Mengapa Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi?

4 hours ago 5

ANGKA Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 189 per 100 ribu kelahiran. Padahal pada tahun 2029 ditargetkan 77 per 100 ribu kelahiran. Tak hanya itu, lebih dari 36 ribu kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21 ribu kematian atau setara dengan satu perempuan meninggal setiap 25 menit. 

Ketua Umum Pengurus Pusat POGI, Budi Wiweko mengungkapkan sekitar 80 persen kematian ibu terjadi di fasilitas kesehatan dan mayoritas terjadi dalam kurun waktu 24 jam pasca persalinan. "Artinya, kemungkinan rujukannya terlambat," katanya dalam acara SPRIN National Summit 2026 di Rumah POGI Nasional, di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Salah satu penyebabnya adalah pendarahan hebat yang tanpa penanganan darurat dalam 30 menit dapat mengancam nyawa seorang ibu. Selain itu perilaku masyarakat juga menyumbang angka fatalitas tersebut, seperti terlalu cepat menikah, terlalu banyak punya anak hingga jarak kehamilan yang terlalu sering.

Upaya POGI Melalui SPRIN

Menghadapi masalah ini Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN) menjadi gerakan nasional. Dengan sepuluh program utama, di antaranya yaitu edukasi persiapan masa prakonsepsi, merencanakan dan kawal kehamilan, pemeriksaan hemoglobin dan zat besi ibu hamil serta skrining DNA HPV dan vaksinasi HPV.

"Gerakan SPRIN ini fokus untuk menurunkan masalah-masalah dalam kesehatan reproduksi, seperti kematian ibu, stunting, kematian bayi, dan juga kanker serviks," ujar Budi Wiweko.

Tidak hanya sebagai intervensi medis, SPRINS juga gerakan untuk mengubah pola pikir masyarakat tetnang penitngnya kesehatan perempuan. Terutama untuk menjawab tantangan utama, yaitu masih tingginya angka kematian ibu, mutu dan kesinambungan layanan yang belum merata, kesenjangan akses antar wilayah, serta literasi dan tingkat kepercayaan masyarakat yang masih rendah.

Termasuk gerakan untuk menciptakan kader-kader SPRIN, yang disebut SPRINTER, yang berasal dari dunia akademisi, generasi Z, penggiat media sosial maupun publik figur. "Kita terus mendorong itu supaya targetnya adalah melakukan SPRIN raising public awareness ini berhasil,  bahwa masalah kesehatan ibu, kesehatan dari produksi adalah kesehatan masalah kita semuanya," kata Budi.

POGI juga mencanangkan Rumah Perempuan Indonesia, di Rumah POGI Nasional sebagai pusat pemberdayaan perempuan dan pusat inovasi kesehatan reproduksi. Termasuk sebagai wadah bertukar ide, informasi, pelatihan, hingga menciptakan inovasi dan rintisan usaha kesehatan perempuan. 

Dalam implementasinya, SPRIN akan berkolaborasi dengan lintas sektor, baik dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas dan lainnya. Selain itu, sebagai bentuk apresiasi, POGI akan memberikan National SPRIN Award bagi kepala daerah yang berhasil menekan angka kematian ibu di wilayahnya. 

Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Banjir Informasi Bisa Tingkatkan Kecemasan pada Ibu Hamil

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |