6 Ayat Al-Quran tentang Keutamaan Bersedekah di Jalan Allah, Simak Penjelasannya

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Sedekah menjadi amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Fadhilah bersedekah ditegaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis. Ayat Al-Quran tentang keutamaan bersedekah di jalan Allah mengajarkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial.

Sedekah bukan sekadar ibadah yang mendatangkan pahala, tetapi juga menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan, mengurangi kesenjangan sosial, serta mempererat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.

Secara bahasa, kata sedekah berasal dari shadaqa yang berarti kebenaran atau kejujuran. Makna tersebut menunjukkan bahwa sedekah merupakan bukti nyata keimanan dan ketulusan seseorang kepada Allah SWT.

Dalam ajaran Islam, sedekah tidak terbatas pada pemberian harta. Setiap bentuk kebaikan, seperti mengucapkan kata-kata yang baik, memberikan senyuman, membantu orang lain, hingga melakukan berbagai amal sosial yang bermanfaat juga termasuk sedekah.

Karena itu, memahami ayat-ayat Al-Qur'an tentang sedekah secara menyeluruh sangatlah penting. Al-Qur'an dan Hadis sebagai pedoman hidup umat Islam banyak menjelaskan tentang perintah, anjuran, serta keutamaan bersedekah.

Merangkum berbagai literatur, berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an tentang keutamaan sedekah di jalan Allah SWT.

1. QS. Al-Baqarah (2): 261

Arab: مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa besarnya pahala orang yang berinfak di jalan Allah. Allah SWT mengumpamakan infak yang dikeluarkan di jalan-Nya seperti sebutir benih yang ditanam di tanah yang subur, kemudian tumbuh menjadi tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Dengan demikian, totalnya menjadi tujuh ratus kali lipat.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah dorongan kuat untuk bersedekah di jalan Allah, karena pahala yang diberikan tidak hanya setara dengan apa yang dikeluarkan, tetapi berlipat ganda sesuai kehendak-Nya. Dalam riwayat yang disebutkan, ketika ayat ini turun, Rasulullah SAW memohon kepada Allah, "Ya Tuhanku, tambahlah balasan itu bagi umatku (lebih dari 700 kali)". Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui siapa yang berhak menerima lipatan pahala tersebut.

2. QS. Al-Baqarah (2): 262

Arab: ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّا وَلَآ أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Menurut Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an), ayat ini mengandung dua dimensi penting: dimensi lahir dan batin. Dimensi lahir adalah tindakan memberi harta, sedangkan dimensi batin adalah niat dan sikap hati.

Bila seseorang memberi dengan niat yang salah, misalnya agar dipuji atau dihormati, maka nilai batinnya rusak walaupun secara lahir terlihat berbuat baik. Para ulama tafsir menegaskan bahwa nilai suatu amal tergantung pada keikhlasan pelakunya.

Ibnu Katsir juga menafsirkan bahwa ungkapan "mereka tidak takut dan tidak bersedih hati" mengandung dua makna penting. Pertama, orang yang ikhlas tidak takut miskin karena yakin bahwa rezeki berasal dari Allah dan tidak akan berkurang hanya karena bersedekah.

Kedua, mereka tidak bersedih atas apa yang telah diberikan karena percaya bahwa apa yang keluar dari tangannya akan kembali dalam bentuk pahala dan keberkahan. As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa orang yang ikhlas memberi akan merasakan ketenangan karena yakin rezekinya tidak berkurang.

3. QS. Al-Baqarah (2): 271

Arab: إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: "Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pemahaman bahwa apa yang manusia infakkan atau sedekahkan, baik itu didasari oleh keikhlasan atau karena riya', sesungguhnya Allah mengetahuinya dan pasti akan memberi balasan sesuai dengan perbuatannya.

Pemberian sedekah kepada fakir secara terang-terangan sah-sah saja selagi tidak ada perasaan riya di dalamnya. Namun jika dilakukan secara diam-diam, maka itu lebih baik untuk menghindari riya dan agar si fakir yang menerima tidak merasa rendah dan hina dari pandangan orang lain.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menegaskan bahwa sedekah yang dilakukan secara terang-terangan adalah perbuatan yang baik, tetapi jika dilakukan secara diam-diam dan diberikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik karena tidak dikhawatirkan menimbulkan riya, dan bagi yang menerima juga tidak malu. Namun, jika tujuan dilakukan secara terang-terangan adalah supaya jejaknya diikuti oleh orang lain, maka apa yang ia lakukan itu lebih afdhal (utama).

4. QS. Al-Baqarah (2): 274

Arab: ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Ath-Thabari (Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an) menafsirkan bahwa ayat ini menggambarkan orang beriman yang berinfak secara terus-menerus, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, tanpa membedakan waktu dan situasi. Ath-Thabari menekankan bahwa ungkapan "di malam dan siang hari, secara sembunyi maupun terang-terangan" adalah simbol ketulusan hati dan keikhlasan niat. Mereka tidak mencari pujian manusia, melainkan hanya mengharap ridha Allah.

Sementara itu, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat ini memiliki dimensi moral yang dalam. Sedekah bukan sekadar pengeluaran harta, tetapi cerminan jiwa yang ikhlas dan sadar akan amanah sosial.

Menafkahkan harta siang dan malam menandakan kontinuitas dan kesungguhan, sedangkan memberi secara sembunyi atau terang menunjukkan kebebasan dari riya. Orang seperti ini akan tenang hatinya, karena pahala mereka dijamin di sisi Allah dan mereka tidak akan diliputi rasa takut maupun sedih.

5. QS. Al-Baqarah (2): 195

Arab: وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib dan Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah berinfak dan larangan menjerumuskan diri dalam kesusahan.

Abu Bakar Al-Jazairi dalam Aisarut Tafasir menambahkan bahwa ayat ini merupakan perintah dari Allah kepada orang-orang beriman untuk berinfak dengan harta mereka sebagai sarana berjihad di jalan Allah, baik untuk mempersiapkan sarana berperang maupun untuk membebaskan kaum muslimin yang tengah tertawan.

Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tahlukah (menjerumuskan diri dalam kerusakan) memiliki dua potensi: pertama, meninggalkan perintah yang berakibat rusaknya badan atau ruh seperti meninggalkan jihad atau infak; kedua, mengerjakan sesuatu yang dapat mengantarkan manusia pada kerusakan.

6. QS. Al-Baqarah (2): 245

Arab: مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: "Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah? Dia akan melipatgandakan (pembayaran atas pinjaman itu) baginya berkali-kali lipat. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki). Kepada-Nyalah kamu dikembalikan."

Dalam Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan bahwa barang siapa mau meminjami atau menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan pinjaman yang baik berupa harta yang halal disertai niat yang ikhlas, maka Allah SWT akan melipatgandakan ganti atau balasan kepadanya dengan balasan yang banyak dan berlipat.

Allah menamakannya pinjaman padahal Dia sendiri Mahakaya, karena Allah mengetahui bahwa dorongan untuk mengeluarkan harta bagi kemaslahatan umat itu sangat lemah pada sebagian besar manusia.

Keutamaan Bersedekah di Jalan Allah

Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran di atas dan didukung oleh Hadis-hadis Nabi SAW, terdapat beberapa keutamaan bersedekah di jalan Allah:

1. Pahala Berlipat Ganda

Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah di jalan-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261, Allah memberikan perumpamaan bahwa sedekah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, setiap tangkai berisi seratus biji, sehingga totalnya menjadi 700 kali lipat. Bahkan, Allah dapat melipatgandakannya lebih dari itu sesuai dengan kehendak-Nya.

2. Mendekatkan Diri kepada Allah

Sedekah merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah (9): 99, orang-orang Arab Badui yang beriman memandang apa yang diinfakkannya di jalan Allah sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin terjaga rezeki dan hartanya.

3. Penghapus Dosa dan Pembersih Harta

Sedekah berfungsi sebagai penghapus dosa dan pembersih harta. Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api" (HR. Tirmidzi). Dalam QS. Al-Baqarah ayat 271, Allah berfirman bahwa sedekah dapat menghapuskan sebagian kesalahan-kesalahan. Sedekah juga membersihkan harta dari hak orang lain yang mungkin terambil tanpa sengaja.

4. Pelindung di Hari Kiamat

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan di antara manusia" (HR. Al-Baihqi). Dalam hadis lain disebutkan bahwa sedekah dapat menjauhkan seseorang dari api neraka, meskipun hanya dengan sedekah yang kecil seperti sebutir kurma.

5. Menolak Bala dan Menyembuhkan Penyakit

Sedekah juga berfungsi sebagai penolak bala dan obat bagi penyakit. Rasulullah SAW bersabda, "Peliharalah harta kamu dengan zakat, obatilah penyakitmu dengan sedekah, dan tolaklah bala dengan doa" (HR. Ath-Thabrani). Harta yang dimakan dari hasil yang halal dan bersih dari hak orang lain akan menjaga pemberinya dari penyakit dan bala.

6. Menambah Rezeki dan Keberkahan

Bertolak belakang dengan anggapan bahwa sedekah mengurangi harta, justru sedekah akan menambah rezeki dan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, "Harta tidak akan berkurang karena sedekah" (HR. Muslim). Dalam QS. Al-Baqarah ayat 245, Allah menjanjikan pelipatgandaan yang berkali-kali lipat bagi orang yang memberi pinjaman yang baik kepada Allah.

7. Memperkuat Solidaritas Sosial

Sedekah memperkuat ikatan antar manusia, terutama dengan kalangan yang kurang mampu. Sedekah membantu menghapus sifat kikir dan egois, membersihkan harta, serta mengurangi kemarahan Tuhan. Orang yang bersedekah senantiasa didoakan oleh kedua malaikat sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim.

Hikmah Sedekah dalam Perspektif Al-Qur'an

1. Membersihkan Jiwa dari Sifat Kikir dan Cinta Dunia

Sedekah melatih seseorang untuk tidak terikat dengan harta dunia dan membersihkan jiwa dari keserakahan. Dengan menafkahkan sebagian harta, seseorang mensucikan diri dari cinta berlebihan terhadap dunia dan menegaskan kepercayaannya bahwa rezeki sejati datang dari Allah.

2. Mewujudkan Keadilan Sosial dan Mengurangi Kesenjangan

Sedekah berfungsi sebagai instrumen untuk mempersempit jarak antara si kaya dan si miskin, menciptakan keseimbangan sosial, dan mengurangi kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. Melalui sedekah, hak orang miskin yang ada dalam harta orang kaya dapat ditunaikan.

3. Mendapatkan Ketenangan Batin dan Kebahagiaan

Orang yang ikhlas bersedekah akan merasakan ketenangan batin karena yakin bahwa rezekinya tidak akan berkurang. Sebaliknya, orang yang memberi dengan pamrih akan gelisah karena hatinya berharap balasan dunia. Ketenangan ini merupakan bagian dari pahala yang Allah berikan di dunia sebelum di akhirat.

4. Menjadi Investasi Akhirat yang Abadi

Sedekah merupakan investasi akhirat yang tidak akan pernah hilang. Pahala sedekah akan terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia, terutama jika sedekah tersebut termasuk sedekah jariyah seperti membangun masjid, memberikan air bersih, atau mewakafkan tanah.

5. Menumbuhkan Empati dan Kepedulian Sosial

Sedekah menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Dengan bersedekah, seseorang belajar untuk merasakan penderitaan orang lain dan tergerak untuk membantu. Hal ini menciptakan masyarakat yang saling menolong dan memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah.

Pertanyaan Seputar Keutamaan Bersedekah

1. Apa keutamaan bersedekah di jalan Allah menurut Al-Quran?

Keutamaan bersedekah di jalan Allah sangat besar, di antaranya pahala dilipatgandakan hingga 700 kali lipat atau lebih (QS. Al-Baqarah: 261), penghapus dosa (QS. Al-Baqarah: 271), mendekatkan diri kepada Allah (QS. At-Taubah: 99), dan menjadi pelindung di hari kiamat.

2. Apa perbedaan sedekah secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan?

Sedekah secara terang-terangan diperbolehkan dan merupakan perbuatan baik, terutama jika bertujuan memberikan teladan kepada orang lain. Namun sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama karena lebih menjaga keikhlasan dan menghindarkan dari riya, serta menjaga kehormatan penerima (QS. Al-Baqarah: 271).

3. Bagaimana tafsir Ibnu Katsir tentang QS. Al-Baqarah ayat 261?

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menafsirkan ayat ini sebagai perumpamaan bahwa infak di jalan Allah seperti sebutir benih yang menghasilkan 700 biji. Ini adalah dorongan kuat untuk bersedekah karena pahala yang diberikan berlipat ganda sesuai kehendak Allah.

4. Apakah sedekah bisa mengurangi harta?

Tidak, sedekah justru tidak akan mengurangi harta. Rasulullah SAW bersabda, "Harta tidak akan berkurang karena sedekah" (HR. Muslim). Allah menjanjikan penggantian dan pelipatgandaan rezeki bagi orang yang bersedekah (QS. Al-Baqarah: 245).

5. Apa saja yang termasuk sedekah selain harta?

Sedekah mencakup segala bentuk kebaikan, tidak terbatas pada harta. Termasuk sedekah adalah senyuman, perkataan yang baik, membantu orang lain, menyingkirkan gangguan di jalan, memberi nafkah kepada keluarga, dan bahkan berzikir (HR. Muslim).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |