- Apakah menyentuh Hajar Aswad wajib dalam ibadah haji atau umrah?
- Kapan waktu terbaik untuk mencoba menyentuh Hajar Aswad?
- Apa yang harus dilakukan jika tidak bisa menyentuh Hajar Aswad secara langsung?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Hajar Aswad merupakan batu suci yang terletak di sudut Ka’bah dan menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian ibadah tawaf. Bagi banyak umat Muslim, menyentuh atau mencium Hajar Aswad adalah sebuah momen yang sangat dirindukan karena dianggap sebagai sunnah yang penuh keberkahan. Namun, karena tingginya jumlah jamaah, terutama saat musim haji dan umrah, tidak semua orang mudah untuk dapat mendekatinya.
Dibutuhkan pemahaman, kesabaran, serta strategi yang tepat agar kesempatan menyentuh Hajar Aswad bisa lebih mungkin dilakukan tanpa mengganggu jamaah lain. Selain itu, faktor keselamatan dan adab juga menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan saat berada di area tersebut.
Simak tips agar Anda memiliki peluang lebih besar untuk bisa menyentuh Hajar Aswad, mulai dari pemilihan waktu yang tepat, teknik mendekat, etika beribadah, hingga alternatif yang tetap bernilai sunnah jika tidak memungkinkan. Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang benar, pengalaman spiritual Anda di Baitullah akan semakin sempurna.
Keutamaan dan Prioritas dalam Menyentuh Hajar Aswad
Hajar Aswad adalah sebuah batu mulia yang terletak di sudut timur Ka'bah, bangunan suci yang berada di pusat Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Batu ini menjadi salah satu bagian yang sangat dirindukan oleh umat Islam yang menunaikan ibadah haji maupun umrah.
Menyentuh atau mencium Hajar Aswad merupakan sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan dan pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Namun, dengan jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di satu tempat, keinginan untuk mendekatinya sering kali terkendala oleh padatnya kerumunan.
Penting untuk dipahami bahwa Hajar Aswad tidak memiliki kekuatan untuk memberi manfaat maupun mudarat. Aktivitas menyentuh atau mencium batu tersebut semata-mata dilakukan sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan bentuk keyakinan terhadap kekuatan benda itu sendiri. Karena itu, dalam upaya melaksanakannya, umat Islam tetap harus mengutamakan keselamatan diri serta menjaga kenyamanan jamaah lain.
Meskipun termasuk sunnah yang sangat dianjurkan, menyentuh atau mencium Hajar Aswad tetap bukan kewajiban dalam ibadah haji maupun umrah. Rasulullah SAW mencontohkan amalan ini sebagai bagian dari kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga umat Islam dianjurkan untuk meneladani beliau sesuai kemampuan masing-masing.
Dalam kondisi tertentu, seperti saat area sangat padat dan berpotensi menimbulkan bahaya, memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad tidak dianjurkan. Bahkan, jika sampai membahayakan atau menyakiti jamaah lain, tindakan tersebut bisa menjadi makruh atau dilarang. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga keselamatan dan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah orang lain.
Waktu Terbaik untuk Mencoba Menyentuh Hajar Aswad
Memilih waktu yang tepat adalah salah satu strategi paling efektif dalam cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad dengan lebih tenang. Waktu-waktu tertentu di Masjidil Haram cenderung lebih lengang, meningkatkan peluang Anda untuk mendekat.
Waktu dini hari atau larut malam, khususnya sepertiga malam terakhir atau beberapa jam sebelum waktu Subuh, seringkali menjadi momen yang lebih sepi. Banyak jamaah yang beristirahat, sehingga area sekitar Ka'bah tidak terlalu padat. Momen setelah tengah malam hingga menjelang Subuh juga bisa menjadi kesempatan emas untuk mencium Hajar Aswad dengan lebih leluasa.
Selain itu, setelah shalat Subuh, banyak jamaah yang kembali ke penginapan untuk sarapan atau beristirahat. Kondisi ini membuat area sekitar Ka'bah relatif lengang dan memberikan kesempatan bagi Anda untuk mencoba mendekat. Memanfaatkan jeda antara tawaf wajib dan tawaf sunnah juga bisa menjadi strategi yang baik.
Bagi Anda yang melaksanakan haji atau umrah, awal musim haji atau umrah, sebelum puncak kepadatan jamaah, juga menawarkan peluang yang lebih besar untuk mencapai Hajar Aswad tanpa terlalu berdesakan.
Strategi Efektif Mendekati Hajar Aswad
Setelah memilih waktu yang tepat, diperlukan strategi yang cerdas dan penuh kesabaran untuk mendekati Hajar Aswad. Langkah pertama adalah meluruskan niat, menyucikan hati bahwa tindakan ini adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Saat bergerak, jangan melawan arus tawaf. Ikuti aliran jamaah secara perlahan dan bergeserlah secara bertahap ke arah dalam, mendekati Ka'bah, hingga Anda berada di posisi yang dekat dengan sudut Hajar Aswad. Mencoba memotong jalur secara tegak lurus justru akan menyulitkan dan berisiko.
Beberapa jamaah berpengalaman menyarankan untuk memulai pendekatan dari arah Rukun Yamani, yang berada tepat sebelum Hajar Aswad dalam jalur tawaf. Dari sana, Anda bisa mengikuti dinding Ka'bah menuju Hajar Aswad. Saat mendekat, berpegangan pada kain Kiswah Ka'bah dari Multazam dapat membantu menjaga posisi Anda dan menghindari terhempas oleh arus jamaah yang padat.
Selalu perhatikan posisi tubuh Anda. Lindungi dada dan perut dengan meletakkan tangan di depan dada untuk memberi ruang bernapas, tetap tenang, dan waspadai pijakan agar tidak jatuh terinjak. Terkadang, petugas atau Asykar yang menjaga area Hajar Aswad juga dapat memberikan bantuan atau arahan.
Etika dan Adab Selama Beribadah di Sekitar Hajar Aswad
Dalam upaya cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad, etika dan adab beribadah harus selalu diutamakan. Mencium Hajar Aswad adalah sunnah, namun menyakiti sesama Muslim adalah haram. Oleh karena itu, hindari mendorong, menarik, atau menyakiti siapa pun demi mencapai batu tersebut.
Jika Anda tidak berhasil menyentuh atau mencium Hajar Aswad, bersabarlah. Niat Anda untuk mengikuti sunnah sudah tercatat sebagai kebaikan. Jangan memaksakan diri hingga menimbulkan kerugian bagi orang lain atau diri sendiri.
Sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan jasa 'joki' atau 'bodyguard' yang dibayar untuk membukakan jalan dengan cara menahan atau menyingkirkan jamaah lain. Perbuatan ini dilarang karena dapat menyakiti jamaah lain dan melakukan perbuatan haram demi sunnah.
Bagi wanita, menyentuh Hajar Aswad diperbolehkan jika kondisi aman dan tidak berdesak-desakan dengan jamaah laki-laki. Namun, jika kondisi sangat ramai, para ulama menganjurkan agar wanita cukup berisyarat dari jauh demi menjaga kehormatan dan keselamatan diri. Selalu jaga kebersihan fisik dan pikiran, serta hormati sesama jamaah dengan menjaga kesopanan.
Alternatif Jika Tidak Dapat Menyentuh Langsung
Apabila kondisi tidak memungkinkan untuk menyentuh atau mencium Hajar Aswad secara langsung karena keramaian, ada beberapa alternatif yang tetap bernilai sunnah dan sah dalam syariat Islam.
Salah satu alternatif adalah menyentuh Hajar Aswad dengan tangan, kemudian mencium tangan yang telah menyentuh Hajar Aswad tersebut. Cara ini merupakan praktik yang dicontohkan oleh beberapa sahabat Nabi dan dianggap mencukupi untuk mendapatkan keutamaan sunnah.
Jika tidak bisa menyentuh langsung dengan tangan, Anda dapat menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat atau benda lain yang dipegang, kemudian mencium bagian benda yang bersentuhan dengan batu tersebut. Ini juga merupakan cara yang sah untuk mendapatkan keberkahan Hajar Aswad.
Alternatif paling umum dan dianjurkan jika kedua cara di atas sulit dilakukan adalah berisyarat atau istilam dari jauh. Cukup mengangkat tangan kanan Anda ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan "Allahu Akbar" atau "Bismillahi Allahu Akbar". Cara ini tetap bernilai sunnah dan sah, sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW ketika kondisi sangat tidak memungkinkan untuk mendekat.
Persiapan Fisik dan Mental untuk Menyentuh Hajar Aswad
Persiapan fisik dan mental yang prima sangat penting dalam upaya cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad. Pastikan kondisi fisik Anda benar-benar fit. Jamaah berusia di atas 50 tahun atau yang tidak fit secara fisik sangat tidak dianjurkan untuk memaksakan diri, demi keselamatan.
Kenakan pakaian yang sederhana dan nyaman, seperti celana dan kemeja panjang. Bagi wanita, gunakan jilbab yang tidak terlalu panjang agar tidak mengganggu pergerakan di tengah keramaian. Hindari membawa barang-barang yang memberatkan seperti sandal, sajadah, dompet, jam tangan, atau perhiasan yang mudah hilang atau rusak.
Selama mendekati Hajar Aswad, perbanyaklah doa dan dzikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, atau shalawat. Ini akan membantu menjaga fokus spiritual Anda dan menenangkan hati di tengah hiruk pikuk jamaah.
Selain itu, luangkan waktu untuk persiapan spiritual, merefleksikan makna dari tindakan ini dan membaca Al-Qur'an. Dengan persiapan yang matang baik fisik maupun mental, Anda akan lebih siap menghadapi tantangan keramaian dan mendapatkan pengalaman beribadah yang penuh makna.
Pertanyaan Umum Seputar Topik Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad
1. Apakah menyentuh Hajar Aswad wajib dalam ibadah haji atau umrah?
Tidak, menyentuh atau mencium Hajar Aswad adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bukan suatu kewajiban. Ibadah tawaf tetap sah meskipun jamaah tidak menyentuhnya.
2. Kapan waktu terbaik untuk mencoba menyentuh Hajar Aswad?
Waktu terbaik adalah saat tidak terlalu padat, seperti dini hari (sepertiga malam terakhir atau beberapa jam sebelum Subuh), setelah shalat Subuh, atau memanfaatkan jeda antara tawaf wajib dan sunnah.
3. Apa yang harus dilakukan jika tidak bisa menyentuh Hajar Aswad secara langsung?
Jika tidak memungkinkan, Anda bisa menyentuh Hajar Aswad dengan tangan lalu mencium tangan tersebut, atau menyentuhnya dengan tongkat/benda lain lalu mencium benda tersebut. Alternatif lain adalah berisyarat (istilam) dari jauh dengan mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan "Allahu Akbar".

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863721/original/068009200_1718356035-20240614-Jamaah_Haji_di_Mina-AP_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4481407/original/082543500_1687764700-_Jemaah_Haji_Hadapi_Cuaca_Panas_yang_Menyengat_di_Tanah_Suci-AFP__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/2796590/original/052296600_1557042788-20190505_144552.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437264/original/001657600_1684817338-izuddin-helmi-adnan-JFirQekVo3U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4841759/original/035167100_1716551777-538281-17165404037598-berita.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2876075/original/030089700_1565230144-20190807-Masjidil-Haram-Dipadati-Jemaah-Jelang-Puncak-Haji-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533779/original/098475800_1773775028-unnamed__98_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1632447/original/056755900_1498200692-20170623-Salat-Jumat-Terakhir-Ramadan-Afandi-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5163744/original/091320600_1742047214-pexels-rdne-7249191.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824122/original/040369300_1715055236-ekrem-osmanoglu-WRbNWOMA-Xk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5596568/original/038590900_1778157105-17-juta-penduduk-indonesia-sudah-naik-haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4314861/original/012980000_1675661791-rade-nugroho-rlj3VznKap0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824614/original/074506300_1715073103-pexels-drmkhawarnazir-18996539.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5561824/original/094267400_1776761768-haji1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5640306/original/068350000_1778244673-komisi-viii-minta-kemenag-transparan-soal-dana-haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5573502/original/086099000_1777914567-WhatsApp_Image_2026-05-04_at_9.42.25_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4439341/original/074219600_1684915362-ibrahim-uz-3Z3RvzpVAqM-unsplash.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469781/original/030433100_1768183342-Isra_Miraj_2026.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)