Liputan6.com, Jakarta - Tips menjaga hati agar fokus ibadah saat haji penting dipahami karena beribadah di Tanah Suci adalah perjalanan spiritual yang begitu penting. Di tengah kerumunan yang luar biasa padat, kelelahan fisik yang menguras tenaga, serta berbagai godaan duniawi yang tak terduga, menjaga hati agar tetap fokus beribadah menjadi tantangan terbesar.
Syarat utama diterimanya ibadah haji adalah ikhlas karena Allah dan ittiba'. Ibadah haji akan kehilangan ruhnya jika hati tidak disiapkan dengan baik, karena sebagaimana dikatakan para ulama, "hati adalah raja, dan anggota tubuh adalah rakyatnya. Jika raja baik, rakyat pun akan baik."
Setiap tahun, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci, mengenakan pakaian yang sama, melantunkan panggilan yang sama: Labbayk Allāhumma Labbayk. Jika Anda adalah salah satunya, maka menjaga hati menjadi salah satu ikhtiar agar meraih predikat mabrur.
Berikut ini adalah 10 tips menjaga hati agar fokus ibadah saat haji agar ibadah diterima dan mabrur, merangkum berbagai literatur klasik dan kontemporer.
1. Meluruskan dan Memperbaharui Niat Setiap Hari
Niat adalah fondasi segala amal. Tanpa niat yang lurus, sehebat apa pun ibadah yang dilakukan, ia bisa kehilangan bobotnya di sisi Allah. Karena itu, menjaga niat bukanlah aktivitas sekali saat berihram, tetapi proses berkelanjutan yang harus diperbaharui setiap hari, terutama di tengah rasa lelah dan penat.
Tips Praktis: Luruskan niat setiap pagi sebelum memulai rangkaian ibadah, misalnya dengan berbisik dalam hati: "Ya Allah, aku niat berhaji dan beribadah hari ini semata-mata karena-Mu, bukan karena pujian manusia atau sekadar gaya-gayaan."
Jemaah juga dianjurkan sering memperbaharui niat dalam hati, terutama ketika mulai merasa jenuh, lelah, atau tergoda oleh hal-hal duniawi selama perjalanan. Tidak perlu melafadzkannya dengan lisan, cukup diresapi dalam hati.
Hadis masyhur dari Umar bin Khattab RA, Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa amal yang besar sekalipun bisa tertolak jika niatnya tercampur riya' atau tujuan duniawi, sementara amal yang kecil dapat bernilai besar di sisi Allah jika diniatkan dengan ikhlas.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menulis "Tujuan dan cita-cita seorang jamaah haji adalah fokus beribadah kepada Allah SWT. Hatinya harus tenang dan selalu diarahkan untuk berdzikir dan mengingat Allah, serta mengagungkan syiar-Nya. Tangan dan pikirannya harus bebas dari apa pun yang dapat mengganggu hati dan memecah konsentrasi selama ibadah".
Dr. KH. Imam Ghazali Said dalam Manasik Haji dan Umrah Rasulullah SAW menegaskan bahwa menjaga niat tidak hanya sebelum berangkat, tetapi juga selama pelaksanaan ibadah dan setelah kembali ke tanah air. Beliau mengingatkan bahwa niat yang konsisten adalah cerminan dari keikhlasan yang hakiki.
2. Memperbanyak Dzikir dan Doa di Setiap Kesempatan
Dzikir adalah oxygen bagi hati yang sedang lelah dan "pengingat" lembut bagi hati yang mulai lengah. Di tengah kesibukan ibadah dan aktivitas fisik yang berat, dzikir dan doa membantu hati tetap tenang dan terhubung dengan Allah. Di saat-saat hening—menunggu antrean tawaf, duduk di tenda Arafah, atau beristirahat di hotel—hati yang terus berdzikir akan tetap fokus pada-Nya.
Tips Praktis: Manfaatkan setiap waktu luang dengan membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (La ilaha illallah). Perbanyak juga membaca istighfar, terutama ketika jemaah merasa emosi mulai naik atau situasi terasa sempit dan padat.
Saat menunggu bus antar-jemput sektor, di dalam kamar hotel sebelum tidur, atau ketika duduk santai di pendingin setelah selesai tawaf, cukup lantunkan dzikir ringan namun konsisten. Jangan lupa, setiap kali melintasi lampu hijau di tempat sa'i, jemaah laki-laki dianjurkan memperbanyak doa, karena di tempat inilah Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah.
Dzikir pagi-petang juga penting untuk dibaca, karena diabadikan dalam firman Allah yang secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk berzikir pagi dan petang.
Dalilnya adalah, "Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu." (QS. Al-Baqarah [2]: 152).
Buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah (2025) menyediakan kompilasi doa-doa utama yang diperlukan selama rangkaian haji dan umrah, lengkap dengan Arab, Latin, dan terjemahan Indonesia. Buku ini dapat diunduh secara gratis melalui laman resmi haji.kemenag.go.id.
3. Menghindari Perbuatan yang Menyia-nyiakan Pahala: Rafats, Fusuq, dan Jidal
Kerumunan jutaan manusia dengan latar belakang budaya dan kebiasaan yang berbeda—saling senggol, panas terik, antrean panjang, dan tiba-tiba bus tak kunjung datang—adalah medan subur bagi munculnya emosi negatif. Namun, ayat Al-Qur'an dengan tegas melarang tiga hal bagi orang yang sedang beribadah haji: rafats (ucapan atau perbuatan keji/kotor), fusuq (perbuatan maksiat/durhaka), dan jidal (berbantah-bantahan/pertengkaran). Menjaga lisan dan hati dari ketiganya adalah kunci utama agar fokus ibadah tidak tercoreng.
"Musim haji itu (berlangsung) pada beberapa bulan yang telah diketahui. Barangsiapa menetapkan niatnya untuk melaksanakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq, dan jidal selama mengerjakan haji." — QS. Al-Baqarah [2]: 197
Tips Praktis: Latih kesabaran dari sekarang. Saat ada jemaah lain menyenggol atau mendahului dalam antrean, ingatlah bahwa Anda sedang berada di Tanah Suci sebagai tamu Allah.
Jangan membalas dengan kata-kata kasar, cukup ucapkan "maaf" atau "samahni" (maafkan saya dalam bahasa Arab), lalu lanjutkan dengan istighfar.
Dr. KH. Imam Ghazali Said dalam Manasik Haji dan Umrah Rasulullah SAW mengutip bahwa menjaga lisan dan hati dari perbuatan tercela sesuai yang ditegaskan dalam Al-Qur'an adalah bagian dari ittiba' kepada Rasulullah SAW. Beliau menekankan bahwa rafats tidak hanya mencakup kata-kata kotor, tetapi juga gurauan yang tidak pantas dan omongan yang sia-sia.
Imam al-Thabari dalam Tafsir al-Thabari menafsirkan al-jidal sebagai perdebatan yang dapat melahirkan permusuhan dan kebencian, yang sama sekali tidak layak menghiasi jiwa seorang tamu Allah yang sedang berada di Tanah Suci.
4. Menyadari Tujuan Utama Haji: Murni untuk Allah dan Ibadah Total
Salah satu penyebab hati mudah goyah dan kehilangan fokus adalah karena tujuan yang kabur atau bercampur dengan motif duniawi. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa orang yang hendak menunaikan ibadah haji harus benar-benar memahami bahwa tujuan utamanya adalah karena Allah semata dan untuk menjalin interaksi dengan-Nya.
Tips Praktis: Setiap kali niat mulai goyah, ingatkan diri sendiri dengan merenungi keagungan panggilan Allah. Mengapa Allah memanggil Anda? Mengapa di tengah jutaan manusia, Anda dipilih untuk menjadi tamu-Nya? Ini bukan kebetulan, tetapi keistimewaan yang harus disyukuri dengan fokus total beribadah.
Selain itu, ingatlah bahwa haji adalah salah satu rukun Islam sekaligus bentuk totalitas pengabdian, bukan sekadar wisata religi atau perjalanan spiritual biasa, melainkan ibadah yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dan ketundukan total.
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." — QS. Al-Baqarah [2]: 196
Allah secara tegas menyematkan kalimat lillāh (karena Allah) dalam perintah ini, menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual fisik, melainkan bentuk totalitas ibadah yang harus dilaksanakan dengan penuh ketundukan dan keikhlasan. Menurut Tafsir al-Muyassar, ayat ini juga melarang jemaah haji menjadikan haji sebagai ajang sensasi viral di media sosial, pamer aktivitas ibadah, atau alat untuk meningkatkan pamor dan gelar sosial sepulang ke tanah air.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin memberikan peringatan, bahwa sesungguhnya seseorang tidak akan pernah sampai kepada Allah kecuali dengan membersihkan diri dari syahwat, menahan dari kenyamanan-kenyamanan, mengambil secukupnya kebutuhan-kebutuhan dunia, dan bersandar kepada Allah dalam semua gerak dan diamnya. Ini adalah definisi ibadah total yang menjadi hakikat haji.
Tafsir al-Muyassar (Kementerian Agama Arab Saudi) menegaskan bahwa ayat 196 Surat al-Baqarah juga menjadi dalil larangan dijadikannya ibadah haji sebagai ajang sensasi viral di media sosial, pamer aktivitas, atau alat untuk meningkatkan pamor dan gelar sosial sepulang ke tanah air.
5. Mengurangi Interaksi yang Tidak Perlu dan Gangguan Digital
Meskipun menjalin ukhuwah sesama jemaah itu penting, interaksi yang terlalu banyak dan tidak relevan dengan ibadah dapat mengganggu kekhusyukan. Apalagi di era digital, ponsel pintar sering menjadi sumber distraksi utama—panggilan telepan yang sepele, notifikasi media sosial yang mengganggu, atau kebiasaan memotret setiap momen.
Rasulullah SAW ketika haji wada' memberikan contoh: beliau tetap menggunakan kendaraan untuk tawaf, agar jemaah lain bisa melihat beliau, berkomunikasi, dan menanyakan problem manasik mereka—bukan untuk saling menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak penting.
Tips Praktis: Batasi penggunaan ponsel hanya untuk keperluan mendesak, seperti berkoordinasi dengan rombongan, membaca Al-Qur'an digital, atau menghubungi keluarga dalam keadaan darurat.
Hindari membuka media sosial, memotret setiap momen, atau mengobrol panjang di sela-sela ibadah. Bila perlu, tinggalkan ponsel di hotel saat menuju area tawaf atau Arafah.
Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah edisi 1444 H/2023 M menekankan bahwa jemaah haji harus menjaga kekompakan regu/rombongan dan lebih fokus dalam menjalani rangkaian ibadah, terutama saat memasuki masa puncak haji.
VI. Memahami Makna Spiritual Setiap Rukun Haji
Penghayatan adalah kunci kekhusyukan. Semakin dalam pemahaman seseorang terhadap makna dari setiap tahapan haji, semakin mudah baginya untuk khusyuk. Ketika ibadah dipahami lebih dari sekadar gerak dan ritual fisik, hati pun akan ikut hadir. Ketika di Arafah, jemaah tidak hanya sekadar menunggu waktu wukuf berlalu, tetapi mengisi hati dengan doa dan rasa haru karena berada di tempat di mana Rasulullah SAW berpidato dan menyampaikan pesan kemanusiaan universal.
Terlebih, perlu diingat bahwa wukuf di Arafah adalah rukun terpenting dalam haji, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: "Haji itu adalah (wukuf di) Arafah." (HR. Tirmidzi, dari Abdurrahman bin Ya'mar).
Memahami kedudukan Arafah sebagai rukun yang menentukan sah tidaknya haji membuat hati lebih fokus dan syahdu, karena seluruh rangkaian ibadah bergantung pada momen inilah.
Tips Praktis:
Sebelum berangkat, pelajari dengan sungguh-sungguh makna spiritual setiap rukun haji:
- Wukuf di Arafah bukan sekadar berkumpul, tapi merupakan momen liqa' (pertemuan) puncak seorang hamba dengan Tuhannya—waktu terbaik untuk bermunajat dan mencurahkan segala isi hati.
- Tawaf di Ka'bah adalah simbol menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, mengelilingi-Nya dengan kesadaran penuh bahwa hanya Allah satu-satunya yang layak menjadi orientasi.
- Sa'i antara Shafa dan Marwah adalah pengakuan bahwa doa tanpa usaha adalah angan-angan; mengenang perjuangan Hajar yang berlari bolak-balik mencari air untuk putranya Ismail.
- Melempar jumrah adalah perlambang penolakan terhadap godaan setan yang selama ini membelokkan niat dan melalaikan hati.
Buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah (Kemenag 2025) memuat penjelasan makna spiritual yang mendalam di balik setiap rukun dan ritual haji, memberikan pemahaman filosofis yang akan membantu jemaah menghayati ibadah secara sufistik.
e-Book Manasik Haji Kemenag terdiri dari empat bagian utama, yaitu doa-dzikir, penjelasan makna spiritual ibadah haji, infografis manasik, dan tuntunan manasik haji, yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman jemaah dari aspek fiqhiyah sekaligus filosofi spiritual.
7. Meningkatkan Kesabaran dan Manajemen Emosi
Ibadah haji adalah medan latihan kesabaran yang sesungguhnya. Kelelahan fisik, antrean panjang, cuaca panas yang terik, perbedaan besar antara jumlah dan jam istirahat jemaah, hingga berbagai perbedaan budaya dari jemaah dari 160-an negara bisa memicu emosi setiap saat.
Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Minhajul Muslim mengingatkan bahwa "kesabaran adalah perhiasan utama orang yang berhaji". Karena itu, latih diri untuk bersabar dan tidak mudah marah, karena kekhusyukan muncul dari hati yang tenang, bukan dari hati yang tergesa-gesa atau mudah tersinggung.
Tips Praktis: Saat rasa kesal mulai muncul, ingatlah bahwa Anda bukan sedang berlibur, tetapi sedang melakukan ritual yang penuh keutamaan. Segera perbanyak istighfar dan ambil napas dalam-dalam sebelum bertindak. Ingatkan diri bahwa pahala besar dijanjikan bagi mereka yang sabar menghadapi ujian. Semakin padat dan sulit situasi, semakin besar peluang meraih pahala dari Allah.
Jemaah haji diharapkan menjaga lisan dan hati, menghindari perbuatan tercela seperti kata-kata kotor dan pertengkaran, karena kesabaran dalam menghadapi perbedaan jemaah lain adalah bagian dari ibadah.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menyebut kesabaran sebagai "setengah dari iman" dan kunci utama meraih haji mabrur. Beliau menulis bahwa orang yang mampu menahan amarah saat di Tanah Suci sesungguhnya tengah melatih jiwa untuk mencapai ihsan—beribadah seolah-olah melihat Allah.
8. Memperbanyak Istighfar untuk Menjernihkan Hati
Hati ibarat kain putih. Jika terkena noda dosa, ia akan kusam dan sulit menangkap cahaya ibadah. Istighfar adalah "pembersih" yang mengembalikan hati pada kesuciannya. Saat ibadah terasa berat atau hati terasa gundah, jangan ragu memanjatkan istighfar.
Bahkan saat merasa belum berbuat salah, justru saat hati paling jernih seseorang rajin beristighfar, ia akan menyadari bahwa Allah-lah yang menjaganya dari kesalahan.
Tips Praktis: Biasakan membaca istighfar minimal 100 kali sehari, terutama saat berada di Tanah Suci. Gunakan waktu-waktu antara ibadah untuk membersihkan hati ini. Jangan menunggu hati terasa kotor, jadikan istighfar sebagai rutinitas pagi dan sore yang melekat.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesempitannya." (HR. Abu Dawud).
Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menekankan bahwa sebelum berangkat haji, seorang jemaah harus benar-benar membersihkan diri dari dosa dan kesalahan dengan bertobat sungguh-sungguh. Istighfar adalah gerbang utama menuju tobat nasuha.
Makkah dan Madinah bukanlah tempat hisab atau perhitungan amal, melainkan tempat beribadah, memperbanyak amal, dan mencari pengampunan Allah, bukan tempat untuk menerima hukuman atau ganjaran langsung atas dosa. Karena itu, setiap jemaah harus datang dengan hati yang sudah sebersih mungkin melalui istighfar yang konsisten.
9. Berprasangka Baik (Husnudzan) kepada Allah dan Sesama
Pikiran positif akan melahirkan hati yang lapang, sementara pikiran negatif hanya akan memicu stres, keluhan, dan kebencian yang mengganggu fokus ibadah. Kakanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, membagikan kisah inspiratif seorang jamaah berusia 75 tahun yang tetap bugar sepanjang ibadah haji.
Kunci keberhasilan jamaah tersebut adalah selalu berprasangka baik kepada Allah dan berniat membantu meringankan beban orang lain. "Beliau membuktikan bahwa energi positif lahir dari niat tulus untuk menolong sesama," paparnya.
Tips Praktis: Saat fasilitas terbatas, kamar sempit, atau jadwal berubah, katakan dalam hati: "Mungkin ini yang terbaik untukku, karena Allah lebih tahu apa yang aku butuhkan."
Dan ketika melihat jemaah lain lebih muda sehat tetapi mendapatkan prioritas, jangan langsung menyalahkan; bisa jadi ia punya uzur yang tidak terlihat. Jauhkan kebiasaan mencari-cari kesalahan petugas atau sesama jemaah; gantilah dengan doa: "Semoga Allah memudahkan urusan kita semua."
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." — QS. Al-Baqarah [2]: 216.
Husnudzan kepada Allah adalah tanda kematangan iman. Beliau berkata: "Siapa yang berprasangka baik kepada Allah, niscaya Allah akan mewujudkan prasangka baiknya itu."
Mengutip pandangan ulama Ali Syari'ati yang menyebut haji sebagai "napak tilas kehidupan manusia", simbol perjalanan kembali ke fitrah dan bertemu dengan Allah. Dengan kesadaran inilah, hati akan dipenuhi rasa syukur dan lapang, bukan keluhan.
10. Menjaga Kesehatan Fisik sebagai Penopang Kesehatan Hati yang Fokus
Tubuh yang bugar adalah penopang utama hati yang tenang. Sebaliknya, tubuh yang sakit dan kelelahan akan memicu stres, emosi naik, dan pada akhirnya mengganggu konsentrasi ibadah. Karena itu, menjaga kesehatan fisik di Tanah Suci bukanlah pilihan, melainkan keharusan yang paling mendasar untuk menjaga kekhusyukan.
Pastikan asupan nutrisi tercukupi, istirahat yang cukup, dan jangan memaksakan diri untuk terus bergerak jika badan sudah memberi tanda kelelahan.
Tips Praktis:
- Manfaatkan waktu istirahat di hotel, jangan memaksakan diri untuk selalu beribadah di Masjidil Haram jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Ingat, pahala salat di hotel sama dengan pahala salat di Masjidil Haram bagi yang uzur.
- Bawa serta obat-obatan pribadi yang cukup dan konsumsi air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi di tengah cuaca panas.
- Jemaah lanjut usia atau risiko tinggi tidak perlu memaksakan diri melakukan tawaf dan sa'i dengan berjalan kaki; gunakan kursi roda, skuter listrik, atau layanan fasilitas yang telah disediakan Muassasah untuk menjaga energi dan fokus ibadah.
Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah edisi 1444 H/2023 M memuat bab khusus "Kekhususan Haji Jemaah Lansia, Sakit, dan Berisiko Tinggi (RISTI)" yang memberikan panduan manasik dengan pendekatan kemudahan (rukhsah), termasuk di dalamnya tata cara ibadah bagi jemaah yang memiliki keterbatasan fisik.
Tujuan utama dari panduan ini adalah agar jemaah dengan segala keterbatasannya tetap dapat beribadah dalam kondisi yang paling nyaman dan khusyuk.
People also Ask:
Sebutkan 3 upaya apa saja agar ibadah semakin berkualitas.?
Tingkatkan Kualitas Ibadah di Bulan Ramadhan Dengan Cara IniMemperbaiki Niat dan Memperkuat Keikhlasan. ...Menjaga Kualitas Shalat Wajib dan Sunnah. ...Memperbanyak Tilawah Al-Qur'an dan Dzikir. ...Meningkatkan Sedekah dan Kepedulian Sosial. ...Menjaga Lisan, Perilaku, dan Mengendalikan Diri.
Bagaimana cara menjaga kemabruran haji?
Memperkuat Hubungan dengan Allah. Menjaga salat berjamaah di masjid. ...Memperbaiki Hubungan dengan Sesama. Menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakitkan. ...Menjaga Akhlak dan Perilaku. Bersikap tawadhu' meski telah menyandang gelar “Haji”. ...Menghidupkan Semangat Ibadah Haji di Kehidupan Sehari-hari.
Cara menjaga semangat ibadah?
Selain rutin mengamalkan doa di atas, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan agar semangat ibadah tetap stabil:Mulailah dari yang Ringan namun Konsisten. ...Memilih Lingkungan yang Shalih. ...Mengingat Kematian dan Keutamaan Ibadah. ...Hindari Penyakit "Nanti Saja" (Taswif)
Bagaimana caranya supaya bisa beribadah haji?
Tips Berhaji: Panduan Praktis agar Ibadah Lebih Lancar dan...Persiapkan Niat dan Ilmu. ...2. Jaga Kesehatan Fisik Sejak Dini. ...3. Siapkan Mental dan Emosi. ...4. Bawa Perlengkapan Secukupnya dan Fungsional. ...Manfaatkan Teknologi. ...6. Pelajari Kondisi dan Lokasi di Tanah Suci. ...7. Jangan Lupa Berdoa dan Bersyukur.
5 Amalan yang disukai Allah sederhana tapi penuh berkah dan jarang disadari?
7 Amalan Sehari-hari yang Berpahala Besar. ...Menjaga Shalat Tepat Waktu. ...Membaca dan Menghayati Al-Qur'an. ...3. Berdzikir dan Beristighfar. ...4. Bersedekah, Sekecil Apa Pun. ...Menyebarkan Kebaikan dalam Hal Sederhana. ...6. Menjaga Lisan dari Ucapan Buruk. ...7. Membantu dan Menjenguk Sesama.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863721/original/068009200_1718356035-20240614-Jamaah_Haji_di_Mina-AP_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403225/original/009668300_1762321820-Hajar_Aswad.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4481407/original/082543500_1687764700-_Jemaah_Haji_Hadapi_Cuaca_Panas_yang_Menyengat_di_Tanah_Suci-AFP__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/2796590/original/052296600_1557042788-20190505_144552.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437264/original/001657600_1684817338-izuddin-helmi-adnan-JFirQekVo3U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2876075/original/030089700_1565230144-20190807-Masjidil-Haram-Dipadati-Jemaah-Jelang-Puncak-Haji-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533779/original/098475800_1773775028-unnamed__98_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1632447/original/056755900_1498200692-20170623-Salat-Jumat-Terakhir-Ramadan-Afandi-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5163744/original/091320600_1742047214-pexels-rdne-7249191.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824122/original/040369300_1715055236-ekrem-osmanoglu-WRbNWOMA-Xk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5596568/original/038590900_1778157105-17-juta-penduduk-indonesia-sudah-naik-haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4314861/original/012980000_1675661791-rade-nugroho-rlj3VznKap0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824614/original/074506300_1715073103-pexels-drmkhawarnazir-18996539.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5561824/original/094267400_1776761768-haji1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5640306/original/068350000_1778244673-komisi-viii-minta-kemenag-transparan-soal-dana-haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5573502/original/086099000_1777914567-WhatsApp_Image_2026-05-04_at_9.42.25_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4439341/original/074219600_1684915362-ibrahim-uz-3Z3RvzpVAqM-unsplash.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469781/original/030433100_1768183342-Isra_Miraj_2026.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)