:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Menyajikan materi ceramah 10 Muharram yang relevan dengan era kekinian menjadi tantangan tersendiri bagi para dai di era modern. Apalagi menyambut Asyura di tahun 2026 ini, masyarakat antusias menggelar ragam tradisi dengan berbagai tema inovatif.
Lazimnya, dalam acara itu, terdapat sesi siraman rohani atau pengajian. Tausiyah mentransformasi nilai sejarah menjadi solusi praktis atas problematika dan kebutuhan kekinian umat.
Di antara pesan kunci ceramah tersebut adalah fadhilah hari Asyura sendiri. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa puasa sunnah Asyura diyakini mampu menghapus dosa kecil setahun ke belakang, bukti luasnya ampunan Allah.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah 7 contoh materi ceramah 10 Muharram yang relevan dengan konteks masyarakat modern, tanpa kehilangan esensinya sesuai syariat.
Contoh Materi Ceramah 1: Keutamaan Utama Puasa Asyura
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil haq, liyuzhirahu 'aladdini kullihi wakafa billahi syahida. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuluh.
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang terus mengalir tanpa henti. Shalawat serta salam mari kita sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah.
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita berkumpul di bulan yang sangat mulia, yaitu bulan Muharram. Bulan ini adalah satu dari empat bulan haram yang sangat disucikan dalam Islam.
Di dalam bulan Muharram, terdapat satu hari yang sangat istimewa dan bersejarah, yakni hari kesepuluh yang lebih kita kenal dengan sebutan Hari Asyura. Hari ini merupakan momen emas bagi umat Islam untuk mendulang pahala besar dari Allah SWT.
Rasulullah SAW secara khusus memberikan perhatian besar terhadap Hari Asyura dengan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amal ibadah, terkhusus ibadah puasa sunnah. Keutamaan puasa pada hari ini sangatlah luar biasa bagi penghapusan dosa kita.
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ"
yang artinya: "Dan puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu."
Penjelasan dari dalil tersebut sangatlah memberikan harapan besar bagi kita yang tak pernah luput dari kesalahan. Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa dosa yang dihapuskan melalui puasa Asyura adalah dosa-dosa kecil yang kita lakukan selama setahun ke belakang.
Meskipun dosa besar membutuhkan taubat nasuha tersendiri, terhapusnya dosa-dosa kecil setahun penuh merupakan karunia dan kasih sayang Allah yang tiada tara. Ini menunjukkan betapa Allah sangat ingin membersihkan hamba-hamba-Nya dari kotoran maksiat.
Oleh sebab itu, sangat disayangkan apabila momen 10 Muharram ini kita lewati begitu saja tanpa menahan lapar dan dahaga karena Allah. Puasa ini adalah investasi akhirat yang sangat ringan dijalankan namun memberikan dividen pahala yang fantastis.
Selain puasa pada tanggal 10, kita juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasua) agar ibadah kita berbeda dengan kebiasaan umat Yahudi di masa lalu. Ini adalah bentuk kesempurnaan dalam meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW.
Mari kita jadikan peringatan 10 Muharram ini sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas ibadah kita secara konsisten. Jangan biarkan hari istimewa ini berlalu bagaikan hari-hari biasa tanpa ada amal unggulan yang kita catatkan di buku amal.
Ya Allah ya Rabbana, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan terimalah puasa serta amal ibadah kami di bulan Muharram ini. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu rindu untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.
Demikianlah ceramah singkat pada hari ini, semoga memberikan manfaat yang nyata bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekhilafan kata, wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ceramah 2: Kemenangan Hak atas Batil
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. Mayyahdihillahu fala mudhillalah, wa mayyudhlil fala hadiyalah.
Rasa syukur yang mendalam mari kita haturkan kepada Allah Tuhan semesta alam, karena atas izin-Nya kita dapat bertatap muka di majelis yang mulia ini. Shalawat bertangkaikan salam senantiasa kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya.
Hadirin yang dimuliakan Allah, berbicara tentang 10 Muharram atau Hari Asyura tidak akan pernah lepas dari lembaran sejarah panjang para utusan Allah. Hari ini bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan hari di mana Allah menunjukkan kekuasaan-Nya secara nyata.
Salah satu peristiwa paling monumental yang terjadi tepat pada 10 Muharram adalah selamatnya Nabi Musa 'Alaihissalam dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Hari Asyura adalah hari kemenangan bagi kebenaran (haq) dan kehancuran bagi kebatilan (bathil).
Saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura untuk mensyukuri selamatnya Nabi Musa. Beliau kemudian menetapkan syariat puasa ini bagi umat Islam dengan dasar kedekatan akidah.
Hal ini termaktub dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
"فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ"
yang artinya: "Maka Rasulullah SAW bersabda: 'Kami (umat Islam) lebih berhak atas Musa daripada kalian.' Maka beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa."
Penjelasan dari dalil ini menggarisbawahi kebanggaan dan legitimasi tauhid umat Islam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam adalah pewaris sah dari ajaran tauhid yang dibawa oleh seluruh nabi, termasuk Nabi Musa, sehingga kita sangat pantas merayakan kemenangannya.
Kisah terbelahnya Laut Merah pada 10 Muharram bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan pesan abadi bahwa pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-Nya yang bertauhid. Sesulit apapun jalan hidup kita, kezaliman sehebat Firaun pun pasti akan tenggelam oleh keadilan Allah.
Kemenangan ini mengajarkan kita tentang pentingnya optimisme dan tawakal. Saat umat Nabi Musa terjepit antara lautan dan pasukan musuh, keyakinan kepada Allah yang membuka jalan keselamatan, suatu pelajaran yang sangat relevan untuk kehidupan modern kita.
Maka di Hari Asyura ini, mari kita renungkan sejauh mana kita telah membela kebenaran di lingkungan kita masing-masing. Puasa yang kita kerjakan hendaknya menyadarkan kita untuk terus berjuang melawan 'Firaun-Firaun' kecil berwujud hawa nafsu di dalam diri kita.
Semoga momentum bersejarah di 10 Muharram ini memicu semangat keislaman kita untuk tampil sebagai pembela kebenaran. Jadikanlah kisah Nabi Musa sebagai inspirasi bahwa kebatilan tidak akan pernah menang selamanya.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keteguhan iman sebagaimana Engkau teguhkan iman Nabi Musa di hadapan musuhnya. Tolonglah umat Islam di mana pun mereka berada, dan hancurkanlah kezaliman dari muka bumi ini.
Sekian pesan agama yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Kurang lebihnya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ceramah 3: Momentum Melapangkan Rezeki untuk Keluarga
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Bismillah walhamdulillah, wash-shalatu was-salamu 'alaa rasulillah Muhammad ibni Abdillah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa man walah. La haula wala quwwata illa billah.
Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa menebarkan kasih sayang-Nya tanpa pilih kasih kepada seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada teladan terbaik keluarga, Nabi Muhammad SAW, juga kepada istri-istri, keluarga, dan para sahabatnya.
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, Islam adalah agama yang sangat memperhatikan harmoni dan kebahagiaan di dalam rumah tangga. Setiap perayaan atau hari besar dalam Islam selalu memiliki dimensi sosial yang bermuara pada kebahagiaan keluarga.
Ketika kita menyambut tanggal 10 Muharram, banyak orang berfokus pada ibadah ritual individual seperti puasa dan dzikir. Namun, ada satu amalan indah lainnya yang diajarkan oleh para ulama salaf, yakni anjuran untuk membahagiakan anggota keluarga secara finansial.
Terdapat anjuran khusus untuk membelanjakan harta lebih banyak dari biasanya untuk keluarga pada Hari Asyura. Ini adalah bentuk rasa syukur dan perayaan atas keagungan hari tersebut melalui hal-hal yang membahagiakan anak dan istri.
Dalil mengenai anjuran ini bersumber dari hadits riwayat Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi:
"مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ"
yang artinya: "Barangsiapa yang melapangkan (nafkah/belanja) bagi keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun tersebut."
Penjelasan para ulama terkait hadits ini, meskipun sebagian ahli hadits menilai sanadnya dhaif (lemah), namun banyak ulama besar seperti Sufyan bin Uyainah dan Jabir yang mengamalkannya dan membuktikan kebenarannya. Amalan ini tergolong dalam fadhailul a'mal (keutamaan amal).
Sufyan bin Uyainah berkata bahwa beliau telah menguji amalan ini selama lima puluh hingga enam puluh tahun, dan beliau tidak melihat dampaknya melainkan kebaikan serta kelapangan rezeki. Ini menjadi bukti bahwa membahagiakan keluarga adalah kunci pembuka pintu rezeki dari langit.
Melapangkan keluarga bisa diwujudkan dalam bentuk membelikan makanan yang lebih lezat dari hari biasa, membelikan pakaian yang layak, atau memberikan hadiah yang menyenangkan hati anak dan istri, semata-mata niat bersyukur di 10 Muharram.
Oleh karena itu, bagi para suami dan ayah, jadikanlah Hari Asyura sebagai hari kasih sayang keluarga berbasis syariat. Janganlah pelit terhadap harta yang sejatinya adalah titipan Allah, karena senyum keluarga adalah ibadah yang sangat dicintai oleh-Nya.
Mari kita gabungkan kesempurnaan puasa Asyura kita dengan sedekah dan kebaikan untuk orang-orang terdekat di rumah. Harmoni antara ibadah mahdhah (puasa) dan ghairu mahdhah (nafkah keluarga) akan membawa keberkahan sepanjang tahun bagi kehidupan kita.
Ya Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, lapangkanlah rezeki halal bagi kami agar kami mampu membahagiakan keluarga kami. Jadikanlah rumah tangga kami penuh dengan keberkahan, rahmat, dan kedamaian, serta jauhkanlah kami dari kefakiran.
Hanya ini yang dapat khatib sampaikan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan bisa diaplikasikan di rumah tangga kita masing-masing.
Terima kasih atas perhatian jamaah, wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ceramah 4: Menghindari Kezaliman di Bulan Haram
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi ja'alal muharrama minasy syuhuril hurum, wa fadhdhalahu bi yaumi 'asyura. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuluh.
Marilah kita buka pertemuan ini dengan mengucapkan alhamdulillah sebagai wujud syukur kita kepada Allah Dzat Yang Maha Agung. Shalawat dan salam semoga tak terputus mengalir kepada penutup para nabi, Muhammad SAW, yang telah membawa risalah terang benderang.
Hadirin wal hadirat yang berbahagia, kalender Hijriah memiliki keunikan karena di dalamnya Allah menetapkan empat bulan yang dimuliakan (Asyhurul Hurum), yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Saat ini kita berada di bulan Muharram, bulan Allah yang sangat suci.
Status sebagai bulan haram menuntut kita untuk ekstra waspada terhadap tindak-tanduk dan ucapan kita. Terutama pada puncak kemuliaan bulan ini, yaitu tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura, di mana segala amal perbuatan dilipatgandakan bobotnya oleh Allah SWT.
Allah secara eksplisit melarang hamba-Nya untuk menzalimi diri sendiri maupun orang lain pada bulan-bulan haram ini. Larangan ini bukan berarti di bulan lain boleh berbuat zalim, namun dosa kezaliman di bulan Muharram nilainya jauh lebih berat.
Hal tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36:
"إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ... مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ"
yang terjemahannya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu."
Penjelasan mufassir mengenai ayat ini sangatlah tegas. Qatadah, seorang ulama tafsir generasi Tabi'in, menjelaskan bahwa berbuat zalim di bulan haram dosanya lebih besar dan lebih fatal dibandingkan kezaliman di bulan-bulan lainnya, sama halnya dengan amal saleh yang pahalanya dilipatgandakan.
Kezaliman memiliki banyak wajah. Meninggalkan shalat, memakan riba, dan berbuat maksiat adalah bentuk menzalimi diri sendiri. Sedangkan menggunjing, menipu, dan menyakiti tetangga adalah bentuk kezaliman terhadap orang lain yang kerap kita remehkan.
Oleh karenanya, di 10 Muharram ini, selain berpuasa, kita juga diwajibkan untuk menahan lisan dan tangan kita dari menyakiti makhluk Allah. Puasa Asyura kita akan sia-sia apabila di saat yang sama kita masih gemar menebar fitnah dan permusuhan.
Mari kita jadikan 10 Muharram sebagai zona damai, titik henti dari segala perselisihan. Mulailah saling memaafkan, menjaga kehormatan saudara kita, dan membersihkan hati dari dendam kesumat yang hanya menjadi beban pikiran.
Jadikanlah kemuliaan Muharram sebagai sarana latihan (training center) spiritual untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Jika kita berhasil menahan kezaliman di bulan ini, insya Allah kita akan terbiasa menjadi pribadi yang damai di sebelas bulan berikutnya.
Ya Allah yang Maha Adil, jauhkanlah kami dari sifat zalim, baik menzalimi diri sendiri maupun orang lain. Berikanlah kami kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu dan ampunilah kesalahan-kesalahan masa lalu yang merugikan orang-orang di sekitar kami.
Demikian tausiyah singkat yang dapat saya utarakan, semoga menjadi bahan renungan yang menyejukkan hati dan menjernihkan pikiran kita semua.
Mohon dimaafkan atas segala tutur kata yang keliru, wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ceramah 5: Hari Pintu Tobat Terbuka Lebar
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh. Wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina, mayyahdihillahu fala mudhillalah, wa mayyudhlil fala hadiyalah.
Puji dan syukur selalu menyertai helaan napas kita kepada Allah SWT, yang Rahmat-Nya selalu mendahului Murka-Nya. Shalawat dan salam rindu kita curahkan kepada panutan alam semesta, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta sahabat dan keluarganya.
Jamaah majelis ilmu yang dicintai Allah, setiap manusia pasti memiliki masa lalu yang kelam, tumpukan kesalahan, dan khilaf yang disengaja maupun tidak. Fitrah manusia adalah tempatnya salah dan lupa, namun sebaik-baik manusia yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.
Bulan Muharram, dan secara spesifik 10 Muharram (Asyura), tidak hanya dikenal sebagai waktu untuk berpuasa, tetapi juga diabadikan dalam sejarah sebagai momentum diturunkannya ampunan massal dari Allah untuk umat-umat terdahulu yang kembali kepada-Nya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Muharram adalah waktu yang sangat mustajab untuk bertaubat. Allah memberikan panggung khusus pada hari Asyura bagi siapa saja yang ingin mencuci bersih dosa-dosanya dengan tangisan penyesalan sejati.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat At-Tirmidzi:
"إِنْ كُنْتَ صَائِمًا شَهْرًا بَعْدَ رَمَضَانَ فَصُمْ الْمُحَرَّمَ فَإِنَّهُ شَهْرُ اللَّهِ فِيهِ يَوْمٌ تَابَ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ وَيَتُوبُ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ آخَرِينَ"
yang artinya: "Jika engkau ingin berpuasa satu bulan setelah Ramadhan, maka puasalah di bulan Muharram. Sesungguhnya ia adalah bulan Allah, di dalamnya terdapat suatu hari di mana Allah menerima tobat suatu kaum, dan menerima tobat kaum yang lain."
Penjelasan ulama mengenai hadits ini merujuk pada peristiwa tobatnya Nabi Adam AS setelah diturunkan dari surga, maupun tobatnya kaum Nabi Yunus AS, yang terjadi tepat pada tanggal 10 Muharram. Ini membuktikan bahwa pintu maghfirah di hari ini dibuka selebar-lebarnya.
Hal ini menyiratkan pesan mendalam agar kita tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun gunung dosa yang kita pikul, ampunan Allah di bulan Muharram jauh lebih luas dan lebih agung dari segala keburukan yang pernah kita perbuat di dunia ini.
Di hari Asyura ini, sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, merenung di sepertiga malam terakhir, dan mengakui segala kelemahan kita di hadapan Sang Pencipta. Menangislah atas dosa-dosa kita sebelum datangnya hari di mana tangisan darah tak lagi berguna.
Janganlah kita menunda-nunda tobat dengan dalih "nanti saja kalau sudah tua." Kematian tidak pernah menunggu usia senja. Oleh karena itu, jadikanlah 10 Muharram ini sebagai batas waktu perpisahan kita dengan maksiat yang sering kita rutinkan.
Mari kita ketuk pintu ampunan Allah hari ini dengan merendahkan hati serendah-rendahnya. Hadirkan penyesalan di dalam dada, dan berjanjilah untuk tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama di masa-masa mendatang.
Ya Rabb Yang Maha Pengampun, kami datang kepada-Mu dengan membawa lumuran dosa yang tak terhitung jumlahnya. Terimalah tobat kami pada hari Asyura ini sebagaimana Engkau menerima tobat para Nabi dan umat terdahulu, bersihkanlah jiwa kami sepenuhnya.
Sekian uraian hikmah tentang tobat di hari Asyura, semoga Allah melembutkan hati kita untuk senantiasa kembali ke jalan-Nya. Atas perhatian hadirin saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ceramah 6: Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wabihi nasta'inu 'alaa umuuriddunya waddiin. Ash-shalatu was-salamu 'alaa asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa 'alaa aalihi wa shahbihi ajma'in.
Sanjungan puji dan syukur senantiasa kita haturkan kepada Pemilik semesta alam, Allah SWT, atas limpahan berkah-Nya. Shalawat dan salam semoga abadi tercurah kepada utusan terakhir, Nabi Muhammad SAW, manusia yang paling menyayangi kaum dhuafa.
Hadirin jamaah rahimakumullah, merayakan 10 Muharram (Asyura) selalu identik dengan kegiatan-kegiatan berdimensi sosial yang tinggi di masyarakat Islam Nusantara. Salah satu tradisi baik yang telah mengakar kuat adalah mengusap kepala dan menyantuni anak-anak yatim.
Bulan Muharram acapkali disebut sebagai "Lebarannya Anak Yatim". Label ini tidak muncul tanpa alasan, melainkan berasal dari besarnya fadhilah membahagiakan anak yatim yang sangat dianjurkan oleh syariat, khususnya di hari-hari yang dimuliakan seperti Asyura.
Meskipun hadits spesifik yang menyebutkan kata Asyura dalam hal menyantuni anak yatim dinilai lemah oleh sebagian ulama muhadditsin, namun secara umum, dalil Al-Qur'an dan Sunnah shahih sangat memuliakan orang yang menanggung hidup anak yatim kapan pun waktunya.
Allah SWT berfirman secara tegas dalam Surah Al-Baqarah ayat 220 mengenai urusan anak yatim:
"وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ"
yang terjemahannya: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu."
Penjelasan ayat suci ini menginstruksikan umat Islam agar menjadikan anak yatim sebagai tanggung jawab bersama. Islah atau memperbaiki keadaan mereka mencakup pemenuhan kebutuhan pendidikan, sandang, pangan, serta kasih sayang yang hilang sejak kepergian ayah mereka.
Hari 10 Muharram sering dijadikan momentum pengingat atau "kick-off" kepedulian tersebut. Jika di hari Asyura saja kita enggan menyisihkan harta untuk mereka, bagaimana mungkin di hari-hari biasa kita mau peduli? Momentum ini menjadi cambuk bagi kekikiran hati kita.
Rasulullah SAW sendiri menjanjikan kedudukan yang sangat dekat dengan beliau di surga—bagaikan jari telunjuk dan jari tengah—bagi siapa saja yang menanggung hidup anak yatim. Betapa ruginya apabila kita melewatkan tiket ke surga ini karena terlalu mencintai harta.
Oleh karenanya, di 10 Muharram ini, mari kita luangkan waktu menengok ke panti asuhan atau mencari anak yatim di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Berikanlah santunan terbaik yang bisa menghadirkan senyum tulus di wajah-wajah lugu mereka.
Ingatlah bahwa harta yang kita infakkan untuk anak yatim tidak akan pernah mengurangi kekayaan kita sedikitpun, melainkan menjadi perisai dari api neraka. Jadikan kepedulian ini bukan sekadar tradisi tahunan di Muharram, tetapi menjadi kebiasaan rutin bulanan kita.
Ya Allah yang Maha Penyayang, karuniakanlah kepada kami kelembutan hati untuk selalu mencintai anak yatim dan fakir miskin. Berikanlah kami kemampuan rezeki agar dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu dalam merawat mereka yang lemah dan kehilangan sandaran.
Inilah penyampaian singkat mengenai keutamaan menyantuni yatim, semoga menggerakkan hati kita untuk segera beramal nyata.
Terima kasih atas segala keikhlasan jamaah mendengarkan, wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ceramah 7: Memaknai Hakikat Hijrah di 10 Muharram
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah, wash-shalatu was-salamu 'alaa rasulillah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa mawwaalah. Amma ba'du.
Tiada henti kita bersyukur ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan napas dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri di jalan-Nya. Shalawat dan salam sejahtera senantiasa kita tujukan kepada pemimpin para pahlawan, Nabi Muhammad SAW.
Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah, pergantian tahun baru Islam di bulan Muharram, dan puncaknya pada 10 Muharram, membawa ingatan kita pada peristiwa hijrah yang monumental. Hijrah bukan sekadar sejarah pergerakan fisik dari Mekkah ke Madinah semata.
Lebih jauh dari itu, hijrah adalah perubahan paradigma, perpindahan dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang baik, dari kegelapan kejahilan menuju cahaya hidayah. Tanggal 10 Muharram ini menjadi waktu yang sangat relevan untuk melakukan evaluasi hijrah spiritual kita.
Agama Islam menekankan bahwa kewajiban hijrah secara fisik ke Madinah telah selesai, namun hijrah secara maknawi akan terus diwajibkan hingga hari kiamat kelak. Hijrah maknawi inilah yang harus kita terapkan di zaman yang penuh tantangan dan fitnah ini.
Hal ini berlandaskan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
"وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ"
yang artinya: "Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah yang sebenarnya) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah SWT."
Penjelasan dari hadits shahih ini menyadarkan kita bahwa gelar "muhajir" bisa diraih oleh siapa saja di masa kini, asalkan ia mau dan mampu menundukkan hawa nafsunya. Meninggalkan kebiasaan ghibah, korupsi, judi online, dan pergaulan bebas adalah bentuk nyata dari hijrah masa kini.
Pada hari Asyura ini, saat kita sedang berpuasa menahan diri dari hal-hal yang mubah (seperti makan dan minum), seharusnya kita jauh lebih sanggup menahan diri dari hal-hal yang jelas diharamkan oleh Allah SWT. Ini adalah fondasi dari pemaknaan hijrah yang sejati.
Banyak orang merayakan tahun baru Hijriah, tetapi kehidupannya tidak ikut berhijrah; shalatnya masih bolong-bolong dan akhlaknya tidak berubah. Peringatan 10 Muharram menuntut bukti nyata dari kita, bukan sekadar perayaan seremonial atau ucapan status di media sosial.
Maka dari itu, jadikan hari yang mulia ini sebagai garis start untuk perubahan karakter yang positif. Mari kita buat komitmen di dalam hati masing-masing, dosa apa yang ingin kita tinggalkan selamanya, dan sunnah apa yang ingin kita mulai istiqamahkan hari ini.
Semoga semangat Asyura memberikan kita energi tak terbatas untuk terus berhijrah memperbaiki kualitas ketakwaan. Jangan lelah untuk menjadi lebih baik, karena Allah selalu melihat proses hamba-Nya yang berjuang keras mencari jalan terang.
Ya Allah Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami dalam proses berhijrah ini. Berilah kami keberanian untuk meninggalkan segala keburukan, dan hiasilah sisa umur kami dengan amal shalih dan ketaatan yang sempurna kepada-Mu.
Akhir kata, saya cukupkan tausiyah ini sampai di sini, semoga menjadi pengingat yang menghujam ke dalam sanubari kita sekalian. Mohon dimaafkan atas segala tutur bahasa yang kurang berkenan.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Pertanyaan Seputar Ceramah 10 Muharram
10 Muharram identik dengan apa?
10 Muharram identik dengan Hari Asyura, yang dikenal sebagai hari penuh sejarah dan ibadah dalam Islam.
Disunnahkan apa saja pada tanggal 10 Muharram?
Dengan demikian dapat kita rangkum amalan 10 Muharram sesuai sunnah yaitu sebagai berikut.Puasa.Sholat.Menyambung tali silaturahmi.Berziarah kepada para ulama.Menjenguk orang yang sedang sakit.Memakai celak mata.Mengusap kepala dan menyantuni anak yatim.Bersedekah.
Apa 4 larangan di bulan Muharram?
Umat Islam dilarang melakukan segala bentuk kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Bentuknya dapat berupa kemaksiatan, fitnah, ghibah, mengabaikan kewajiban agama, hingga berbagai tindakan yang merugikan hak dan kepentingan sesama.
Siapa yang terbunuh pada tanggal 10 Muharram?
Setelah menolak untuk mematuhinya, Yazid memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Husain pada hari ke-10 bulan pertama kalender Islam (Muharram). Hari ini dikenal sebagai Hari Asyura.
Mengapa 10 Muharram disebut lebaran anak yatim?
Tanggal 10 Muharram disebut sebagai "Lebaran Anak Yatim" atau Idul Yatama di Indonesia karena pada hari tersebut umat Islam dianjurkan untuk menyantuni, membahagiakan, dan menyayangi anak yatim secara lebih istimewa sebagai perwujudan dari ajaran Rasulullah SAW.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4889994/original/071009200_1720767600-pexels-zeynep-sude-emek-193601188-20785719.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263683/original/_Disabilitas__Landis__PPIH_Arab_Saudi__Rika_Novianti_mengatakan__tim_Landis_memiliki_tugas_memantau_terhadap_jemaah_haji_kategori_risiko_tinggi_yang_membutuhkan_bantuan_dalam_aktivitas_sehari-hari.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4749999/original/079429500_1708587393-masjid-pogung-raya-owQ3N7FZgIM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262410/original/082401200_1781787644-Pelaksana_Lansia_dan_Disabilitas__Landis__melakukan_pelayanan_terhadap_jemaah_haji_Indonesia.__dok._Landis_Sektor_5_PPIH_Daker_Makkah____.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261804/original/081472700_1781758365-Pelaksana_Lansia_dan_Disabilitas__Landis__melakukan_pelayanan_terhadap_jemaah_haji_Indonesia.__dok._Landis_Sektor_5_PPIH_Daker_Makkah___.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/842877/original/009596200_1428044283-Jenazah-Mpok-Nori-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102800/original/012961600_1737448281-1737446419683_arti-doa-tidur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429248/original/019447900_1618459697-pexels-michael-burrows-7129429.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4270292/original/089440700_1671764205-masjid-pogung-dalangan-DdMZbKFFbaU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863406/original/036872700_1718344791-21918.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4104097/original/098258700_1658996611-islami1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5258672/original/007662100_1750394658-18b4e792-fa49-48cf-b166-455eb3a3b632.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3187901/original/087360700_1595477323-courtyard-kalyan-mosque-sunset-bukhara-uzbekistan_196911-7.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5263253/original/068977400_1750812433-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__10_.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509210/original/054924500_1771663566-Koleksi_dari_Zaskia_Mecca.jpg)

