Apakah Dosa Dilipatgandakan Selama Bulan Ramadan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya

4 hours ago 1

Bulan Ramadan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan Ramadan dalam banyak hadis. Di antaranya riwayat Muslim:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain disebutkan bahwa ketika Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Semua dalil ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah waktu yang sangat mulia, di mana pahala kebaikan dilipatgandakan.

Namun bagaimana dengan dosa?

Apakah Dosa Dilipatgandakan Selama Bulan Ramadhan?

Menjawab pertanyaan apakah dosa dilipatgandakan selama bulan ramadan? para ulama memiliki penjelasan yang cukup rinci. Secara umum, ada dua pandangan utama dalam masalah ini.

1. Pendapat yang Menyatakan Dosa Dilipatgandakan

Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa juga dilipatgandakan pada waktu dan tempat yang mulia, termasuk bulan Ramadan.

Dalam kitab Mathalib Ulin Nuha (2/385), Musthafa bin Saad Al-Hambali menyatakan:

“Kebaikan dan keburukan (dosa) dilipatgandakan pada tempat yang mulia seperti Mekkah, Madinah, Baitul Maqdis dan di masjid. Pada waktu yang mulia seperti hari Jumat, bulan-bulan haram dan Ramadan.”

Ibnu Muflih dalam Al-Adabus Syar’iyyah juga membuat bab khusus tentang “Tambahan dosa sebagaimana tambahan pahala pada waktu dan tempat yang mulia.”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:

“Karena bulan Ramadan memiliki kedudukan yang mulia dan pahala ketaatan apabila dilakukan pada saat itu besar dan dilipatgandakan, demikian juga dosa maksiat, lebih dahsyat dan lebih besar dosanya dibandingkan pada bulan lainnya.”

Pendapat ini diperkuat oleh pemahaman terhadap firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 36 tentang bulan-bulan haram:

“Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.”

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika Allah mengagungkan suatu waktu atau tempat, maka pelanggaran di dalamnya menjadi lebih berat. Ia juga mencontohkan Surah Al-Ahzab ayat 30 tentang istri-istri Nabi yang jika berbuat dosa, maka azabnya dilipatgandakan karena kedudukan mereka yang mulia.

Dalam konteks ini, pelipatgandaan dosa dipahami sebagai bertambah beratnya konsekuensi dan kualitas hukuman, bukan sekadar angka yang berlipat.

2. Pendapat yang Menyatakan Dosa Tidak Dilipatgandakan dalam Jumlah

Sebagian ulama lain, seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam (2/317), menjelaskan bahwa dosa tidak dilipatgandakan secara kuantitas.

Dalil yang mereka gunakan adalah Surah Al-An’am ayat 160:

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa satu dosa tetap dicatat sebagai satu dosa. Namun para ulama menjelaskan bahwa yang bertambah adalah kualitas dan tingkat keparahannya.

Musthafa bin Saad Al-Hambali menjelaskan bahwa maksud pelipatgandaan dosa menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud adalah pelipatgandaan dalam kualitas (kaifiyah), bukan kuantitas (kamiyah). Artinya, dosanya menjadi lebih besar dan lebih berat akibatnya, bukan dicatat sebagai dua atau sepuluh dosa.

Dengan kata lain, satu maksiat di bulan Ramadan tetap satu maksiat, tetapi tingkat keburukannya di sisi Allah lebih berat dibandingkan jika dilakukan di bulan biasa.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |