Potensi Sampah MBG di Bandung 40-60 Ton Setiap Hari

2 hours ago 2

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut menambah beban masalah sampah di Kota Bandung. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Darto mengatakan Dinas pada April lalu telah mengumpulkan para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sosialisasi tentang pengelolaan sampah MBG dari dapur hingga sisanya di sekolah.

“Sampah di kota ini sudah banyak setiap hari, diharapkan pengelola SPPG tidak menambah beban sampah,” ujarnya kepada Tempo, Kamis 7 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Darto mengatakan saat ini diperkirakan jumlah SPPG lebih dari 200 pengelola di Kota Bandung. Berdasarkan pemantauan tim Dinas, setiap SPPG rata-rata menghasilkan setidaknya 200-300 kilogram sampah organik per hari.

Potensi timbulan sampah organik yang baru dari SPPG itu sekitar 40-60 ton setiap hari. “Mulai dari dapur sampai sisa makanan di sekolah, ini perlu mendapat perhatian serius dari pengelola SPPG,” kata dia.

Darto mengatakan aturannya siapa yang menghasilkan sampah maka dia punya kewajiban untuk mengolah. Apalagi SPPG secara regulasi dikategorikan sebagai area komersial atau kawasan berpengelola,  sehingga dapur MBG harus punya kemampuan menangani masalahnya sendiri.

Secara administratif hampir semua SPPG memiliki kerja sama dengan pengelola sampah. “Fakta di lapangan masih dijumpai trash bag yang berisi sampah organik berupa sisa sayuran dan makanan yang kuat sekali diidentifikasi dari SPPG,” ujar Darto. 

Sebagian SPPG, menurutnya, sanggup mengelola sampahnya dengan baik, tapi masih ada juga yang terbuang ke tempat pembuangan sementara (TPS). Padahal, menurut Darto, pihak SPPG bisa bekerja sama dengan komunitas atau pembudi daya maggot.

“Kami sudah bicara dengan KPPG (Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi) Kota Bandung kalau sampai terbukti tidak mengolah sampah, izinnya akan dicabut dan tidak bisa meneruskan SPPG,” kata Darto. 

Masalah sampah di Kota Bandung kini tengah mengalami krisis karena pembatasan jumlah pembuangan ke TPA Sarimukti. Menurut Darto, jatah pembuangan sampah harian Kota Bandung sebanyak 980 ton. Namun, belakangan ini terjadi lagi penumpukan sampah di berbagai tempat. “Dikasih tambahan 120 ton oleh Sekda Jabar untuk mengatasi tumpukan sampah,” ujarnya.

Sementara itu, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 18 Bandung mengolah sendiri sampah organik, seperti nasi, sayur, buah, yang antara lain berasal dari sisa program MBG dan sampah kantin. Pengolahan itu didampingi tim dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad).

Sampah ditimbang, dicatat, dipilah, lalu diolah menjadi kompos. Dari keterangan di laman Unpad, panen kompos pertama pada 24 Maret 2026 dengan hasil sekitar 150 kilogram. 

Sebagian kompos dijual, sementara sisanya digunakan kembali untuk pembuatan bioaktivator dan layering pada siklus berikutnya. Penjualan 54 kilogram kompos senilai Rp 702 ribu serta penjualan 32 kilogram sampah non-organik dan botol plastik Rp 32 ribu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |