaturan global, dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional sekaligus berkontribusi terhadap perdamaian dunia.
Megawati mengatakan, Peringatan 71 tahun KAA menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas antarbangsa serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor perdamaian dunia. Indonesia lahir dengan spirit membangun tata dunia baru. Pancasila bisa bekerja dalam sistem internasional dan menawarkan tata dunia yang lebih damai, setara, berdaulat, dan bebas dari tarik menarik kepentingan negara adi kuasa. (*)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5154231/original/041919200_1741337635-20250307-Tadarus-ANG_2.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770150/original/051663000_1710247846-20240312-Berbuka_Puasa_di_Istiqlal-HER_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417338/original/087225200_1763529762-Buka_Puasa.jpg)




