Menkes: Daya Tular Campak Lebih Cepat dari Covid-19

3 hours ago 3

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan campak merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat penularan atau reproduction rate paling tinggi. Budi menyebut orang terinfeksi campak bisa menularkan virus ini hingga ke-18 orang di sekitarnya, jauh lebih banyak dibandingkan Covid-19.

“Jadi kalau Covid, di awal-awal itu satu orang nularin tiga sampai empat orang. Waktu Omicron juga bisa delapan. Nah, campak ini satu orang bisa nularin sampai 18 atau rata-rata 15 orang. Jadi ini penyakit yang di seluruh dunia paling menular,” kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, pada Senin, 20 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Meski begitu, Budi menuturkan virus campak tidak begitu mematikan. Kematian pada penderita campak biasanya terjadi apabila disertai komplikasi penyakit lain, seperti infeksi paru-paru, peradangan otak,atau berbagai penyakit mematikan lainnya. 

Lebih lanjut, Budi menjelaskan penularan campak umumnya naik saat memasuki musim dingin atau ketika mobilitas masyarakat tinggi, seperti saat libur tahun baru dan libur sekolah. Di Indonesia, misalnya, lonjakan signifikan penularan virus campak terjadi pada awal tahun 2026 dengan temuan sekitar 2.932 kasus suspek campak dan 58 Kejadian Luar Biasa (KLB) di 39 kabupaten/kota.

Di sisi lain, lonjakan kasus campak yang terjadi belakangan ini berkaitan erat dengan menurunnya cakupan imunisasi. Pemicunya adalah pergeseran fokus layanan kesehatan saat pandemi Covid-19, sehingga membuat banyak anak tidak mendapatkan vaksinasi campak secara lengkap.

Karena itu, Budi mengatakan kementeriannya akan melakukan outbreak response immunization (ORI) di wilayah dengan kasus tinggi. ORI adalah pemberian vaksinasi pada seluruh anak di daerah terdampak terlepas dari status imunisasi sebelumnya. “Begitu daerah-daerah yang tinggi, langsung sudah disuntik apa nggak disuntik kita suntik sekali lagi anak-anaknya. Langsung kita sapu bersih saja lah,” katanya. 

Budi mengklaim cara tersebut terbukti ampuh menurunkan penularan campak. “Begitu imunisasinya naik, langsung kasusnya menurun di anak-anak,” kata dia.

Terakhir, Budi menyampaikan tantangan terbesar dalam penanganan campak saat ini bukan pada kompleksitas virus atau ketersediaan vaksin. Kesulitan justru terjadi lantaran banyak masyarakat Indonesia yang masih takut dengan vaksinasi dan enggan melakukan imunisasi. “Jadi dengan adanya beberapa kasus yang anaknya meninggal, itu secara berita membantu kita. Kenapa? Karena orang tuanya jadi lebih ingin anaknya divaksinasi," kata dia.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |